Generasi Muda Dalam Peradaban Asia Dipertemuan Kelas Internasional OAF

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 27 Maret 2019 23:18 WIB | Diupdate pada 27 Maret 2019 23:18 WIB


Dr. Ibrahim, M.Si. (saat menyampaikan materi pada International Class on Asian Community) di Hotel PIA, Pangkalpinang.

PANGKALPINANG, UBB - Pertemuan ke-6 Internasional Class on Asian Community kerja sama antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (FISIP UBB) dan One Asia Foundation (OAF), Hadirkan Narasumber dari UBB dan IAIN SAS Bangka Belitung, bertempat di PIA Hotel, Pangkalpinang, Jum'at (22/3).

Kuliah kali ini mengangkat dua tema dengan narasumber dari UBB, Dr. Ibrahim, M.Si., (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung), dan dari IAIN Syekh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag, serta moderator perkuliahan sesi ini merupakan Dosen Sosiologi FISIP UBB, Laila Hayati, M.Si.

Sebelum perkuliahan dimulai, Sandy Pratama, M.Si., (Dosen Ilmu Politik FISIP UBB) menyampaikan Welcome Speech  kepada narasumber dan seluruh peserta International Class on Asian Community.

Identity, Local Nationalism, and The Important of Unity in Diversity: Indonesian Experience

“Saya pernah mengunjungi sekolah yang ada di Chicago, Amerika Serikat, yang mana terdapat berbagai macam budaya (multikultularisme) sebagai bentuk keterbukaan informasi. Dikawasan Asia, tidak ada negara yang terlampau dominan seperti Indonesia yang merupakan negara besar (populasi, wilayah, pluralitas), kasus-kasus lintas batas (blok politik ASIA), dan adanya nilai-nilai ketimuran sebagai kunci utama”, ungkap Ibrahim.

Terdapat berbagai tantangan yaitu menguatnya politik identitas, menguatnya primordialisme, ketidak siapan kompetisi melahirkan oportunisme, the holy trinity (bahasa, bangsa, dan tanah air) yang kemudian menjadi the unholy trinity yaitu tidak terlalu mengagung-agungkan sesuatu (negara) sehingga menjadikannya menutup diri dan nasionalisme negara yang cenderung angkuh.

“Bangsa Asia adalah kumpulan bangsa yang pernah terjajah, seperti keserumpunan historis dan identitas, geografi yang sama, kebutuhan lintas batas negara, dan aksesibilitas tak terhindarkan. Peace and education menjadi pilah perdamaian Asia”, jelas Ibrahim.

Sebagai Bangsa Asia, lebih baik menghindari benturan antar peradaban, hapuskan sekat seperti kata 'kami' dan 'mereka'. Setelah itu lakukan promosi identitas Asia: Prosesual, konstruktivis, negosiasional, dan transaksional. Terbuka membagi perbedaan juga merupakan langkah yang baik sebagai generasi muda di Asia.

Ibrahim juga menjelaskan beberapa prinsip utama identitas yaitu tidak sombong, serta kesejajaran (tidak menganggap bahwa kita yg paling hebat).

Hal ini ditegaskan lagi dengan dua pilihan menurut Anderson yaitu terlelap (terus terjebak dengan nasionalisme sempit), lalu bangun tidur (menyadari hubungan mutual). Maka, jadikan sebagai pribadi yang dapat memperkuat kapasitas intelektual dan moralitas, meningkatkan kepercayaan diri, memperkuat kemampuan komunikasi, apresiasi atas perbedaan, dan ASIANISASI diri (merasa menjadi bagian dari Asia). Serta menjadi generasi muda dalam peradaban Asia yaitu sumber nilai peradaban (jangan tertutup), agen peradaban (bersinar, menghargai, mempromosikan).

Middle East Civilization: Between Politics and Culture

Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag., menyampaikan materi "Political Trends in Islam: Akar Politik Arab dan Persentuhannya dengan Islam di Indonesia". Rusdi Sulaiman menjelaskan bahwa pada saat mengikuti kelas di New York, ia diminta untuk berbicara tentang Agama Islam (The Teaching of Islam). Membahas kondisi sosial politik sebelum Islam. Adanya dominasi dua kekuatan yaitu Imperium Romawi dan Imperium Persia. Perebutan kekuatan itu atas Arab (Arabia Utara dan Arabia Selatan).

Modernisme dalam Islam dijelaskan dari kisah perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW yang mana ia bukan hanya sebagai kepala agama namun juga kepala politik. Kemudian terdapat relasi antara agama dan negara yaitu Integralistik (Islamis/Negara Agama), Sekularistik (Nasionalisme Sekular), dan Mutual-Simbiosis (Nasionalisme Religius), jelas Rusydi Sulaiman.

Kegiatan perkuliahan ditutup dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan para peserta, kuiz dan pemberian doorprize. Pertemuan ke-7 International Class on Asian Community akan dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2019. (FISIP/Humas)


Topik

Kampus_Terpadu_UBB Dr._Ibrahim,_S.Fil.,_M.Si FISIP_UBB
. ayar