Optimalkan Potensi Daerah Untuk Mendorong Pertumbuhan Perekonomian Di Babel

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 21 Desember 2017 16:38 WIB | Diupdate pada 21 Desember 2017 16:38 WIB


PANGKALAN BARU, UBB -- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bangka Belitung (UBB), menggelar seminar nasional investasi, pariwisata dan lada dengan tema "Transformasi Perekonomian Babel Guna Mengoptimalkan Potensi dan Akselarasi Investasi" sekaligus Soft Opening Babel Fair 2017 di Novotel Hotel & Convention Hall Bangka, Pangkalan Baru, Bangka Tengah,  Kamis (7/12/2017).

“Seminar yang dilaksanakan secara paralel dalam dua hari (7-8/12), merupakan salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh Bank Indonesia dalam rangka ulang tahun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang ke-17 tahun 2017,” papar Nanang Wakyudin, sekretaris LPPM UBB sekaligus panitia acara.

 

Dikatakan oleh Nanang Wakyudin, dalam seminar ini, ada tiga tema yang akan kita angkat yang terbagi dalam tiga sesi. Seminar investasi mengangkat tema Transformasi Perekonomian Bangka Belitung: Mengoptimalkan Potensi dan Mengakselerasi Investasi, seminar pariwisata dengan tema Optimalisasi Sektor Pariwisata dan Integrasi Peran Masyarakat dalam Mengembangkan Potensi Wisata Lokal, dan Transformasi Jalur Distribusi, serta seminar lada yang akan membahas soal Pola Pembiayaan, Sistem Resi Gudang Syariah dan Pola Pembiayaan Masyarakat dalam Pengembangan Komoditas Lada.

“Banyak hal yang akan kita bahas di seminar-seminar tersebut, seperti potenski investasi dan potensi perkembangan sektor pariwisata di Kepulauan Bangka Belitung, serta potensi lada di provinsi ini di masa yang akan datang,” pungkas Nanang Wakyudin.

Seminar investasi yang merupakan salah satu dari rangkaian seminar ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus pemateri Yan Megawandi. Selain itu, hadir pula Handri Adiwilaga dari Departemen Ekonomi dan Militer BI, Reza Valdo Maspaitella dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat, serta ekonom nasional Avilliani, dimoderasi langsung oleh Reniati, Dekan Fakultas Ekonomi (FE) UBB.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan ketiga tahun 2017 membaik. Membaiknya pertumbuhan ekonomi disertai struktur yang lebih berimbang seiring meningkatnya ekspor dan investasi serta tetap terjaganya konsumsi. Salah satu contohnya investasi bangunan dan non bangunan pertumbuhannya mengalami peningkatan,” ungkap Handri Adiwilaga dalam penyampaiannya.

Sementara itu, Yan Megawandi dalam pemaparannya menyampaikan beberapa potensi investasi yang dimiliki oleh Kepulauan Bangka Belitung, di antaranya di sektor kelautan dan perikanan, perkebunan dan kehutanan, pariwisata dan pertambangan.

“Dalam sektor pariwisata misalnya, bahkan daerah ini sudah ditetapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata kala itu sebagai destinasi wisata setelah Bali dan Lombok,” tambah Yan Megawandi.

Hal yang tak jauh berbeda juga disampaikan oleh Reza Valdo Maspaitella, tetapi dalam konteks yang lebih luas yakni Indonesia secara umum. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi untuk investasi, seperti di bidang perikanan. Lebih lanjut dikatakannya, dengan luas wilayah kelautan hingga 5,8 juta km2, Indonesia dikenal sebagai produsen utama perikanan dunia.

Pada pemaparan terakhir, ekonom nasional Avilliani lebih fokus pada potensi investasi yang dimiliki Kepulauan Bangka Belitung, salah satu yang bisa ditonjolkan menurutnya adalah agrowisata. Menurutnya, untuk meningkatkan wisatawan, maka perlu peran pemerintah dalam pengelolaan sarana penunjang pariwisata.

“Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan wisatawan, salah satunya dengan melihat trend yang sedang berkembang sekarang. Dalam upaya peningkatan investasi diperlukan regulasi yang jelas,opportunity yang ada, serta perlu adanya kolaborasi dengan daerah lain,” papar ekonom nasional, Avilliani.

Setelah seminar investasi, kegiatan dilanjutkan dengan seminar lada yang mengangkagt tema Transformasi Jalur Distribusi, Pola Pembiayaan, Sistem Resi Gudang Syariah dan Pola Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Komoditas Lada. Hadir sebagai pemateri akademisi UBB Yudi Sapta Pranoto, Toni H.A. Batubara dari Dinas Pertanian Kepulauan Bangka Belitung, Zaenal dari Asosiasi Eksportir Lada Indonesia, dan Sukardi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan,dimoderasi oleh Syahril Sahidir.

Setelah seminar investasi dan lada di hari pertama, Bank Indoneia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bangka Belitung (UBB) melanjutkan kegiatan serupa bertemakan pariwisata di hari kedua, bertempat di Novotel Bangka Hotel & Conference, Jum’at (8/12). Mengangkat tema Optimalisasi Sektor Pariwisata dan Integrasi Peran Masyarakat Dalam Mengembangkan Potensi Wisata Lokal, seminar kali ini menghadirkan beberapa ahli pariwisata nasional, yakni Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda, Ketua Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta Doto Yugantoro, dan praktisi pariwisata Raymond Timotius Lesmana, dipandu oleh wartawan nasional Elba Damhuri.

M. Yanuarto Barmuda, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menyampaikan ada beberapa isu strategis yang dulu dihadapi oleh banyuwangi dalam pengembangan pariwisata, di antaranya tidak fokus  menjadikan  pariwisata sebagai produk & masuk dalam unggulan APBD, birokrasi tidak mengalami perubahan cepat sesuai keinginan rakyat & cenderung ego sektoral SKPD, minimnya atraksi wisata utk menjadi daya tarik wisata, minimnya jumlah obyek wisata yang dikembangkan dan paket-paket wisata, dan masih banyak lagi.

“Paling tidak, ada empat kunci dalam meningkatkan kinerja pariwisata, yakni aksesibilitas, amenitas, atraksi, dan yang tidak kalah penting adalah komitmen,” tambahnya.

Sementara itu, Doto Yogontoro, Ketua Desa Wisata Pentingsari Yogyakarta, menceritakan bagaimana perjuangan mereka menjadi Pentingsari sebagai desa wisata. Pentingsari awalnya hanya sebuah desa biasa dengan akses susah, sehingga tingkat kehidupan ekonomi dan pendapatan rendah. Beraneka sumberdaya alam yang melimpah tapi kurang dihargai. Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, Pentingsari mampu bertransformasi menjadi desa wisata seperti sekarang. Menurutnya, desa wisata mampu menjaga kearifan lokal dan berkelanjutan di era digital.

Sedangkan praktisi pariwisata Raymond Timotius Lesmana dalam pemaparannya yang berjudul Masyarakat Sebagai Local Host Dalam Pengembangan Wisata Bahari (Yacht) mengatakan, dengan sekalipun lebih dari 70% masyarakat Indonesia tinggal di pesisir mata pencaharian nelayan, petani dan pedagang, bagi masyarakat indonesia umumnya laut bukan primadona pemikiran & pantai adalah zona abu-abu yang tidak tau harus dibagaimanakan.

“Bali yang dinyatakan sebagai ibukota pariwisata Indonesia pun belum menjadikan wisata layar sebagai salah satu primadona wisata baharinya. Bangka Belitung ini memiliki potensi yang bagus, namun perlu dipahami dan diadakan survei lebih dalam perihal potensi wisata bahari di provinsi ini,” pungkasnya. (red/Darwance)


Topik

Kampus_Terpadu_UBB