Kartu Pengenal Dosen, Pegawai dan Mahasiswa UBB Baru, Dapat Digunakan Transaksi Bukan Tunai

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 22 Januari 2018 14:06 WIB | Diupdate pada 23 Januari 2018 10:31 WIB


KARTU PENGENAL BARU --  Wakil Rektor II UBB Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (kanan) didampingi Kepala  BRI Cabang Pangkalpinang dan Bangka Adrian menyerahkan kartu pengenal baru dosen dan tenaga kependidikan UBB di Ruang Rapat Besar Rektorat UBB, Senin (22/01/2018) pagi.

MERAWANG, UBB  --   Universitas Bangka Belitung (UBB)   kembali  menorehkan inovasi baru.   Baik kartu identitas dosen, tenaga kependidikan maupun  mahasiswanya serba digitalisasi.   Kartu ini multifungsi. Selain sebagai kartu pengenal, juga bisa menjadi alat transaksi non tunai (cashless).     

 Senin (22/01/2018) pagi  kartu pengenal  baru  nan ‘sakti’ itu secara simbolis diserahkan Wakil Rektor II UBB Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc  kepada perwakilan dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa di Ruang Rapat Besar Rektorat UBB, Balunijuk, Merawang.

“Ini merupakan  inovasi nyata dan  bagian dari sejumlah upaya untuk meningkatkan efisiensi pelayanan di bidang keuangan dan akademis.  Inovasi ini  juga  boleh dibilang sebagai  bukti kongkret UBB dalam mendukung Gerakkan Nasional Non Tunai,” ujar Agus Hartoko dalam acara yang dihadiri Kepala Cabang BRI Pangkalinang dan Bangka Ardian Hendri Prasetyo.

Kartu dengan  co-branding (desain khusus) antara UBB dan BRI ini dibagikan kepada 323 dosen dan tenaga kependidikan dan sekitar 5.000 mahasiswa UBB.   Sebagai e-money, penggunaan kartu ini dicanangkan dalam Grand Launching Gerakkan Nasional Non Tunai: Goes to UBB,  September 2017.

Kartu pengenal dosen dan pegawai UBB memiliki keistimewaan.  Disamping di desain unik  seukuran kartu ATM,  kartu ini merupakan debit BRI yang sekaligus sebagai uang elektronik;  pengganti uang tunai yang berfungsi sebagai alat pembayaran.

“Pemilik kartu pegawai UBB tidak perlu membawa uang tunai untuk tujuan transaksi.  Cukup dengan kartu ini, transaksi bisa dilakukan.  Ini bagian dari upaya UBB mendukung kampanye cashless transaction (transaksi tanpa uang tunai) yang kini digencar digulirkan  Bank Indonesia,” ujar Agus Hartoko.

Sepintas kartu pegawi UBB ini mirip kartu pengenal lainnya.  Ada logo lembaga,  foto dan nomor registrasi kepegawaian pemiliknya.  Tapi di dalam kartu warna biru (warna resmi UBB) yang  ber-list (garis) kuning di bagian atasnya terdapat seluruh data diri empunya kartu.

Keistimewaan lainnya  adalah ianya  dapat beralih fungsi sebagai kartu ATM; siap digesek dan atau  ‘mengeluarkan’ uang tunai di anjungan mandiri.  Untuk ini pemilik kartu yang punya kartu ATM harus lebih dahulu melaporkan ke bank dan memindahkan uangnya ke kartu pegawai tersebut.

“Kartu ini dapat diisi ulang melalui mobile BRI, internet BRI, ATM BRI, atau ATM bank lain berlogo Link ATM Bersama, atau unit kerja Bank BRI yang menggunakan kartu Debet BRI,” terang Agus Hartoko, Wakil Rektor Bidang Keuangan.

“Di Indonesia, belum seluruh PTN (perguruan tinggi negeri) pegawainya (dosen dan tenaga kependidikan)  menggunakan kartu ini. Ini merupakan salah satu pencapaian yang telah dilakukan dan diraih  UBB .  Insyaallah UBB tidak kalah dengan universitas-universitas lainnya di Indonesia,” tukas Agus Hartoko.

Sementara mengenai  kartu mahasiswa UBB baru, Agus menyebutkan berfungsi sebagaimana  kartu Brizzi.  Kartu ini  memudahkan mahasiswa dalam pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT),  dan dapat menjadi alat pembayaran uang bukan tunai (non tunai) di sejumlah toko, kantin dan tempat pembayaran  yang tercatat sebagai  anggota merchand (pedagang) bank.

Kepala Cabang BRI Pangkalpinang dan Bangka Ardian Hendri Prasetyo mengemukakan, kartu Brizzi  yang dikenal sebagai ‘uang plastik’,  dapat digunakan untuk berbagai keperluan  antara lain  membayar uang Tol (retribusi menggunakan jalan tol).

“Untuk kartu mahasiswa UBB yang baru ini, pemiliknya bisa mencek saldo  Brizzi-nya  pada layar telepon genggamnya.   Semua sudah serba canggih. Melalui  era digitalisasi saat ini,  apapun bisa dilakukan dan memberikan  kemudahan,” ujar Andrian.

Transaksi bukan tunai menurut Adrian bukan semata bertujuan meraih kemudahan dan keamanan belaka saja.  Tapi tujuan makronya adalah ikut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.  Bilamana   bunga perbankan murah maka dunia usaha tidak akan  ragu-ragu menggunakan dana perbankan.       

“Bunga perbankan akan turun  kalau seluruh biaya yang ada di dalam perbankan pun turun.  Perlu diketahui bahwa  SDM (sumberdaya manusia) yang ada di perbankan perlu biaya, termasuk pelatihan SDM itu perlu biaya. Bahkan untuk mencetak uang pun ada cost (biaya)-nya.  BRI terus berupaya menurunkan biaya.  Di antaranya ATM akan dipindahkan ke agen-agen BRI karena elemen  ATM  impor,  membutuhkan biaya dolar AS,” kata Adrian (Eddy Jajang Jaya Atmaja)


Topik

Kampus_Terpadu_UBB