Puluhan Homestay Dibangun, Wisata Pulau Mendanau Menggeliat

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 12 Desember 2017 16:56 WIB | Diupdate pada 12 Desember 2017 17:04 WIB


BACA PETA --  Tim Geopark dan Marine Park Bangka Belitung sedang membaca peta setiba di Pelabuhan Tanjung Nyato Pulau Mendanau, Minggu.  Tim ini terdiri dari peneliti dari Universitas Bangka Belitung (UBB) dan Dinas Pariwisata Bangka Belitung. Tim UBB beranggotakan Prof  Agus Hartoko, Eddy Jajang Jaya Atmaja, Ghiri Basuki, Irvani dan  Aris Dwi Setiadi.  Tim Dinas Pariwisata Babel dipimpin oleh Firmansyah.

MENDANAU, UBB --  Geliat  wisata di Pulau Mendanau Belitung terasa kental. Itu tidak hanya nampak dari aktifnya Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan infrastruktur jalan  di pulau seluas 133,50 Km persegi ini.  Tapi hadirnya lebih dari sepuluh homestay (tempat inap) di pulau itu, menandai kesiapan Mendanau dan warganya  menerima wisatawan.

Tim ekspedisi Geopark dan Marine Park Bangka Belitung (Babel) yang beranggotakan   peneliti dari Universitas Bangka Belitung (UBB) dan Dinas Pariwisata Babel, seharian penuh, Minggu (10/12/2017), menyelusuri Pulau Mendanau,  ‘menangkap’ kesan warga Mendanau siap menerima wisatawan.

“Pulau Mendanau terletak di Selat Gaspar, cantik dan eksotis.  Di sejumlah desa, terutama di Desa Suak Gual,  dengan mudah kita  menemukan rumah penduduk yang sekaligus berfungsi sebagai homestay,” ujar Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc, ketua ekspedisi Geopark dan Marine Park Babel,  Selasa (12/12/2017) siang.

Santi (31), warga Desa Suak Gual Pulau Mendanau Kecamatan Selat Nasik,  Minggu (10/12/2017) petang, mengemukakan di Desa Suak Gual saja telah beroperasi  sepuluh homestay;  seluruhnya dikelola oleh warga setempat.

”Tarif inap per malam untuk seorang wisatawan Rp 120.000.  Biaya itu sudah termasuk makan pagi dan semua fasilitas yang ada di homestay,” ujar Santi yang dikenal warga Pulau Mendanau sebagai penyanyi Keroncong Stambul Pajar.

Pendapat senada dikemukakan Yopi Ardi (20).  Aktivis Pokdarwis Pulau Mendanau ini mengemukakan sejumlah wisatawan dari Perancis pernah datang,  dan menginap di Pulau Mendanau, setelah lebih dahulu menikmati objek wisata yang ada di daratan Pulau Belitung.

“Kami biasanya dihubungi agen perjalanan di Belitung untuk menerima kunjungan wisatawan luar negeri ke Pulau Mendanau.  Mereka pun kami jemput di Pelabuhan Tanjung Nyato,”  terang Yopi.

Berwisata di Pulau Mendanau punya kesan berbeda dengan pulau besar Belitong. Kesan pertama yang tak terlupakan adalah menikmati pemandangan laut lepas dan pulau-pulau sebelum tiba di Pulau Mendanau.  Sebab  ke pulau ini  wisatawan harus menumpang kapal motor ukuran 5 GT (Gross Ton), baik dari Pelabuhan Tanjungpandan maupun dari Pelabuhan Tanjung Ru’.

Kesan kedua, setiba di Pelabuhan Tanjung Nyato di Pulau Mendanau wisatawan disungguhan air laut yang jernih dan vegetasi mangrove yang lebat,  dengan aneka flora dan fauna yang menawan.

Suasana sepi dan udara pulau yang segar (kaya oksigen) karena hutan hujan yang padat, membuat wisatawan merasa berada di tempat yang asing namun menyenangkan.

Wisatawan pun akan menikmati jalan aspal yang mulus membelah pulau hingga ke semua  desa yang ada di Mendanau.  

Destinasi wisata di Mendanau beragam.  Mulai dari hutan hujan yang padat, pantai berpasir putih, bebatuan granit unik, hingga budaya yang eksotis, seperti Tari Campak Laut dan Darat, Muang Jong dan ritual Maras Taun serta makam Nek Bongkok keturunan Si Pahit Lidah.

“Kami juga selalu siap menghibur wisatawan dengan aneka lagu pantun lama, yang disajikan grup  Keroncong Stambul Fajar Pengekar Campo,” kata Santi.

Wisatawan ke Pulau Mendanau selalu dibawa ke Pelabuhan Tanah Tambun.   Di sekitar dermaga terhampar keramba apung ikan krapu dan puluhan kapal serta  perahu nelayan yang tersusun rapi bak susun sirih.

Setelah itu wisatawan dibawa ke Desa Suak Gual untuk melihat makam Nek Bongkok dan  sumur ‘abadi’ berair tawar jernih, dan dibawa ke Pulau Piling -- di depan Desa Suak Gual.

“Di Pulau Piling itu tempatnya burung laut bersarang, batu dinding dan tempat berenang dan  menyelam yang cantik,” ujar Santi, menambahkan biasanya wisatawan asing selalu minta dibawa ke Pulau Piling.

Pulau Mendanau  berada di Kecamatan Selat Nasik—satu dari lima kecamatan di Kabupaten Belitung,  sekitar 50 Km sebelah Barat Kota Tanjungpandan.  Kecamatan Selat Nasik berbatasan dengan  Laut Natuna, sebelah Barat dengan Selat Gaspar, di sebelah Timur dengan Kecamatan Badau dan sebelah Selatan dengan Laut Jawa.

Wilayah Kecamatan Selat Nasik merupakan kepulauan; terdiri dari 26 pulau besar dan kecil.  Kecematan ini terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Mendanau dan Pulau Gersik.  Di Pulau Mendanau terdapat  tiga desa,  yaitu Desa Selat Nasik (ibukota kecamatan), Desa Petaling dan Desa Suak Gual. Sementara Desa Pulau Gresik berada di Pulai Gresik, Pulau Bakau dan Kelambau.

Tiga desa di Pulau Mendanau leluasa ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat.  Sebab  seluruh jalan sangat mulus dan dibangun  dengan aspal hotmik.  Jarak Desa Selat Nasik ke Desa Petaling sekitar 8 km,  sementara jarak Desa Selat Nasik ke Suak Gual 16 km,  ditempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan bermotor.

Untuk sampai ke Pulau Mendanau, harus menumpang kapal motor; baik dari Pelabuhan Tanjungpandan maupun dari Tanjung Ru’. 

Biasanya,  pada musim Barat yang berombak besar,  wisatawan atau warga setempat lebih memilih berangkat dari Pelabuhan  Tang Ru’ karena berjarak lebih dekat dengan Pulau Mendanau.

“Kalau musim Barat, kami menumpang kapal dari Pelabuhan Tanjung Ru’.  Sebaliknya bila musim Timur, kami ke Pulau Mendanau menumpang kapal motor dari Pelabuhan Tanjungpandan. ‘Tambang’ (ongkos)-nyan per orang Rp 25.000,” ujar Santi.

Mengunjungi Pulau Mendanau wisatawan tak perlu khawatir putus hubungan dengan dunia luar.  Sebab  sudah banyak  BTS dibangun di sini sehingga sinyal ‘smartphone’ sangat tinggi; memudahkan mengakses atau bahkan  mengirim data dan gambar (Eddy Jajang Jaya Atmaja)  


Topik

Kampus_Terpadu_UBB