Serius Bentuk Badan Pengelola Marine Geopark Babel, Pemprov Bentuk Tim Percepatan

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 23 Maret 2018 18:12 WIB | Diupdate pada 23 Maret 2018 18:12 WIB


FOTO BERSAMA --   Tim Percepatan Pembentukan Badan Pengelola Marine Geopark  Bangka Belitung  berfoto bersama seusai rapat bersama di Kantor Dinas EDSM Babel, Kompleks Kantor Gubenur, Air Itam,  Jumat (23/03/2018).  Rapat itu dihadiri Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc,  Kabid Geologi dan Air Tanah  Dinas ESDM Babel Agus Setio Rini ST MM, Kepala UBB Press Eddy Jajang  Jaya Atmaja, Kepala UPT TIK UBB Ghiri Basuki,   Ismono Hadi (Bappeda Pemprov Babel),  Andi Namandang (Biro Hukum Pemprov Babel) dan Evina Puri Utami ST  (Dinas ESDM Pemprov Babel).

PANGKALPINANG, UBB  --   Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel)  sangat  serius dalam mengelola dan mengorek  potensi marine geopark yang ada  di daerah ini.   Keseriusan itu  ditandai dengan pemprov  membentuk  tim percepatan lintas OPD (organisasi perangkat daerah) dan instansi  terkait guna menyiapkan Badan Pengelola Marine Geopark Babel.

“Tim percepatan  itu beranggotakan personel dari sejumlah OPD  di Pemprov Kepulauan  Babel dan Universitas Bangka Belitung .  Masa tugasnya  selama tiga bulan,  menghantar terbentuknya Badan Pengelola Marine Geopark Babel!,” ujar  Kabid Geologi dan Air Tanah  Dinas ESDM Babel Agus Setio Rini ST MM dalam rapat terbatas dihadiri  Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc, Kepala UBB Press Eddy Jajang  J Atmaja, Kepala UPT TIK UBB Ghiri Basuki,   Ismono Hadi (Bappeda Pemprov Babel),  Andi Namandang (Biro Hukum Pemprov Babel) dan Evina Puri Utami ST  (Dinas ESDM Pemprov Babel), di Kantor ESDM, Jumat (23/03/2018).

Menilai Badan Pengelola Marine Geopark yang hendak dibentuk,  Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc  mengusul  hendaknya organisasi itu  merupakan  perpaduan antara  OPD dengan  intansi terkait (antara lain UBB) di wilayah Bangka Belitung.  Fungsi koordinasinya  berada pada   Bappeda Babel.

Dalam kegiatannya  lanjut Agus Hartoko,   Badan Pengelola Marine Geopark nanti akan  melibatkan masyarakat, komunitas dan  perangkat desa.  Sehingga hasil  dari  pengelolaan marine geopark  akan langsung dirasakan dan dinikmati  warga masyarakat  setempat.

Agus Hartoko mencontohkan  apa yang telah dilakukan  UBB  di Desa Tukak Sadai, Bangka Selatan,  untuk memanfaatkan hutan mangrove di sana  menjadi wisata alam dan edukasi serta menghasilkan sirop dari tanaman mangrove.

“Tentu penelitian dan pemberdayaan masyarakat kita lakukan bersama.  UBB sebelum ini pernah  melakukan hal ini di Pulau Begadung, Bangka Tengah  dan Tuing Kabupaten Bangka.  Bedanya pengelolaan geosite Pulau Begadung diserahkan pemiliknya kepada UBB,” tukas Agus Hartoko.

Guru besar di bidang kelautan dan perikanan ini mengemukakan,  marine geopark merupakan suatu yang konsep baru; yaitu  menggabungkan aspek marine dan geopark,   sehingga aspek dan ragam keunikan yang ‘digali’ lebih kaya.

“Hampir di semua lokasi marine geopark di daerah ini punya keunikan sendiri.  Karena itu saya menilai hendaknya cakupan atau  wilayah operasi Badan Pengelola Marine Geopark  itu mencakup Pulau Bangka dan Belitung,” ujar Agus Hartoko.

Pekan lalu Agus Hartoko didampingi Ketua UBB Press Eddy Jajang J Atmaja dan Kepala TIK UBB Ghiri Basuki Hartoko  memaparkan  mengenai marine dan geopark di Babel  di Ruang Tanjungpendam Kantor Pemrov Kepulauan Babel, Air Itam-Pangkalpinang.

Dalam paparan yang dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Babel Rivai dan staf,  Agus menjelaskan perkembangan survei dan penelitian UBB satu tahun terakhir.  Di antaranya  sejumlah lokasi marine geopark  yang memiliki nilai global di Tuing (Bangka),  Pulau Begadung (Bangka Tengah),  Situs Kota Kapur (Bangka) serta  hamparan pulau  -- baik  di Bangka Selatan maupun di  Pulau Mendanau, Belitung,--  dan  beberapa  lokasi barang muatan kapal tenggelam (BMKT) di Selat Gaspar.

Gubernur Bangka Belitung Dr Erzaldi Rosman Djohan  mengaku terkesima dengan fakta banyak dan tersebarnya potensi marine-geopark di provinsi kepulauan ini.  Untuk menjadikannya  sebagai suatu produk dan destinasi wisata yang bernilai jual  tinggi,  gubernur memerintahkan jajarannya  segera membentuk sebuah lembaga bernama Badan Pengelola Marine Geopark Bangka Belitung.   

“Saya minta langkah-langkah untuk menggali  semua  potensi marine geopark  lebih dahulu didiskusikan dengan Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (Wakil Rektor II UBB).   Termasuk tim yang akan  terlibat  di dalam badan itu,  pun silakan koordinasi dengan  Prof Agus!,” tegas Erzaldi di tengah-tengah paparan  Prof Agus Hartoko.

Tuing menurut catatan  Agus memiliki nilai kekhasan sendiri.   Selain di sini  terhampar  formasi batuan dalam posisi miring sebagai  dampak dari  proses geologis dari dasar laut (geological up-life), juga hidup flora dan fauna endemik dan komunitas warga masyarakat Tionghoa dan Suku Lum.

“Formasi batuan di sana berasal dari dasar laut yang didorong atau suatu desakan dari bawah  ke atas permukaan. Peristiwa ini dikenal sebagai  geological up-life.     Fenomena geologis ini satu-satunya ada di Indonesia,” ujar Agus Hartoko.

Sementara di lahan marginal (kurang unsur hara) dan berpasir yang ada di Tuing,  lanjut Agus Hartoko  tumbuh subur beberapa jenis anggrek, antara lain jenis  Hoya. Anggrek endemik itu sangat indah dan punya nilai jual tinggi.

“Pulau Begadung pun sangat menarik bagi tipe wisatawan explore atau penjelajah. Di sisi terhampar batuan betamorf; batuan unik dan warna menarik yang berasal dari dasar laut. Lokasi penyu bertelur, jajaran gua di tebing pulau sebagai habitat burung walet, vegetasi bakau tua, perairan untuk snorkling dan diving serta lokasi kapal tenggelam,” tukas Agus Hartoko.

 Sementara situs Kota Kapur yang merupakan satu dari enam  prasasti menandai keberadaan  Kerajaan Sriwijaya Abad ke 7, memiliki nilai sejarah berskala internasional.  Di sini terekam cerita masuknya armada perahu Sriwijaya dari pantai ke sungai Kota Kapur, serta serpihan perahu itu yang terkubur di sana.  

“Situs Kota Kapur masih belum banyak dilihat atau dikaji  dari aspek marine anthropology.  Atau belum dilihat dari satu kesatuan yang utuh.  Padahal sebagaimana kita tahu peradaban atau lokasi kerajaan masa lalu berada di tepian sungai atau laut,” terang Agus Hartoko.

Mendengar paparan menggunakan media slide power point yang berisi foto, peta, grafis dan data spasial sebanyak 100 halaman,  Gubernur Erzaldi Rosman Djohan mengaku terkesima atas fakta banyak dan beragamnya potensi marine geopark di Bangka Belitung.

“Apa yang barusan dijelaskan oleh Prof Agus Hartoko ini menarik sekali.  Kita minta UBB masuk ke dalam SK (surat keputusan) saya.  Melalui paparan ini kita semakin tahu betapa besar dan banyaknya  marine geopark di tempat kita ini.  Karena itu mengapa kita harus  menggunakan pakar dari universitas lain; bekerjasama saja dengan UBB.  Tolong bikin surat untuk  tim Profesor Agus ini,” ujar Erzaldi kepada Kepala Dinas Pariwisata Babel Rivai.

Sementara dalam penjelasannya di Kantor Dinas ESDM Babel, Agus menegaskan perlunya semua lokasi yang menjadi bagian dari marine geopark  hendaknya dilindungi secara hukum.  Ia menyebutkan satu contoh bagus yaitu hutan mangrove  di Desa Tukak Sadai telah dilindungi oleh peraturan desa (perdes).

“Jangan sampai tiba-tiba  lokasi yang punya keunikan di wilayah marine  geopark  berubah fungsi menjadi kebun sawit atau tambang timah.  Tentu hal itu akan mengganggu keasrian geosite atau keunikan lainnya  di sana,” ujar Agus Hartoko (Eddy Jajang Jaya Atmaja, Ari Riski)


Topik

Prof_Dr_Ir_Agus_Hartoko_MSc Geopark