FISIP UBB Hadirkan Dosen UGM Di International Class on Asian Community

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 15 April 2019 15:21 WIB | Diupdate pada 16 April 2019 15:50 WIB


Pangkalpinang (12/4) - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (FISIP UBB) bekerjasama dengan One Asia Foundation (OAF) kembali menggelar pertemuan ke-9 dari 16 pertemuan International Class on Asian Community, pada hari Jumat, 12 April 2019, di Gedung Mahligai, Rumah Dinas Gubernur Kepualauan Bangka Belitung.

Pada pertemuan ke-9 ini mengangkat tema "The Phenomenon of Religious Radicalism and Mutual Understanding", dengan narasumber Eric Hiariej, Ph.D (Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada), serta M. Afifulloh, M.Hum (Dosen Sastra Inggris FISIP UBB) sebagai moderator pada pertemuan kali ini.

Terdapat beberapa macam radikalisme agama, seperti radikalisme Islam yang paling umum terjadi di Indonesia dan radikalisme Kristen di Amerika Serikat. "Kenapa radikalisme perlu diperhatikan?" Tanya Eric. Hampir dalam 19 tahun terakhir ini, muncul berbagai gerakan radikalisme agama. Pada 24 Desember 2000 atau 19 tahun yang lalu, terjadi peristiwa Christmas Eve Bombing di 36 gereja seluruh Indonesia. Menurut Eric, itu merupakan awal dari gerakan radikalisme agama. "Orang-orang harus direstart, karena dianggap sudah “ngehank”. Cara restartnya dibunuh, dengan harapan ada generasi baru." Ujar Eric dalam mengibaratkan pola pikir pelaku pengeboman.

Pelaku radikalisme cenderung menganggap diri paling benar, tidak menerima anggapan lainnya. "Anda itu hitam seperti bukan manusia, saya putih baru bisa dikatakan manusia." Menurut Eric, itu adalah salah satu contoh tindakan radikalisme secara umum. "Kenapa orang bisa jadi radikal" Tanya Eric kepada 150 peserta yang hadir untuk mencari jawaban cara mengatasi tindakan radikalisme. "Karena ketidakpuasan dan tidak didengar oleh pemerintahan" jawab salah satu peserta. Eric mengatakan bahwa pemerintahan sebenarnya sudah melakukan kebijakan yang baik, tetapi akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Contohnya, dibangun jembatan dari kota A ke kota B yang biasanya hanya bisa dilalui dari pelabuhan, otomatis akan menimbulkan kerugian bagi pemilik pelabuhan dan sekitarnya, mereka akan kehilangan sumber penghasilan, kemudian tindakan radikalisme pun bisa muncul.

Terdapat 4 cara mengatasi tindakan radikalisme menurut Eric Hiariej

1. Kelola orang yang kecewa

2. Cari referensi yang baik

3. Negara harus punya saluran yang mendengarkan

4. Jangan mengasingkan/menolak seseorang

Dari keempat poin tersebut, ada satu hal yang bisa menyangkut semuanya, yaitu mutual understanding. Mutual understanding adalah saling memahami dengan menerima segala perbedaan. Perbedaan yang harus diperhatikan adalah perbedaan traumatic dimana kita sudah terdoktrin bahwa sesuatu yang bahkan belum kita kenal itu buruk, hanya karena satu hal yang telah terjadi. Sebenarnya radikalisme itu tidak selalu negatif, jika tidak menggunakan kekerasan. Mahasiswa bahkan semua orang bisa dikategorikan radikal, karena bersifat kritis.

Kegiatan perkuliahan ditutup dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan para peserta, kuiz dan pemberian doorprize.(Fisip/Humas)


Topik

FISIP_UBB
. ayar