EEBB Luncurkan Buku “Untuk Guru dari Bangka ke Papua” Didik Usia Dini

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 31 Desember 2018 09:16 WIB | Diupdate pada 31 Desember 2018 09:16 WIB


LAUNCHING—Foto Bersama Ketua Tim EEBB Dr. Eddy Nurtjahya  M.Sc. dan anggota  Isfarina S.Ter.T, dengan Pemateri Dilakhira Yasa, S.Pd., M.Ec.Dev.,  tenaga pendidik dan puluhan orangtua murid pada kegiatan Peluncuran Buku “Untuk Guru dari Bangka ke Papua” di PAUD Destira Tanjung Ratu, Sungailiat, Sabtu (29/12/2018)Pagi.

TANJUNG RATU, SUNGAILIAT --- Program EEBB (Early Education Bangka Bupul) meluncurkan buku “Untuk Guru dari Bangka ke Papua” kelanjutan dari rangkaian kegiatan pelatihan bagi guru Pendidikan Usia Dini dan Dasar di Bangka dan Bupul, Papua.

Peluncuran Buku “Untuk Guru dari Bangka ke Papua” disambut hangat para orangtua di tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Destira, Tanjung Ratu, Sungailiat, Sabtu (29/12/2018)Pagi.

Kegiatan dihadiri oleh tenaga pendidikan PAUD Destira dan puluhan orangtua murid PAUD Destira.

EEBB merupakan program pendidikan bagi guru Pendidikan Usia Dini dan Dasar di Desa Bupul, Kabupaten Merauke dan Kenanga dan sekitarnya, Kabupaten Bangka.

Program ini berjalan atas dukungan dana dari International Exchange Alumni, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, dan dukungan akademisi dari Universitas Bangka Belitung, Universitas Musamus di Merauke, dan Universitas Respati, Yogyakarta.

Ketua Tim EEBB, Dosen UBB, Dr. Eddy Nurtjahya, M.Sc. mengatakan bahwa penulisan buku ini yaitu kelanjutan dari rangkaian kegiatan pelatihan bagi guru Pendidikan Usia Dini dan Dasar di Bupul, Merauke bulan November 2017, pelatihan serupa di Bangka bulan Maret 2018, dan pemantauan dan evaluasi di kedua lokasi di bulan Juli dan Agustus 2018.

Keistimewaan buku ini adalah keragaman latar belakang 22 orang penulis yang meliputi pendongeng, pendidik usia dini dan dasar, budayawan, tokoh agama, psikolog, dosen pendidikan, dan dari dinas pendidikan, yang memiliki rasa kepedulian terhadap pentingnya kesetaraan pendidikan, terutama pendidikan usia dini dan dasar di Bangka dan Bupul”, Ujar Eddy.

Solusi terhadap permasalahan yang teridentifikasi, baik di Bangka dan Bupul, dilakukan dengan peningkatan pemahaman pentingnya pendidikan usia dini dan pendidikan dasar, peningkatan motivasi guru dalam darma baktinya, dan peningkatan kapasitas guru terutama metode pengajaran.

“Pemahaman tersebut menguat karena memperhatikan pengalaman relawan di Desa Bupul beberapa bulan sebelum program EEBB ini dilakukan tahun 2017, dan hasil wawancara dan observasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Bangka dan Kabupaten Merauke”, lanjutnya.

“Rangkaian kegiatan di Kabupaten Bangka, selain adalah upaya peningkatan motivasi guru dan peningkatan kapasitas mengajar, kegiatan tersebut juga menjadi cermin bagi peningkatan motivasi guru dan peningkatan kapasitas mengajar rekan guru di Bupul, Distrik Elikobel dan Distrik Muting, Kabupaten Merauke. Pelibatan berbagai pemangku kepentingan diharapkan menjadi pendorong positif bagi perbaikan pendidikan”, tambah Eddy.

Ketua Yayasan sekaligus Pendiri PAUD Destira, Rohmah mengatakan dalam sambutannya  di awal acara, bahwa kegiatan ini dapat menjadi ajang interaksi orang tua dan pemateri, dan memberi pemahaman kepada orangtua yang mempunyai anak usia dini bahwa pendidikan usia dini itu sangat penting.

“Pelatihan program EEBB yang telah diikuti akan kami terapkan di sekolah dan memberikan ilmu tersebut kepada guru Pendidikan Usia Dini dan Dasar ,” ujar Rohmah (38 tahun),  ‘jebolan’ S1 Jurusan PAUD Universitas Terbuka (UT).

Dilakhira Yasa, S.Pd., M.Ec.Dev sebagai narasumber acara sekaligus salah satu penulis buku “Untuk Guru dari Bangka ke Papua” dengan judul artikelnya “Yuk, Bermain Sambil Belajar!” memberikan berbagai pemahaman sebagai respon dari keluhan orangtua pada sesi Tanya jawab.

Dila menjelaskan bahwa orangtua harus mengetahui tipe-tipe kemampuan anak belajar. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda beda. Dimana tipe belajar anak bisa dibedakan menjadi tiga yaitu visual, auditory, dan kinestetic, yang masing-masing tipe juga mempunyai keunggulan dan kelemahannya.

Tipe visual bisa menyerap pelajaran lebih baik dengan melihat. Mereka lebih suka melihat atau membaca terlebih dulu sebelum belajar hal-hal baru. Diperkirakan, sebanyak 80% pelajaran bisa dimengerti melalui penglihatannya. Membaca buku dan melihat gambar adalah cara belajar yang paling disukainya.

Tipe belajar auditory, anak harus mendengarkan pelajaran untuk memahaminya. Mereka lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan.

Sedangkan tipe belajar kinestetic, lanjut Dila, anak tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka tertarik mencari sendiri hal-hal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan. Oleh karena itu, tipe ini cenderung tidak bisa diam dan kerap dianggap anak nakal karena kerap tidak bisa diam dan sulit mendengarkan penjelasan guru di sekolah.

Anggota EEBB Isfarina, S.Ter.T  menambahkan bahwa anak usia 0 sampai 5 tahun merupakan masa yang sangat penting atau yang disebut golden age (masa emas)

“Fase tumbuh kembang otak anak pada rentang usia tersebut sangat penting. Pada masa emas, otak mengalami tumbuh kembang paling cepat dan paling kritis, dan kecerdasan orang dewasa telah terjadi pada fase tersebut”, ujar Isfarina.

“Dalam hal menghadapi anak yang mempunyai beragam tipe, guru maupun orangtua harus mengajarkan anak dari dini kasih sayang dan menghindari pembentakan, memarahi, dan pemukulan. Rekam ingat anak yang usia dini akan terekam hingga mereka dewasa sehingga bisa berdampak negatif bagi perkembangan di usia selanjutnya.” lanjut Dila.

Di akhir acara Eddy menambahkan dengan berbagai perbedaan antara komunitas antara Bangka dan Bupul baik itu budaya ataupun lainnya, kita harapkan kedepan mendorong kesadaran pentingnya kebersamaan untuk maju, terutama di pendidikan usia dini dan pendidikan dasar, di antara pemangku kepentingan di kedua daerah tersebut.

Di kemudian hari, pemahaman tersebut berbuah kegiatan nyata, yang tujuan akhirnya memupuk rasa kesatuan sebagai bangsa, tutup Eddy.

Buku yang berjudul “Untuk Guru dari Bangka ke Papua”  terbagi atas lima bab, yakni (1) Pendidikan usia dini dan dasar, (2) Mengajar dengan hati, (3) Metode mengajar, (4) Mengajar di Papua, dan (5) Menatap ke depan, akan disebarkan di Papua dan di Bangka (Ari Rizki/ UBB Press)


Topik

Dr._Eddy_Nurtjahja,_M.Sc.