FISIP UBB Gelar Diskusi Terkait Kabinet Indonesia Maju

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 31 Oktober 2019 21:43 WIB | Diupdate pada 31 Oktober 2019 21:43 WIB


MERAWANG, UBB - Laboratorium Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB), gelar diskusi publik terkait kabinet pemerintahan Jokowi - Ma’ruf Amin dengan mengusung tema “Membedah Kabinet Indonesia Maju”, bertempat di Lobi Gedung Babel I FISIP, Kampus Terpadu UBB, Rabu (30/10).

Acara Diskusi Publik yang berlangsung hikmat dan penuh santai diinisiasi oleh Ketua Laboratorium Politik FIFIP UBB, Ranto, MA. kegiatan ini bertujuan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa Jurusan Ilmu Politik untuk menuangkan ide-idenya, dan menjalankan proses dialektis dalam dunia akademik.

Era keterbukaan informasi saat ini, kontribusi mahasiswa sangat dibutuhkan, tidak hanya kritis dalam memahami sesuatu, tapi juga memiliki budaya yang baik. Salah satunya melalui diskusi yang terarah, sekaligus memberikan pemahaman dan wawasan kepada mahasiswa untuk berfikir kreatif dan inovatif.

La Ode Muhammad Muliawan, MA., sebagai narasumber diskusi menjelaskan dengan gamblang bahwa kabinet saat ini merupakan contoh peleburan partai politik yang saling berlawanan pada pilpres kemarin.

Menurutnya, permasalahan kabinet Jokowi - Ma’ruf terlihat pada penggabungan koalisi antara partai yang saling berhadapan pada pilpres dan selain itu munculnya para menteri muda bersama munculnya aksi oligarki dalam pemerintahan Jokowi - Ma’ruf saat ini.

Penggabungan tersebut bukan tanpa sebab. Bahkan Ia memprediksi bahwa bergabungnya Prabowo dalam pemerintahan Jokowi Ma’ruf bukanlah hal yang tidak mungkin, pasalnya Prabowo menurut prediksi pemantik diskusi akan melanjutkan rencana dalam pemilu berikutnya untuk ikut serta dalam pemilihan presiden mendatang.

Selain itu, munculnya menteri muda baru saat ini seperti Nadiem memberikan energi baru dalam menjalankan pemerintahan.

“Mungkin saja, Nadiem dapat memberikan pengaruh positif karena memiliki berbagai pengetahuan di bidang digital. Mengingat Nadiem sebagai CEO Gojek tidak menutup kemungkinan, Kementerian Pendidikan dan Budaya, Pendidikan Tinggi dapat melaksanakan digitalisasi dalam menjalankan pemerintahan,” tutur La Ode.

Diskusi publik yang di moderatori Komang Jaka Ferdian, mendapat umpan balik dari para peserta, sehingga suasana diskusi semakin hidup, hal ini ditandai dengan banyaknya berbagai pertanyaan serta ide-ide dari kalangan mahasiswa maupun dosen, yang dilontarkan kepada pemateri.

Hal yang paling penting terkait diskusi pada 30 Oktober 2019 yaitu munculnya sebuah pertanyaan terkait prediksi demokrasi Indonesia kedepan.

Prediksi terkait Indonesia kedepan dalam menjalankan demokrasi dapat dikatakan masih menggunakan sistem oligarki. Dimana terdapat segelintir elit politik atau pengusaha dalam pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Hal tersebut memunculkan ketidakseimbangan dalam tubuh pemerintah. Kenapa?, Karena demokrasi bukan dari rakyat akan tetapi demokrasi masih berkutat pada ranah elit politik saja.

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Laboratorium Politik Ranto, MA, Dosen, serta Mahasiswa Jurusa, Ilmu Politik FISIP, dan hadir pula Dekan FISIP UBB Dr. Ibrahim, M.Si, selaku akademisi dan sekaligus pengamat diskusi yang memantau langsung jalannya diskusi. (red.FISIP/Humas)


Topik

FISIP_UBB
. ayar