Hasilkan Tepung Sagu, Ibu-ibu Desa Tumbuk Lubang Teras Rumbia

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 19 Juli 2018 09:09 WIB | Diupdate pada 20 Juli 2018 09:14 WIB


TEPUNG SAGU --  Mahasiswa KKN UBB Desa Kota Kapur dari   Kelompok Sosbud  membantu ibu-ibu Desa  Kapur  dan Labuh menumbuk teras pohon rumbia.   Kegiatan ini dilakukan  untuk menghasilkan tepung sagu.   Gambar diambil di Kampung Jawa, Desa Kota Kapur. 

KOTA KAPUR, UBB -- Warga Kota Kapur,  Labuh dan sekitarnya akrab dengan lingkungan.  Mereka tidak saja menjaga tanaman langka yang masih ada.  Tapi   lebih dari itu, mereka   mengolahnya menjadi  bahan makanan keperluan warga.  Teknik pengolahannya pun masih mempertahankan kebiasaan lama dari pendahulunya.

“Untuk menghasilkan tepung sagu salah satu contohnya. Warga, terutama ibu-ibu di Kota Kapur, Labuh dan desa sekitarnya,  mengolah teras batang rumbia.  Caranya dengan  menumbuk teras batang mengunakan ‘lesung’ dan alat tumbuk lain  terbuat dari kayu,” ujar  Zahratul Huda,  Ketua Kelompok Sosbud  KKN UBB Kota Kapur,  Kamis (19/07/2018) pagi.

Sebanyak 37 mahasiswa KKN UBB Angkatan ke 13 di Kota Kapur,  selama 40 hari KKN  menggelar berbagai program.  Mereka terbagi dalam  lima kelompok kerja. Yaitu Kelompok Ekonomi, Kelompok Pertanian Perikanan dan Kelautan, Kelompok Pemetaan dan Pertambangan, Kelompok  Informasi Pariwisata, dan Kelompok Sosial Budaya.

Kelompok Sosbud  yang  beranggotakan Zahratul Huda (Jurusan Sosiologi), Nurhasidah (Agribisnis), Aristian Jordi (Sosiologi), dan  Novia Putri (Teknik Elektro), mempunyai sejumlah program kerja.  Di antaranya melakukan pencatatan dan pemotretan (inventarisasi)   ragam budaya yang hidup di Kota Kapur, baik berupa budaya benda maupun budaya tak benda.

“Tim Sosbud  ‘bekerja’ dari pagi hingga petang.  Bahkan tak jarang  mereka menemui narasumber (pegiat) sosial-budaya pada malam hari,” ujar Rio Saputra, Ketua Kolompok KKN UBB di Kota Kapur,  Kamis pagi.

Kota Kapur dengan luas sekitar 150 hektar dan dihuni penududuk 2000 jiwa, tidak semuanya berupa  daratan  bertanah kering.  Desa yang diyakini sudah ada  pada  abad ke tujuh masehi itu, sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Mendo,  Selatan dengan Penagan, Barat  dengan Selat Bangka dan sebelah Timur dengan kawasan rawa yang luas,  banyak tumbuh pohon sagu (Metroxylon sp).

Untuk mendapatkan tepung sagu,  warga menebang  pohon  rumbia (sagu) yang sudah tua.  Rebahan pohon sagu digeletakkan di tempat datar, kemudian dibuat semacam ‘lubang’.  Teras batang (empulur) itu ditumbuk beramai-ramai menggunakan bilah kayu keras.

“Pekerjaan ini biasa dilakukan ibu-ibu diwaktu pagi hari.  Teras batang sagu ditumbuk hingga berubah ukuran menjadi kecil.  Kemudian mereka bawa ke rumah,  direndam selama dua hingga tiga hari, diperas  hingga ada endapan berupa tepung sagu,” jelas Zahratul Huda.

Selanjutnya endapan tepung sagu basah itu dijemur  beberapa hari, hingga menghasilkan tepung sagu kering. Beda dengan tepung tapioka, tepung sagu rumbia memiliki tekstur yang cukup lembut.   Jika pegang teras kesat, bila dimasak teksturnya akan mengental seperti lem.

“Warna tepung sagu itu menarik;  merah. Kearifan lokal ini kami temukan di Kampung  Jawa. Rebahan pohon sagu ditumbuk oleh empat ibu-ibu.  Tiga dari Kampung Jawa, satu orang lagi dari desa sebelah, yaitu Desa Penagan,” cerita Zahratul.      

  Menariknya,  pukul 11, ibu-ibu itu menghentikan pekerjaanya menumbuk teras pohon sagu.  Usai istirahat mereka beralih kepekerjaan lain.

“Tepung sagu itu tidak mereka jual.  Melainkan di masak menjadi bubur, atau menjadi bahan membuat kue,”  ujar Zahratul, seraya menceritakan mereka bertemu ibu Fatimah, salah seorang dari empat ibu-ibu pengolah tepung sagu, ketika hendak mengantar surat ke SD 29 dan SD 30.

“Ibu Fatimah mengundang kami untuk mencoba menumbuk teras batang rumbia. Beliau baik orangnya, dan minta kami selalu mendapinginya bekerja setiap pagi hari,” jelas Zahratul.

Tim Sosbud KKN UBB mengikirm surat kepada  penanggungjawab sekolah dasar di Kota Kapur, untuk melaksanakan program penguatan warisan budaya setempat.  Yaitu dalam bentuk melatih siswa dan siswi SD di sana menarikan tari dambus.

“Program kami itu mendapat aprasisasi kepala sekolah dan guru.  Siswa yang dilatih tari dambus akan kami lombakan pada acara tujuhbelas agustusan,” kata Zahratul (Eddy Jajang J Atmaja, Ari Riski)


Topik

KKN_UBB