Pertemuan Kelas ICoAC 2020 Bahas Identitas Asia

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 17 Februari 2020 22:59 WIB | Diupdate pada 17 Februari 2020 22:59 WIB


Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc. (Guru Besar Sosiologi UBB) saat sedang memberikan materi perkuliahan pada pertemuan ke-2 International Class on Asian Community 2020

MERAWANG, UBB-- Pertemuan Ke-2 dari 14 pertemuan Kelas Internasional  bertema “The Colorful of Asia’s Identity: Understanding Asia” bertempat di Ruang Rapat Besar, Gedung Rektorat, Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung, Jum’at, 14 Februari 2020.

Kegiatan dimulai pukul 14.00 WIB dengan jumlah peserta 150 Mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Bangka Belitung, dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Bangka Belitung.

Dr. Diana Anggraeni, M.Hum. (Ketua Jurusan Sastra Inggris FISIP UBB) berkesempatan membuka kegiatan. Dosen pada kelas internasional pada pertemuan ini yaitu Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc. (Guru Besar Sosiologi UBB) dan Ir. Eddy Jajang Jaya Atmaja, M.M. (Dosen Program Studi Agribisnis UBB), serta moderator, Panggio Restu Wilujeng, MSi.

The Colorful of Asia’s Identity: Understanding Asia

Ir. Eddy Jajang Jaya Atmaja saat sedang memberikan materi perkuliahan pada pertemuan ke-2 International Class on Asian Community 2020

Mengawali perkuliahan sesi-1, Eddy Jajang menceritakan pengalamannya ketika studi doktoral di Universitas Malaya, Malaysia. Eddy mengambil Malaysia sebagai representasi identitas Asia, karena Malaysia memiliki slogan Truly Asia dan terjadi banyak persilangan budaya Asia di Malaysia yang terjadi melalui proses sejarah yg panjang. Mulai dari pertemuan antar ras, persahabatan antara Sultan Malaka atau Kerajaan Malaysia dengan raja-raja di Indonesia dan kolonialisme, perdagangan, migrasi serta geopolitik. Menurut Eddy Jajang, berbagai persamaan identitas antara Indonesia dan Malaysia muncul karena keduanya merupakan rumpun suku Melayu. Tidak hanya persamaan identitas, bahkan konflik yang terjadi di Malaysia mirip dengan di Indonesia.

Hanya terdapat beberapa perbedaan antara Indonesia dan Malaysia, salah satunya konsep tentang Melayu dan Nusantara. Nusantara adalah Indonesia bagi masyarakat kita, sedangkan Nusantara bagi malaysia adalah gabungan kepulauan-kepulauan Melayu.

Eddy Jajang mendeskripsikan melalui gambar-gambar yang menunjukkan keberagaman Asia di Malaysia melalui potret Universitas Malaya dan tokoh-tokoh Upin & Ipin, serta pejabat-pejabat Malaysia yang merupakan keturunan dari Indonesia. Selain itu Eddy Jajang juga menunjukkan beberapa produk kultural Malaysia yang mirip dengan Indonesia, seperti gasing dan laying-layang. Eddy Jajang juga menjelaskan tentang "misunderstanding" kuda kepang atau kuda lumping yang sempat di klaim oleh Malaysia. “Sebenarnya itu budaya yang dibawa masyarakat-masyarakat nusantara (kepulauan-kepulauan Melayu) yang dipentaskan di Malaysia”, ujar Eddy Jajang.

Kedekatan kultural antara Indonesia dan Malaysia memperkaya identitas Asia. Ketegangan antara Malaysia dan Indonesia biasa terjadi karena sentimen dalam sejarah, atau persaingan dalam sepakbola. Tapi ketegangan itu sering hilang ketika ada budaya-budaya baik budaya tradisional atau populer yang merangkul kebersamaan Indonesia dan Malaysia dalam satu event kebudayaan.

Prof. Bustami Rahman, pada sesi-2, menjelaskan identitas Asia sebagai bentuk identitas yang besar dan beragam, yang terbentang dari Asia Barat hingga Asia Tenggara termasuk Indonesia di dalamnya. Prof. Bustami menjelaskan bahwa Asia memberikan warna dominan di dunia. Sekitar 4 miliar dari 7 miliar penduduk dunia tinggal di Asia.

Menurut Prof. Bustami, ada 3 perspektif untuk melihat Asia:

  1. Geographical Perspective
  2. Social Cultural Perspective
  3. Social Political Perspective

Dalam memahami identitas Asia, Prof Bustami menekankan pada social cultural perspective melalui bangunan Mental, Moral, dan Intelektual. Ketiga bangunan tersebut membentuk Sikap dan Perilaku (Attitude and Behavior) yang merupakan penentu proses sebuah peradaban (civilization). Peradaban bagi Prof Bustami adalah kehalusan yang dibawa oleh warna multikultural Asia. Sebagai orang Asia yang mampu bersaing harus dimulai dari mental khas Asia yang beradab yang sebenarnya mampu bersaing dengan masyarakat Barat. Selama ini masyarakat Asia terjebak dalam mindset inferior yang dibentuk oleh kolonialisme, yang menghambat kemajuan bangsa Asia. Sebenarnya yang diperlukan masyarakat Asia khususnya Indonesia adalah membenahi bangunan mentalnya yang potensial dan khas sebagai fondasi peradaban untuk mampu bersaing dengan negara-negara lain.

Diskusi ditutup Moderator Panggio Restu Wilujeng, dengan mengutip potongan definisi Identitas dari Richard Jenkins, serta simpulan dari dua narasumber:

“Identity is Always becoming, Asian Civilization is always progressive; Nusantara and Melayu always bond in collective relationship and Blend in Colorful Identity becoming civilization”.

Saat selesai memberikan materi, peserta Kelas Internasional dipersilahkan mengajukan pertanyaan. Mahasiswa terlihat aktif bertanya, dan tertarik dengan materi yang dipaparkan. Kegiatan ditutup dengan pemberian doorprize kepada peserta yang aktif dalam kegiatan perkuliahan. (red. Fisip/Humas)


Topik

FISIP_UBB
. ayar