Kapal Dinasti Ming Tenggelam di Pantai Batu Bedaun Pulau Lepar

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 19 Desember 2017 08:24 WIB | Diupdate pada 19 Desember 2017 08:41 WIB


LOKASI TENGGELAM --   Di seputar perairan Pantai Batu Bedauan di Pulau Lepar inilah, kapal Dinasti Ming tenggelam. Tampak dalam gambar Prof. Agus Hartoko sedang mengabadikan pantai tersebut.

PULAU LEPAR, UBB --   Nelayan Pulau Lepar, Bangka Selatan, melaporkan  menemukan kapal Cina kuno  yang tenggelam  di perairan Batu Bedaun, tak jauh dari Pantai Lampu. Kapal yang membawa gerabah dan keramik ini diperkirakan  tenggelam ratusan tahun lalu, kala Zaman Dinasti Ming.

Hadad, guru SMAN 1 Lepar, mengemukakan kapal Cina kuno itu ditemukan nelayan ketika hendak memasang bubu dan menyelam pada kedalaman laut lima meter.  Di lokasi ini  tergeletak kapal kuno yang bermuatan gerabah, keramik,  mangkok dan teko.

“Penemuan bangkai kapal kuno Cina itu terjadi pada tahun 2007.  Ada beberapa keramik dan gerabah yang bisa diangkat, selebihnya muatan barang  kapal masih utuh karena sulit diselam karena berair keruh dan arus deras!,” ujar Hadad dalam acara sosialisasi Geopark dan Marine Park Bangka Belitung di Balai Pertemuan Camat Lepar Pongok (Lepong), Jumat kemarin.

Hadad mengatakan pada keramik  dan porselen yang sempat dibawa ke darat  terdapat gambar gajah  dan burung Hong serta tulisan Cina tahun 1800-an.  Berdasarkan penilaian kalangan yang ahli, lanjut Hadah,  benda kuno itu diperkirakan berasal dari zaman Dinasti Ming.  

Mendengar informasi ini, Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc yang memberikan sosialisasi Geopark dan Marine Park mengatakan BMKT (barang muatan kapal tenggelam) harus tetap dijaga, bahkan akan punya nilai strategis dan ekonomis bila lokasi kapal tenggelam itu dijadikan museum.

“Kalau dijadikan museum tentu akan menambah  jumlah destinasi wisata di Pulau Lepar. Museum kapal tenggelam itu tentu menjadi daya tarik wisatawan ke Pulau Lepar,” tukas Agus Hartoko.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat  Lepong Dodi Kesumah mengemukakan temuan kapal kuno Cina itu sudah diketahui pihaknya, bahkan para camat sebelum ini.  Terdapat kesepakatan lokasi kapal tenggelam ini akan dijadikan museum.

“Betul, berdasarkan kesepakatan pejabat terdahulu memang lokasi kapal tenggelam akan dijadikan lokasi,” tegas Dodi Kesumah.

Pulau Lepar merupakan satu dari 27 pulau-pulau kecil yang berada di wilayah administratif Kabupaten Bangka Selatan (Basel).  Pulau ini terletak pada 20 57’00’’ LS- 106048’36’’ BT,   dengan  luas 169.313 km2  dan topografi  berbentuk datar dan berbukit-bukit.

Pulau Lepar juga tercatat sebagai satu dari lima pulau (dari 27 pulau seluruhnya)  yang berpenghuni. Ke lima pulau itu adalah Pulau Lepar, Pulau Panjang, Pulau Tinggi, Pulau Kelapan dan Pulau Pongok.

Lepar merupakan bagian dari Kecamatan Lepar Pongok (Lepong).  Ibukota Lepong di Desa Tanjunglabu yang terletak di Pulau Lepar.  Di pulau ini terdapat empat desa, yaitu Tanjunglabu, Tanjung Sangkar, Kumbung dan Penutuk.  

Pulau Lepar termasuk pulau yang strategis.  Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Natuna, Utara berbatasan Selat Gaspar, Selatan dengan Laut Jawa dan Barat berbatasan dengan Selat Lepar.

Nanang (27), salah seorang aktivis Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) menjelaskan perairan di  Pulau Lepar menjadi lalulintas kapal-kapal nasional dan internasional.  Sehingga memungkinkan pada masa lalu banyak kapal dari berbagai negara karam di perairan ini.

“Salah satunya yaitu kapal kuno Cina itu,” ujar Nanang menunjukk lokasi kapal tenggelam di Pantai Lampu.  Di tempat ini kolonial Belanda mendirikan rumah dan  mercusuar untuk memandu kapal-kapal  ketika melayari perairan ini.

“Sayang mercusuar peninggalan kolonial Belanda sudah runtuh dan tidak ada lagi.  Tapi kalau rumah Belanda masih ada, kendati  beberapa bagian dari dinding dan atapnya sudah hancur,” ujar Nanang.

Pada bagian belakang rumah Belanda terdapat bungkahan dinding rumah dan ribuan pecahan genteng.  Menariknya, terdapat tulisan “Batavia” pada bagian genteng yang pecah.  Ini menandai bahwa genteng terbuat dari tanah liat itu pada masanya diproduksi dan dibawa dari Batavia (sekarang Jakarta) ke Pulau Lepar.

Maulana (49), nakhoda Kapal ‘Junjung Besaoh’ menjelaskan warga Pulau Lepar dan Pongok masa lalu memang kerap berlayar ke Jakarta. Mereka mengunakan kapal ukuran besar untuk membawa hasil bumi dan ikan, kemudian   dijual di Betawi.  Sekembali ke Lepar dan Pongon mereka  membawa kebutuhan pokok seperti gula, beras dan lain-lain.    

“Sekarang hanya pedagang  ikan yang kerap ke Jakarta. Mereka menjual hasil laut tangkapan nelayan ke ibukota.  Jarak Pulau Lepar dan Pongok ke Jakara, ya sekitar delapan jam pelayaran,” ujar Maulana  (Eddy Jajang Jaya Atmaja)


Topik

Kampus_Terpadu_UBB