Sektor Agribisnis Pilihan Tepat Gantikan Timah

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 26 September 2019 15:07 WIB | Diupdate pada 26 September 2019 15:07 WIB


PELUANG BISNIS --  Dirut PT Agrowisata Bukitpangkuan Belitung Usmandie Andeska (tengah) tampil sebagai pembicara bersama Manajer Perencanaan dan Pengendalian Pemasaran PT Pusri Anton Sujatmoko (kiri) dan Ferdinand Hendrata CEO Boleh.id (kanan)  pada Kuliah Umum ‘Mewujudkan Jiwa Entrepreneur yang Kreatif, Mandiri dan Berdaya Saing di  Era Revolusi Industri 4.0’ di Ruang Pertemuan Rektorat UBB, Balunijuk, Merawang, Selasa (25/09/2019) pagi.

MERAWANG, UBB --    Provinsi Kepulauan Bangka Belitung  (Babel) menunggu munculnya  ribuan wirausahawan muda baru  yang terjun  secara total untuk menggarap sektor agribisnis di daerah ini. 

Pasalnya,  cepat atau lambat  kejayaan  sub sektor pertimahan, yang selama ini menjadi penggerak  utama ekonomi di Kepulauan Babel itu,  pasti akan berakhir.

“Dari beberapa sektor, Agribisnis lah yang  saya nilai sesuai untuk   menggantikan porsi sektor pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung,” tegas Usmandie Andeska, Direktur Utama PT Agrowisata Bukitpangkuan- Belitung, Rabu (25/09/2019).

Usmandie mengemukakan hal itu ketika berbicara dalam Kuliah Umum bertemakan ‘Mewujudkan Jiwa Entrepreneur yang Kreatif, Mandiri dan Berdaya Saing di  Era Revolusi Industri 4.0’ di Ruang Pertemuan Rektorat UBB, Balunijuk, Merawang.

Pembicara lain pada kuliah umum yang digelar dalam rangkaian Agribisnis Festival (Agrifest)  2019 ini adalah Manajer Perencanaan dan Pengendalian (Rendal)  Pemasaran PT Pusri Anton Sujatmoko, dan Konsultan Pemasaran Offline dan Online Bangka Belitung, Ferdinand Hendarata.

Usmandie yang adalah juga  Pimpinan Umum Majalah Ekonomi dan Lingkungan, Tropis, mengakui  sejauh ini sub sektor  pertimahan  berperan penting dalam ekonomi Babel.  Namun,  dia mempertanyakan sampai kapan kejayaan itu akan terus berlangsung.

“Sampai kapan? Nah,  secepat  mungkin harus ada substitusi (pengganti peran timah-red)-nya,” ujar Usmandie.

Menurut dia, Babel memiliki  potensi untuk menjadi  lahan   agribisnis.   Selain saat ini  banyak kebutuhan sehari-hari, seperti  sayur-mayur dan lain-lain,  didatangkan dari luar Babel dan  menjadi peluang bisnis, lahan yang tersedia di sini pun dinilai cukup luas.

Ia mencontohkan kebutuhan telur untuk penduduk Babel 1,2 juta,  setidaknya sebanyak  300.000 butir per hari.  Dengan harga Rp 800 per butir saja,  sekurangnya  Rp 2,4 miliar uang beredar setiap hari; hanya  dari penjualan telur saja.

“Bila kita hitung, setiap bulan ada sekitar Rp 72 miliar uang beredar dari penjualan telur.  Kita tahu sebagian besar  dari  kebutuhan telur di daerah ini ‘kan dipasok dari luar Babel.  Kalau kita bergerak di bisnis ini di Babel,  berapa besar efek tetesan ekonominya di Babel,” ujar Usmandie.

Untuk masuk dan terjun  ke dunia agribisnis di daerah ini, Usmandie menilai  berasal dari kalangan muda (milenial), terutama ‘jebolan’ dari  perguruan tinggi.  Pertimbangannya, selain masih ‘segar-bugar’, dan usia muda,  pada  umumnya mereka itu akrab dengan teknologi informasi.

“Pebisnis di era Revolusi Industri 4.0, jaringan dan wilayah pasar produknya sangat  luas,  karena operasionalisasi  komunikasi bisnis mereka  di dukung oleh teknologi informasi,” ulas Usmandie.

Saat ini lanjut Usmandie  sudah banyak alumni perguruan tinggi terjun  menjadi  petani modern, terutama di sekitar Bogor dan Cipanas, Jawa Barat.  Mereka  itu sangat inovatif , dan mampu memasuki  pasar-pasar baru, baik yang ada  di dalam negeri maupun di mancanegara.

“Mereka mengekspor daun pisang ke Belanda dan Australia.  Permintaan daun pisang di sana sangat besar karena mereka perang terhadap kemasan plastik. Di sana,  daun pisang  menjadi kemasan baru karena mudah terurai bila di buang di alam,” ujar Usmandie.

Anak-anak muda alumni perguruan tinggi itun sudah banyak membuat terobosan baru di sektor agribisnis. Tidak hanya daun pisang yang mereka jual ke mancanegara, tapi  mereka juga telah membuka pasar baru di dalam dan luar negeri.

Pemilik Agrowisata Bukitpangkuan Belitung ini   menunjukkan sejumlah  peluang bisnis dari sampah, yang saat ini tengah genyar-gencarnya  ‘diperangi’ oleh negara ini.

Menurut Usmandie produksi sampah setiap hari di Indonesia mencapai 67,8 juta ton.  Sekitar 35 persen  dari jumlah itu berupa plastik kemasan.

“Pelaku agribisnis di Bangka Belitung bisa saja memasok daun simpur, yang banyak di daerah ini,  ke Jakarta, sebagai pengganti kemasan plastik.    Atau mengirim bambu-bambu kecil ke ibukota sebagai pengganti sedotan plastik.  Mengapa tidak!,” tukasnya.

PIAGAM PENGHARGAAN --  Dirut PT Agrowisata Bukitpangkuan Belitung Usmandie Andeska (kiri) menerima piagam penghargaan dari Pembina Kegiatan Kuliah Umum Agrifest 2019 Eddy Jajang J Atmaja. Piagam serupa juga diberi kepada Manajer Rendal Pemasaran PT Pusri Anton Sujatmo dan CEO Boleh.id Ferdinand Hendrata.

Sementara itu ketika menjawab pertanyaan dari  peserta kuliah umum mengenai syarat-syarat menjadi wirausahawan,  Usmandie Andeska dan Ferdinand Hendrata mengemukakan (1) harus memiliki keyakinan dari bahwa ‘saya bisa’, (2) harus fokus, (3) tidak boleh mengeluh, dan  (4) jangan takut gagal.

“Jangan takut gagal, karena kegagalan itu guru yang paling baik,” tegas Usmandie, menambahkan untuk terjun ke dunia agribisnis tidak perlu menunggu selesai kuliah, namun dapat dimulai sejak masih menjadi mahasiswa walau dalam skala kecil (Eddy Jajang J Atmaja)


Topik

FPPB_UBB Agribisnis_UBB
. ayar