Pengamat Sosiologi Penerapan New Normal vs Old Normal Terkait Situasi Covid-19

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 27 Mei 2020 16:02 WIB | Diupdate pada 27 Mei 2020 16:02 WIB


Foto Prof. Dr. Bustami Rahman, MSc. (Guru Besar FISIP UBB)

MERAWANG, UBB – Pengamat Sosiologi Prof. Dr. Bustami, MSc., mengatakan sebenarnya kondisi yang disebut dengan New Normal terbentuk secara alamiah bila suatu kondisi yang lama yakni terpaparnya Covid-19 telah terlampaui secara optimal.

"New Normal akan terbentuk melalui kebiasaan yang baru di dalam masyarakat hasil dari 'habitual learning' yang telah dilakukan dalam waktu yang lama, biasanya bertahun-tahun sehingga menjadi habit dan kemudian lekat pada sikap dan perilaku individu dalam masyarakat itu," jelasnya.

Dia memyebutkan, New Normal ini oleh pihak Kemenpan akan coba diterapkan di kalangan ASN di semua lembaga negara. Demikian juga mungkin akan diterapkan di kalangan BUMN. Semua karyawan atau pegawai bisa masuk kerja dengan lebih fleksibel tetapi mengikuti aturan New Normal sesuai dengan protokol kesehatan.

"Kita memahami apa yang sedang dipikirkan dan yang akan dibijaki oleh pemerintah ini, karena secara terbuka mudah dipahami kalau Pemerintah tidak mungkin akan bertahan lebih lama lagi dalam posisi PSBB yg ketat," ungkap Bustami.

Menurutnya, kondisi ekonomi akan tambah berat dan beban yang dipikul masyarakat tidak akan tertahankan, lantas muncul lah beberapa skenario yang salah satunya adalah New Normal.

"Mungkin penerapan New Normal bisa diterapkan (dan juga dipertahankan) di kalangan lembaga Pemerintah dan BUMN. Namun, berapa persen yg akan dapat bertahan dalam kondisi New Normal? Katakanlah kita berkalkulasi secara statistik jika ada 30 persen  dari penduduk yang bisa menerapkan New Normal, maka 70 persen lainnya masih menerapkan kebiasaan lama atau kenormalan lama atau 'Old Normal'," terangnya.

Sebanyak 70 persen ini menurutnya, merekayang dilihat sehari-hari masih belum terbiasa jaga jarak, belum terbiasa pakai masker, belum terbiasa cuci tangan dan muka setelah keluar rumah dan lain-lain kebiasaan yang baru diatur dalam tiga bulan belakangan,  yang disebut sebagai kebiasaan New Normal itu.

"Lantas apa yg bakal terjadi jika 70 persen penduduk masih dalam kondisi Old Normal? Bisa dibayangkan bahwa penduduk yg 30 persen (New Normal) akan berhadapan dengan penduduk yang 70 persen (Old Normal). Di kantor, mereka menerapkan New Normal, tetapi di jalan, di pasar, mall, kampung mereka berhadapan dengan penduduk yang mayoritas Old Normal,"  beber Bustami.

Ia menilai dalam kondisi pemerintah tidak mampu bertahan dalam PSBB yang ketat, ini adalah alternatif bukan yang terbaik, karena yang terbaik adakah berkurung dan bekukung, akan tetapi apa daya karena pemerintah tidak mampu dan kondisi ini harus dimaklumi bersama.

Terkait istilah Bekurung dan Bekukung di rumah. Bekurung yang artinya dikurung secara adat, di mana kita harus mengurung diri agar tidak sampai penyakit menjadi menyebar ke orang lain.

Kemudian Bekukung adalah dikukung secara aturan pemerintah, agama, hingga negeri dapat melalui musim wabah tersebut.

Tambahnya, yang kita hadapi ini adalah virus yang sama sekali baru dan belum ditemukan vaksinnya. Tingkat penyebaran sangat cepat. Secara ideal kebijakan adalah berkurung dan bekukung. Jika tidak mampu hanya ada alternatif keluar dari kurungan. Jika alternatif ini diambil, dengan kebijakan New Normal atau apapun, maka resikonya cepat atau lambat akan terpapar juga.

"Untuk itu saya cuma titip saran bagi keluarga untuk menjaga anggota keluarga inti masing-masing, jaga anak istri masing-masing. Ajari mereka protokol kesehatan untuk terbiasa dalam kehidupan New Normal, insyaAllah kita bisa menambah persentase penduduk kenormalan baru. Jangan lupa berdoa semoga kondisi ini segera berakhir, dan bahkan, kerinduan kita terhadap kenormalan lama, tradisi lama kita bisa kita hidupkan lagi kembali seperti semula,"  saran Bustami. (red.BR/Humas)


Topik

FISIP_UBB
. ayar