Bupati Bangka Tarmizi Nilai Mahasiswa Aset Bangsa

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 13 Juli 2018 13:00 WIB | Diupdate pada 13 Juli 2018 13:00 WIB


KENAKAN BAJU KKN – Bupati Bangka Tarmizi H Saat (kanan) mengenakan baju KKN UBB Angkatan ke 13 yang diberikan oleh  Wakil Rektor I UBB Ismed Inonu (kiri) pada acara serahterima 208 mahasiswa KKN UBB di wilayah Kabupaten Bangka,  di halaman Pemkab Bangka, Sungailiat, Kamis (12/07/2018) pagi.

KOTA KAPUR, UBB --  Bupati Bangka Tarmizi H Saat menantang kalangan mahasiswa untuk mengkritisi semua kebijakan dan program yang dilaksanakan Pemkab Bangka. Bahkan, ia mengaku  tak keberatan sekalipun didemo, asalkan untuk kepentingan memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan dari pemkab kepada masyarakat.

Berbicara ketika menerima  208 mahasiswa KKN UBB Angkatan ke 13, dan puluhan mahasiswa Universitas 11 Maret, Surakarta,  yang akan melaksanakan KKN di Kabupaten Bangka, Kamis (12/07/2018) pagi, Tarmizi mengingatkan salah satu  tugas mahasiswa selaku intelektual muda adalah mengkritisi program dan kebijakan pemerintah daerah.

“Tugas kalian itu mengkontrol kebijakan-kebijakan (pemerintah) provinsi dan kabupaten.  Mana yang kurang, tunjukkan!  Tak usah takut pada gubernur, atau bupati sekalipun. Semua sama, kalau  makan nasi ‘kan cuma sepiring. Itu semua untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujar  Tarmizi bersemangat di depan halaman Pemkab Bangka, Sungailiat.  

Hadir dalam acara ini Wakil Rektor I UBB Ismed Inonu, Dekan Fakultas Hukum UBB Syamsul Hadi, semua dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN UBB  untuk tujuh desa di Kabupaten Bangka, staf Bupati Bangka,  wakil dari pimpinan Universitas 11 Maret Surakarta, dan para undangan.

Menurut Tarmizi,  dalam kepemimpinannya selaku kepala daerah  yang terbuka, ia menilai segala bentuk koreksi,  masukkan dan langkah-langkah serta mengkritisi  semua kebijakan dan program yang diluncurkan, adalah sesuatu yang positif.  Bahkan terkandung niat baik untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan pemkab kepada masyarakat.

“Demikian pula  dalam bentuk demo (demontrasi).   Sudah saya tunggu-tunggu selama empat tahun terakhir ini, tapi tidak ada demo.  Sejauh ini,  kami (pemkab) telah menerima 18 perguruan tinggi.  Dialog, diskusi, FGD (focus group discussion) amat  penting untuk menyempurnakan kebijakan dan program dari pemkab,” tukas Tarmizi.

Pada sisi  lain efek dari kritik, atau  demo sekalipun,  menurut Tarmizi menjadi pemantik agar para staf dan pegawai Pemkab Bangka bekerja lebih baik, dan kemudian  memberikan pelayanan lebih bagus ketimbang sebelumnya.   Ia memtamzilkan hal itu sebagai katak rebus dalam bejana yang perlu disiram  dengan air panas,  sehingga dapat meloncat jauh.

Kepada mahasiswa yang selama 40 hari KKN di Kabupaten Bangka, Tarmizi minta agar dapat membantu kerja-kerja pemerintah desa (pemdes) masing-masing lokasi KKN. Seperti pekerjaan membuat perencanaan dan pelaporan keuangan dan sebagainya.

Tarmizi  menceritakan pengalaman dirinya dulu ketika menjadi mahasiswa selama tiga bulan  melaksanakan KKN di   Jawa Tengah. Katanya, saat itu mahasiswa sudah sangat siap memberikan masukkan kepada masyarakat petani.  Sebab sebelum KKN dilaksanakan mereka sudah tiga kali mengikuti praktik kerja lapangan (PKL).

“Kami dulu KKN selama tiga bulan.  Sebelum KKN, harus mengikuti tiga PKL, sehingga sudah sangat ‘mumpuni’ di lepas kemanapun.   Salah satu bentuk PKL kala itu adalah teknik mencangkul.  Usai KKN barulah kami melakukan penelitian akhir,” tukas Tarmizi.

Tarmizi mafhum perilaku mahasiswa.  Misalnya bangun pagi kesiangan.  Ia mengingatkan mahasiswa KKN untuk disiplin waktu bangun pagi. Sebab Sang Pencipta menaburkan banyak rejeki dikala pagi hari.  Kebanyakan orang yang bangun siang, lanjutnya,  umumnya  miskin dari sisi ekonomi.

“Dunia saat ini sarat dengan kompetisi.  Bangun lah selalu pagi hari, lalu bekerja.  Karena umumnya orang yang bangun siang itu miskin,” tegas Tarmizi.

Pada bagian lain pidatonya, Bupati Bangka ini memberikan masukkan kepada Universitas Bangka Belitung (UBB).  Dalam konteks persaingan antarperguruan tinggi, menurut Tarmizi UBB harus punya unggulan sendiri.  Tidak boleh sama dengan perguruan tinggi lainnya.

“Kalau bersaing dengan UGM, atau Unsri, perlu waktu panjang.  UBB harus ada bidang yang menjadi unggulannya.  Misalnya keahlian di bidang pengelolaan lahan kritis.   Nah, orang atau sarjana yang ingin mempelajari bidang itu, ia harus datang dan belajar ke UBB,” ujar Tarmizi.

Meski kalah dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) belum lama ini, Tarmizi mengaku tak kecewa.  Ia merasa puas atas dirinya selaku Bupati Bangka Tengah sejauh ini telah berhasil menerima 70 penghargaan tingkat nasional dari pemerintah pusat dan instansi lainnya.

Satu di antaranya berupa aplikasi Simpanan Cantik.  Akronim dari (Program) Sistem Pelayanan Cepat Akurat dan Tepat Medik.  Aplikasi milik RSUD Depati Bahrain Kabupaten Bangka ini masuk dalam daftar Top 99 inovasi terbaik di Indonesia.

“Aplikasi pelayanan kesehatan ini sudah masuk 40 besar terbaik, yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.  Saya tak kecewa walau kalah dalam pilkada,” tukas Tarmizi.

Melalui Aplikasi Simpanan Cantik pasien tidak perlu antre berobat ke RSUD Bangka.  Bahkan dengan sistem Android, penyakit serta obat diketahui dan bisa diberikan oleh dokter yang telah terdaftaar dalam sistem Simpanan Cantik.

Usai menandangani  berita acara 208 mahasiswa KKN UBB Angkatan ke 13,  Bupati Bangka Tarmizi H Saat mengenakan atribut KKN UBB (baju dan topi rimba) yang diserahkan oleh Warek I Ismet Inonu.  Usai acara ini semua pejabat Pemkab, Warek 1 Ismet dan Dekan Fakultas Hukum UBB Syamsul Hadi serta wakil dari Universitas 11 Maret Surakarta berfoto bersama (Eddy Jajang J Atmaja/Ari Riski)


Topik

KKN_UBB Dr._Ir._Ismed_Inonu,_M.Sc. Wakil_Rektor_I_UBB