Tiga Tim Teknik Sipil UBB Finalis KJI dan KBGI 2018, Targetkan Masuk Tiga Besar

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 19 November 2018 22:31 WIB | Diupdate pada 19 November 2018 22:37 WIB


RAKIT --  Disaksikan dosen pembimbing, tiga mahasiswa Prodi Teknik Sipil UBB,  yang tergabung dalam Tim Laskar Depati XII,  merakit Jembatan Tudung Saji di Gazebo Fakultas Teknik UBB, Senin (19/11/2018) siang.  Mereka siap bertanding di Kompetisi Jembatan Indonesia dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia 1-2 Desember 2018 di GOR Unhas, Ujung Pandang.

MERAWANG, UBB --  Tiga tim rekayasa jembatan dan bangunan  dari Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung (UBB) menjadi finalis  pada Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) ke 14 dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) ke 10 tahun 2018, yang akan digelar  GOR Universitas Hasanudin, Ujung pandang,  1-2 Desember 2018.

Tiga tim mahasiswa  Prodi Teknik Sipil UBB itu  lulus menjadi finalis KJI dan KGBI, setelah tim juri  dari    Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan  Kemenristek Dikti melakukan penilaian atas 166 proporsal --  yang masuk dari sejumlah perguruan tinggi se Indonesia --  untuk kategori jembatan baja ringan (canai), jembatan baja, jembatan busur dan gedung. 

Indra Gunawan ST MT, dosen Prodi Teknik  Sipil  Fakultas Teknik UBB, mengemukakan tiga tim dari UBB yang menjadi finalis itu  adalah  Tim Laskar Depati XII (kategori  jembatan raya, terbuat dari baja),  Tim Seperadik Gale (kategori jembatan pejalan kaki, terbuat dari baja ringan atau canai),  dan    Tim Habut Bahirek (kategori bangunan).

“Nama karya tiga tim itu  semuanya dari khasanah budaya yang ada Bangka Belitung.  Jembatan karya Tim Laskar Pelangi kita beri nama Jembatan Tudung Saji. Karya Tim Seperadik  namanya  Jembatan Kembang Kenanga,  dan  bangunan  gedung karya Tim Habut Behirek  kita  beri nama Rumah Junjung Besaoh,”  ujar  Indra Gunawan, dosen pembimbing Tim Laskar Depati XII,  Senin (19/11/2018) siang.   

Siang itu  Indra Gunawan bersama  Kaprodi Teknik Sipil Yayuk Apriyanti ST MT, Ormuz Firdaus ST MT,  Endang Setyawati  Hisyam ST M.Eng,  Adriyansah ST MSi dan puluhan mahasiswa, menyaksikan  simulasi pemasangan Jembatan Tudung Saji di Gazebo Fakultas Teknik UBB.   Pemasangan jembatan terbuat dari baja itu   dilakukan  tiga anggota Tim Laskar Depati XII, yaitu  Bayu Dika Wijaya, Bayu Oktasandi,  dan Lian Korsely; semuanya mahasiswa semester VII.        

“Simulasi ini penting sekali.   Sebab, selain agar anggota tim  nanti tidak gugup saat  pertandingan  di GOR Universitas Hasanudin, juga karena lantaran  panitia memberikan tengat waktu   merakit   semua perangkat jembatan paling lama tiga jam, dengan  toleransi tiga puluh menit.   Lebih dari waktu itu, finalis tersebut dianggap gagal!,” ujar Indra Gunawan.

Untuk kategori jembatan baja,  pada Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2018 tim juru dari Kemenrtistek Dikti telah menetapkan tujuh finalis.   Selain Tim Laskar Depati XII (UBB),  enam finalis lainnya berasal dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, Politeknik Negeri Jakarta, Polteknik Negeri Malang, Universitas Brawijaya (UB), Universitas Pancasila, dan Universitas 11 Maret.

KJI tahun ini menetapkan tema “Jembatan Nusantara, Inovatif, efisien, Estetik dan Ramah Lingkungan”,  berdasarkan tema itu menurut Indra Tim Laskar Depati XII yang dibimbingnya memilih motif tudung saji  -- yang menjadi wadah  untuk makanan tatkala acara adat Nanggung --  baik untuk  lengkungan rangka  jembatan maupun aksesori (kap lampu, warna dan railing).

Dikemukakan, Jembatan Tudung Saji yang akan dirakit kembali di GOR Universitas Hasanuddin Unjung Pandang  memiliki spesifikasi panjang 4,2 meter, lebar 70 meter, dan bagian tertinggi 55 centimeter.   Jembatan dengan ukuran ini menggambarkan jembatan yang sesungguhnya dengan panjang 40 meter.

“Dalam simulasi perakitan pertama Jembatan Tudung Saji hari ini (Senin, 19/11-red)  tim kita, Laskar Depati XII, berhasil menyelesaikan perakitan selama satu jam empat puluh menit.  Itu cukup bagus karena  jauh di bawah batas waktu yang diberikan tim juri, yaitu tiga jam dengan toleransi tiga puluh menit,” papar Indra Gunawan.

Kendati demikian Indra belum merasa puas.   Ia ingin durasi perakitan  dapat dipercepat di bawah satu jam 40 menit,  mengingat  kecepatan  memasang piranti jembatan hanyalah  salah satu dari sekian item  penilaian lainnnya.

“Faktor lain yang dinilai oleh tim juri adalah sisi kekuatan dan keindahan jembatan.  Nanti tim juri akan meletakkan beban 50 hingga 400 kilogram secara bertahap  di bagian jembatan.   Kemudian mereka melihat seberapa besar defleksi (bagian jembatan  yang menurun-red)-nya.  Mengenai keindahan, itu tergantung pengamatan juri,” ulas Indra.

Optimis Masuk Tiga Besar 

Menjawab target tim UBB dalam KJI ke 14 dan KBGI ke 10 di Ujung Pandang,  Indra merasa yakin dapat masuk dalam tiga besar pemenang.  Keyakinan ini menurut dia didasari pengalaman UBB  yang telah mengikuti even ini  dalam dua tahun terakhir.

“Tahun 2016 dan 2017, kita selalu masuk final.  Tahun 2018,  juga melaju ke final.   Nah,  berdasarkan pengalaman  tiga  kali itu masuk final itulah  kami susun  strategi,” ujar Indra didampingi  Kaprodi Teknik Sipil Yayuk Apriyanti ST MT, Ormuz Firdaus ST MT,  Endang Setyawati  Hisyam ST M.Eng,  dan  Adriyansah ST MSi.

Bahkan untuk mengikuti KJI dan KBGI  yang rutin diselenggarakan Kemenristek Dikti setiap tahun,  Prodi Teknik Sipil membentuk tim khusus yang diberi nama Asak Kawa Team.  Tim ini dibina sejumlah dosen dan beranggotakan mahasiswa Teknik Sipil UBB.

“Tahun 2016,  Tim Raje Kerang Berantu lolos sebagai finalis pada KJI k 12 untuk kategori Jembatan Busur.  Karya itu kami beri nama ‘Jembatan Busur Sedulang’, bertanding di Politeknik Sriwijaya Palembang.   Tahun berikutnya, 2017, tim  kami  lolos untuk dua kategori, yaitu jembatan baja dan bangunan gedung, yang digelar di Politeknik Negeri Malang,” ujar Indra.   

Dijelaskan, finalis untuk kategori jembatan baja atas nama tim Laskar Depati XII, karyanya  diberi nama Jembatan Terindak.  Sedangkan kategori bangunan gedung atas nama Tim Bujang Pacak Gale, diberi nama  Rumah Sepintu Sedulang.

Indra menceritakan pengalaman mereka mengikuti KJI dan KGBI di Politeknik Sriwijaya tahun 2016.  Tanpa bekal pengalaman, dan hanya semangat membara di antara mahasiswa anggota tim,  mereka berhasil membangun jembatan busur menggunakan bahan rotan dalam waktu tiga jam.

“Dari kesikutsertaan dan pengalaman dua kali finalis KJI dan KGBI, wajar saja jika pada tahun 2018 ini kita mentargetkan dapat merebut juara.  Paling tidak masuk tiga besar untuk setiap kategori,” tukas Indra.

Menurut dia, meski UBB tergolong Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB) namun dalam kancah KJI dan KGBI cukup disegani.  Tahun 2018 ini contoh Indra, sejumlah proporsal dari tim perguruan tinggi besar dan ‘papan atas’ tidak lolos menjadi finalis.

“Boleh dibilang tim Teknik Sipil UBB ini merupakan wakil dari perguruan tinggi di Sumatera berlaga di KJI dan KGBI di Ujung Pandang.  Sebab hanya tim Teknik Sipil UBB lah yang lolos sebagai finalis,” terang Indra.

Berdasarkan informasi Kemenristek Dikti,  tahun ini hanya 27 dari 166 proposal yang lulus seleksi dan menjadi finalis KJI dan KGBI.  Rincian 166 proposal itu adalah 50 kategori Jembatan Canai (lulus menjadi finalis 7 tim), 37 proposal kategori jembatan busur (finalis 8 tim),  32 proposal kategori jembatan baja (finalis  7 tim) dan 44 proposal bangunan gedung (finalis 10 tim).

Menurut Indra,  ‘kampiun’ (juara) untuk semua kategori semuanya diborong oleh universitas senior dan ternama.   Universitas Brawijaya (UB)  merebut juara seluruh karegori sehingga didaulat  sebagai  juara umum atau bertahan.  Sementara untuk kategori Gedung diraih Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya.

“Kita, UBB, perlu bangga, sebab tahun ini tiga tim dari UBB  semuanya lolos dan menjadi finalis.  Sementara UB hanya lolos dua tim untuk dua kategori.   Satu proposal kita yang tak lolos, yaitu untuk kategori Jembatan Busur,” ujar Indra. 

Dosen senior Prodi Teknik Sipil ini yakin UBB bisa dapat meraih prestasi lebih baik dan banyak lagi, asalkan peralatan laboratorium terus dilengkapi, dan tak kalah urgennya dana membiayai kegiatan mahasiswa diperbesar jumlahnya.

“Pengalaman kami di KJI dan KGBI dua tahun terakhir ini,  ibarat kata tim universitas ternama itu membawa ‘lab’ (laboratorium)  mereka ke lokasi KJBI dan KGBI.  Mereka datang dengan tiga bus, membawa peralatan lab untuk tim mereka berlaga,” tukas Indra.

Pada akhir simulasi merakit Jembatan Tudung Saji di Gazebo Fakultas Teknik, Senin siang,   Tim Laskar Depati XII melaungkan yel-yel mereka dengan suara keras.  Yel-yel sebagai penyemangat tim itu menurut Indra juga akan dilakukan di GOR Unhas. Yel-yel berbahasa Bangka itu ialah “Asak kawa pasti pacak, Men pacak Inya Allah pacak gale”. 

Berikut ini Informasi tentang Tim UBB yang menjadi finalis di KJI dan KGBI. Tim Laskar Depati XII kategori Jembatan Jalan Raya (Baja), dosen pembina Indra Gunawan ST MT dengan anggota tim: Bayu Dika Wijaya, Bayu Oktasandi, dan Lian Korsely.

Tim Seperadik Gale, kategori Jembatan Pejalan Kaki (Canai), dosen pembimbing Donny F. Manalu ST MT dengan anggota tim: Ahmat Riyadi, Almirza Muhammad Rabbani, Ardian, dan  Rhozi Andicha.

Sementara itu Tim Habut Behirek, kategori Bangunan Gedung, dosen pembimbing Ardiansyah ST MSi, dengan anggota tim: Eka Mulyani, Sri Wahyuni, dan Syamsu Alam. (Eddy Jajang J Atmaja, Ari Riski)


Topik

Teknik_Sipil_UBB Fakultas_Teknik_UBB