Peringati Hari Musik Nasional 2019, Gema Harmoni UBB Gelar Simponi Tanah Air

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 14 Maret 2019 21:48 WIB | Diupdate pada 14 Maret 2019 21:48 WIB


PENGHAYATAN --   Artis penyanyi Rizka Safurella (mahasiswi Jurusan Manajemen  Fakultas Ekonomi UBB) tampil memukau penonton  pada peringatan Hari Musik Nasional  2019 di Kantin UBB, Kamis (14/3/2019).   Rizka  dengan penuh penghayatan  plus   teknik vokal ‘pumpuni’   sukses menaklukkan nada-nada ‘sulit’ pada  lagu Man Upon The Hill dan Zombie, diiringi ‘kugiran’ (band) KMT Project  --- yang personelnya dikenal luas sebagai pendiri  Gema Harmoni UBB.  

MERAWANG, UBB --  Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Gema Harmoni Universitas Bangka Belitung (UBB), Kamis (14/3/2019), seharian penuh,  menggelar simponi Tanah Air.  Didukung lebih dari sepuluh pemusik, acara bertemakan Bhinneka Tunggal Ika Still Alive ini digelar untuk memperingati Hari Musik Nasional (HMN) yang setiap tahun  jatuh pada tanggal   9 Maret.

Mengawali pembukaan  HMN 2019, UKM Gema Harmoni menyuguhkan musik dan lagu yang sengaja dikemas dalam bentuk simponi.  Dua lagu dibawakan secara koor dengan panduan seorang  dirigen itu adalah Tanah Air Ku (lagu nasional ciptaan Ibu Sud)  dan Zapin Melayu (ciptaan seniman Bangka, Baijuri).

Gelaran simponi   di depan Kantin  UBB itu, melibatkan lebih dari sepuluh artis penyanyi dan pemusik --  yang notabene  gabungan mahasiswa dari lima fakultas di lingkungan UBB. Alat musik yang  dimainkan beragam; mulai perkusi, tabuhan (gendang, jimbe), alektrik (gitar, keyboard),  akustik (gitar kopong),  akordion, hingga saksofon.

Tampilnya saksofon pada simponi HMN bertajuk Bhinneka Tunggal Ika Still Alive ini ‘mampu’ menghadirkan suasana berbeda.  Selain  musik dan lagu yang disajikan kian berwarna,   nada-nada musik yang diproduksi saksofon pun ‘beresonansi’ (menggema)  di ruang imaji setiap  penonton  (theater of mind) di seputar Kantin UBB.

Mengomentari hal ini, Ketua UKM Gema Harmoni  Nanda didampingi Rinal Wahyu (pemain keyboard) mengemukakan saksofon yang melengkapi alat musik simponi HMN 2019 milik mahasiswa UBB.  Ia (pemilik saksofon) sekaligus adalah pemusik alat tiup itu.    

“Saksofon berwarna kuning emas itu dibeli  mahasiswa tersebut seharga  delapan juta rupiah.  Efek suara saksofon itu cukup  ‘ajip’; memberi warna sendiri setiap lagu yang kita tampilkan,” ujar Nanda, seraya mengenalkan pemusik saksofon dimaksud.

Lagu Tanah Air Ku dan Zapin Melayu dinyanyikan secara bersama (koor) lebih dari sepuluh mahasiswa dan mahasiswi UBB.  Dipandu seorang dirigen, kedua lagu ini menampilkan penyanyi utama, yaitu Rafly (mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi) dan Alivia Bintari (mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi).

Usai simponi digelar,  giliran Band KMT Project yang antara lain ‘digawangi’ Juni Arjuna dan Rai Wijaya ‘menggetarkan’ Kantin UBB dan sekitarnya.  Lewat dua lagu bergenre pop-rock yaitu  Zombie ( The Cranberries) dan Man Upon The  Hill  (Stars and Rabbit), yang dinyanyikan Rizka Safurella (mahasiswi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi), atmosfir berubah seratus delapan puluh derajat.

 Rizka Safurella sukses menaklukan nada-nada tinggi pada Zombie dan Man Upon  The  Hill  dengan falset yang dimilikinya.  Kecuali itu, dengan ‘art of performance’ –nya yang meliuk-liukkan tubuh ketika menyanyikan Zombie  dan Man Upon  The Hill membuat semua mata  penonton tertuju pada Rizka seorang.

Menjelang tengah hari, giliran pasangan Rafly-Alivia  menghipnotis penonton yang memadati kantin sambil menyantap makanan ringan dan  minuman.   Melalui lagu Indah Pada Waktunya -- yang popular disuarakan pasangan artis penyanyi  Rizky Fabian (Indonesia) -  Aisyah Azis (Singapura) --  Rafli dan Alivia  tampil memukau. 

Nada tinggi yang oleh penyanyi asli (Rizky Fabian) ditaklukkan dengan teknik falset ‘halus’, ternyata  berhasil ditaklukkan Rafly, mahasiswa Jurusan Agribisnis.  Teknik falset Rafly  dan Alivia pun  bahkan mampu menyampaikan pesan lagu romantis ini kepada penonton.

Karuan saja selama keduanya ‘performance’ di panggung depan Kantin UBB, decak-kagum bersahut-sahutan.  Malah ‘suitan’ menggoda keduanya kerap terdengar, ketika asyik dan penuh penghayatan  melantunkan nada dan isi (teks) lagu yang digandrungi kawula milenial ini.

Saking menghayati lagu Indah Pada Waktunya ini, seorang mahasiswi  -- rekan Rafli dan Alivia – berucap dari tempat duduk: “He...he ... kelak ‘ikak’ (kalian-red) ‘bedue’ (berdua)  ada hubungan...!”  Godaan ini spontan disambut gelak penonton.

Pembina UKM Gema Harmoni UBB Eddy Jajang J Atmaja ketika membuka HMN 2019 mengemukakan, HMN merupakan keputusan pemerintah menyusul terbitnya Keputusan Presiden Nomor 10 tahun 2013.  HMN itu sendiri merupakan usulan para seniman musik kala itu,  dan  mendapat tanggapan positif  dari pemerintah ketika itu dipimpin Presiden Susilo Bambang  Yudoyono.

“Musik merupakan ekspresi seni bersifat universal dan multi dimensional.  Musik tidak saja sarana untuk hiburan tapi juga media komunikasi,  preservasi  budaya, dan lain-lain.   Musik memiliki fungsi untuk meningkatkan semangat membangun bangsa dan negara,” ujar Eddy Jajang.

Tanggal 9 Maret  ditetapkan sebagai HMN setelah mempertimbangkan tanggal kelahiran Wage Rudolf Supratman,  pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. HMN ini juga dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi atau penghargaan kepada pemusik dan pencipta lagu yang telah melahirkan karya-karyanya.

Peringatan Hari Musik Nasional di Kantin UBB tak cuma menampilkan ‘kugiran’ (band) asal mahasiswa UBB saja.  Panitia pelaksana yang diketuai Rafly, mengundang khusus band tamu yang sudah malang-melintang bermusik di Bangka Belitung.  Band dimaksud antara lain Shape Phone, Filosofi, KAB (Komunitas Anak Band) dan PUSM. (Eddy Jajang J Atmaja


Topik

Mahasiswa Kampus_Terpadu_UBB
hiv rash ayar