Buka Agripreneur Fest 2018, Rektor UBB Minta Mahasiswa Asah dan Kembangkan Kewiraswastaan

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 10 Oktober 2018 10:47 WIB | Diupdate pada 10 Oktober 2018 23:30 WIB


PUKUL GONG --  Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi (tengah)  memukul gong sebanyak tiga kali menandai peresmian Agripreneur Fest 2018 di Lapangan Basket Kampus UBB, Balunijuk, Merawang, Selasa (10/10/208) pagi.   Agripreneur Fest 2018 berlangsung tiga hari,  sejak 9 hingga 11 Oktober 2018.

BANGKA, UBB --  Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB)  Dr Ir Muh Yusuf MSi  minta seluruh mahasiswa  perguruan tinggi negeri ini untuk tak kenal lelah   dalam  mengembangkan  jiwa dan semangat kewiraswastaan di diri mereka  masing-masing.

Pasalnya,  melalui kewiraswastawan itu,  kelak setelah lulus kuliah dari UBB mereka akan terjun  sebagai  wiraswastawan profesional.   Mereka tidak hanya sekadar  menolong diri sendiri, tapi  lebih dari itu membuka lapangan kerja baru  dan   menyerap tenaga kerja di sekitarnya. 

“Terus asah dan tumbuhkan entrepreneurship, itu berguna sekali  setelah lulus dari UBB.   Sebagai wirastawan,  tentu akan buka  lapangan kerja baru!,” tegas Muh Yusuf ketika membuka resmi Agripreneur Fest 2018 di Lapangan Basket Kampus UBB,  Senin (9/10/2018) pagi.

Peresmian Agripreneur Fest 2018 ditandai pemukulan gong oleh rektor,  dihadiri Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi (FPPB) UBB Dr Tri Lestari MSi, Wadek Dr Eva Helda MSi, Ketua Prodi Agribisnis Yudi Sapta P SP MSi,  Ketua Prodi Biologi Dr Eddy Nurcahya,   dosen  dan  mahasiswa UBB.

Mengusung tema ‘Agripreneur Lead for the Future’,  Agripreneur Fest  2018  yang   digelar  mahasiswa Program Studi (Prodi) Agribisnis UBB ini berlangsung dari 9 hingga 11 Oktober 2018.   Sedikitnya 20 stand ikut meramaikan,  di antaranya dari  UMKM, kelompok tani, kelompok wanita tani, PT Timah Agro Mandiri, Bulog dan Dinas Tanaman Pangan Bangka Tengah.

Rektor Muh Yusuf menilai  positif sejumlah acara yang digelar Agripreneur Fest 2018, seperti ‘talk show’ tentang prodi Agribisnis,  Lomba Rangking 1, daur ulang, pementasan seni dan eksposisi produk pertanian dan perikanan --  mulai dari hulu hingga hilir --,  kuliner dan industri olahan rumahtangga.

Menurut rektor,  kehadiran stand dengan beragam produk yang diperlihatkan, dapat mempertajam jiwa kewiraswastaan kalangan mahasiswa.  Sebab mereka dapat melihat langsung dan kemudian  mengalisis segmen pasar,  serta produk mana saja  dari sektor riil yang diperlukan konsumen.

“Kita akui,  memang  untuk menumbuh-kembangkan jiwa kewiswastaan itu bukan perkara  mudah.  Selain perlu dukungan dari  orangtua,  juga harus muncul  dari diri mahasiswa  itu sendiri.  Di  kelas ada matakuliah kewiraswastaan dan  mata kuliah lain yang  berhubungan dengan bisnis,”ujar rektor.  

Dijelaskan, dalam menumbuh-kembangkan jiwa kewiraswastaan, mahasiswa tidak boleh berpikir linier.  Melainkan harus kreatif dan inovatif,   terlebih lagi di era  persaingan ekstra ketat pada  era revolusi industri saat ini;   terobosan sudah menjadi basis aksi  setiap jenis usaha.

“Kreatif, inovatif dan terobosan; tiga kata ini harus menjadi habituasi kewiraswastaan.   Sesuatu yang  sepintas tidak bisa dilakukan, lewat tiga kata itu ternyata mungkin kita lakukan.  Tegoklah angripreneur Thailand.  Sesuatu yang semula tidak bisa tumbuh, disana dapat tumbuh dan berbuah produktif ,” ujar rektor.

Tanaman kurma yang dihabitatnya  -- di Jazirah Arab --  tumbuh subur,   melalui perlakuan khusus di Thailand  ternyata juga dapat tumbuh dan kemudian  berbuah lebat.   Demikian pula   jenis tanaman lain.  Di negara asalnya tidak produktif,  di Thailand dapat  berproduksi  tinggi  dan kembali diekspor.

“Kita harus mensinergikan ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah di  kampus dengan dunia praktik. Ini berarti pula dunia akademisi  harus ‘dikawinkan’ dengan  sektor riil.  Jangan sampai terlambat, dan memang sebagai wiraswastawan tidak boleh terlambat!,” tukas Muh Yusuf.

Menurut rektor, peluang usaha  di Kepulauan Bangka Belitung  masih sangat luas dan beragam.   Mulai dari sektor hulu hingga hilir, dengan  membuat produk atau jasa, atau gabungan keduanya terbuka lebar.   Bahkan sambungnya, di sini  pasokan bahan bakunya pun tergolong melimpah.

“Sedikit contoh adalah jeruk kunci yang setelah  diolah sedemikian rupa  menjadi minuman segar.   Biji dan tangkai  mangrove, menjadi pewarna alami batik dan  minuman segar. Begitu pula  nenas,  bisa dibuat berbagai jenis makanan  kering seperti dilakukan di Malang,” ujar Muh Yusuf.

“Kita perlu banyak belajar dari cerita sukses  wiraswastawan Malang.   Buah apel dan buah apapun dapat  mereka olah menjadi makanan  kering,” ujar Muh Yusuf, seraya minta kepada pengelola program studi untuk membawa mahasiswanya kuliah lapangan ke sejumlah industri pengolahan.

“Kegiatan perkuliahan bisa dilakukan di salah satu perkebunan yang bagus dan berhasil.  Tak usah jauh-jauh, bisa di Bogor, ataupun di Puncak.  Tak hanya pertanian saja, peternakan juga perlu didatangi,” tambah Muh Yusuf.

Dihadiri Orangtua Mahasiswa 

Pembukaan Agripreneur Fest 2018 berlangsung meriah dan semarak.  Tidak hanya karena  sejumlah stand dari UMKM, mahasiswa Agribisnis,   beberapa perusahaan dan Dinas Tanaman Pangan saja.   Melainkan  semua  orangtua mahasiswa baru Prodi Agribisnis sengaja diundang dan menhadirinya.

Orangtua mahasiswa baru duduk di tempat khusus, di depan panggung tempat Agripreneur Fest  2018 diresmikan,  dan  ajang  penampilan seni.   Mereka dipersilakan bertanya apapun seputar aktivitas mahasiswa, program dan prospek dari kerja lulusan Prodi Agribisnis.

Dalam ‘talk show’ yang dipandu  Novyandra Ilham Bahtera , dengan narasumber Fournita, Eddy Jajang J Atmaja (dosen Prodi Agribisnis UBB) dan Andreas (alumni Agribisnis),  Kaprodi Agribisnis Yudi Sapta Pranoto menjelaskan  visi prodi ini  menjad prodi unggul berbasis  potensi lokal.

“Kita sengaja mengundang orangtua mahasiswa baru karena banyak hal.  Disamping ajang  bersilaturahmi dengan dosen Agribisnis, orangtua mahasiswa dapat melihat langsung aktivitas Agribisnis dan kampus UBB,” ujar Yudi.

Cara ini sambungnya sebagai salah satu bagian  untuk ‘mendekatkan’ orangtua dengan prodi dan kampus UBB.  Sebab selama ini orangtua hanya melihat langsung aktivitas anaknya ketika wisuda.  Padahal dukungan orangtua  itu sangat besar dalam  proses perjalanan  studi mahasiswa meraih sukses, terutama dalam upaya  menumbuh-kembangkan jiwa kewiraswastaan mereka.

Sementara itu Adreas menceritakan proses ia, saudara dan orangtuanya ‘bertungkus-lumus’ ketika awal  merintis usaha perkebunan sawit hingga hari ini  berhasil memiliki kebun seluas sembilan hektar.

Ia minta kepada mahasiswa yang baru memulai usaha  untuk tahan banting dan tak pernah putus asa.  Sebab  apapun usaha baru biasanya dihadang banyak masalah, baik dari sisi personel atau tenaga kerja maupun keuangan.

“Ketika saya memulai usaha, harus bahu-membahu dengan saudara dan kedua orangtua.  Maklum untuk bayar upah per hari sebesar Rp 100.000, kita tak punya uang.   Semua dikerjakan bersama, hingga kami berhasil mengelola kebun sawit seluas sembilan hektar,” ujar Andreas (Eddy Jajang J Atmaja, Ari Riski)


Topik

Dr.Tri_Lestari,_S.P.,_M.Si FPPB_UBB REKTOR_UBB