Mahasiswa KKN UBB Petakan Desa Bersejarah Kota Kapur

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 07 Agustus 2018 18:42 WIB | Diupdate pada 07 Agustus 2018 18:42 WIB


FOTO BERSAMA --  Mahasiswa KKN UBB Angkatan ke 13 di Desa Kota Kapur berfoto di Pulau Medang, setelah mengambil kordinat dan data untuk pembuatan peta menggunakan GPS.

KOTA KAPUR, UBB --  Mahasiswa  KKN Universitas Bangka Belitung (UBB) ‘menemukan’  artefak tinggalan Kedatuan Sriwijaya yang diduga merupakan tempat pemandian raja  di area  situs Kota Kapur, Mendo Barat, Bangka.   

Artefak  itu ‘ditemukan’ secara tidak sengaja  oleh  enam  mahasiswa KKN UBB  Angkatan ke 13,  yang tengah  pengambil  titik kordinat menggunakan  GPS (global positioning System)  dalam rangkaian  pembuatan peta Desa Kota Kapur. 

“Batu  itu berdiameter kurang lebih satu meter,    berada di seputar  Candi 2; masih dalam area situs.  Batu itu bagian  dari reruntuhan  candi.   Kami lalu  konfirmasi dengan   juru pelihara situs,  Pak Ali namanya,” ujar Aulia, anggota tim pemetaan KKN UBB, Selasa (07/08/2018) petang. 

Keinginantahuan tim pemetaan KKN UBB itu membuahkan informasi penting.  Terungkap bahwa di bawah batu itu dulunya merupakan tempat pemandian keluarga raja semasa kedatuan Sriwijaya.

 “Batu  itu merupakan bagian dari reruntuhan  candi.  Dulunya bagian dari proses eskavasi. Kemudian  ditimbun kembali untuk menjaga kesejarahannya,” tukas Aulia. 

Dugaan bahwa lokasi di bawah batu merupakan  pemandian keluarga raja,  diperkuat dengan  adanya aliran air atau pengairan khusus. 

Situs Kota Kapur dikenal luas dengan ditemukannya prasasti  ‘persumpahan’ tertulis  Kedatuan Sriwijaya pada tahun 1892.  Penemunya  JK Van der Muelen, seorang pamong praja Belanda di distrik Sungaiselan.

Prasasti menggunakan aksara Pallawa  berbahasa Melayu Kuno itu   berbentuk segi enam (heksagonal) berupa Lingga.   Prasasti ini merupakan satu dari enam prasasti yang menandai bukti  adanya Kedatuan Sriwijaya.

Sedangkan alas prasasti berupa Yoni ditemukan pada tahun 1978 oleh salah seorang penduduk Desa Kota Kapur.  Yoni saat ini masih berada di Kota Kapur.  Sementara Lingga disimpan di  Museum Nasional Jakarta.

Enam mahasiswa KKN UBB , yaitu Marudut, Aulia, Rizki Aulia, Pangki, Ervan dan Indra,  melakukan pemetaan Desa Kota Kapur, sejak 29 Juli hingga 4 Agustus 2018.

Mereka melakukan pemetaan hingga ke lokasi Pulau Medang, Hantu dan Pulau Kecil; yang masih merupakan wilayah Desa Kota Kapur.

Objek pemetaan  mereka berada di areal seluas 1.800 hektar.  Antara lain mencakup lokasi Candi 1, Candi 2, Candi 3, Benteng Tanah (lokasi situs 160 hektar), dermaga kuno, dermaga nelayan, fasilitas umum, perkebunan dan gua  yang ada  seputar Bukit Besar.

“Seluruh objek sudah kami ambil titik koordinatnya.  Peta yang kami buat dengan bantuan alat GPS itu berupa jpeg. Selain dapat dicetak dalam bentuk lembaran peta, juga dapat dimuat-turun ke website Kota Kapur,” ujar Aulia.

Mahasiswa KKN UBB di Desa Kota Kapur  mengusung banyak program, di antaranya membuat website Kota Kapur, yang menitikberatkan informasi wisata sejarah Kota Kapur.

“Wesbite ini merupakan media informasi untuk semua orang yang ingin mengetahui apa dan bagaimana Kota Kapur.  Website segera di rilis menjelang berakhirnya KKN UBB,” kata Aulia.

Hari Minggu (4/08/2018) sebanyak 31 mahasiswa KKN UBB berlayar menggunakan dua kapal nelayan menuju Pulau Medang, Hantu dan Pulau Kecil.

Satu perahu berisi enam orang anggota tim pemetaan. 25 mahasiswa lainnya  mengambil data, foto dan video untuk bahan website Kota Kapur.

Selain mengambil kordinat, foto dan video, mahasiwa KKN UBB memasang plang KKN UBB Angkatan ke 13 di Pulau Medang, Hantu dan Kecil.  

Peta Kota Kapur yang rampung dikerjakan mahasiswa KKN UBB itu akan dicetak dalam bentuk ‘banner’, dan dibingkai kaca kemudian diberikan  ke pihak desa agar dipajang di kantor desa.

“Peta itu memudahkan orang mengetahui informasi tentang Kota Kapur, mulai dari situs hingga potensi lainnya selain informasi dari website,” ujar Aulia (Eddy Jajang J Atmaja, Aris Riski


Topik

KKN_UBB