FISIP UBB, ICoAC 2020: Hadirkan 3 Narasumber Bahas Isu-Isu Milenial Asia

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 19 Juli 2020 19:19 WIB | Diupdate pada 19 Juli 2020 19:19 WIB


MERAWANG, UBB - Pertemuan ke-11 International Class on Asian Community 2020 diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, pada Kamis, 16 Juli 2020, pukul 14.00 WIB. Peserta yang mendaftar sebanyak 238 orang, yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Panita penyelenggara menyelenggarakan kelas internasional secara online atau daring dalam bentuk webinar, serta terbuka untuk umum. Tidak dibatasi hanya kepada peserta internal ICOAC 2020 saja.

Pertemuan ke-11 dari 17 pertemuan pada International Class on Asian Community memiliki tema ”Millennial Issues on Asia’s Friendship”. Kazuyo Futaesaku (Ph.D. Student - Kyoto University, Jepang), Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D. (Sosiolog Muda dan Direktur Yousure FISIP Universitas Gadjah Mada) dan M. Mufty Rakadia S. (Staff di Kedutaan Besar Indonesia di Uzbekistan) sebagai Narasumber, dengan Herza, M.A. (Alumni Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung dan sekarang menjadi Dosen) sebagai moderator dalam pertemuan tersebut. Acara dibuka oleh sambutan dari Komang Jaka Ferdian, M.Si. (Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Bangka Belitung) sebagai Welcome Speech.

Karakteristik Generasi Milenial

Mengawali perkuliahan, Kazuyo Futaesaku, yang fasih dalam menggunakan Bahasa Indonesia, menjelaskan tentang definisi milenial beserta karakteristik generasi milenial yang khas. Pada umumnya, generasi milenial memiliki lima karakteristik yang khas yang bisa menjadi rujukan bagi audiens untuk memahami generasi milenial. Namun bisa saja dari lima karakter khas tersebut, ada beberapa karakter yang kenyataannya tidak melekat pada mayoritas millenial dalam negara tertentu di Asia. Misalnya, soal karakter ‘yang tidak terlalu tertarik kepada agama’, diakui Kazuyo sendiri, bahwa karakter tersebut justru banyak terjadi pada millenial di negara-negara Barat. Di negara-negara tertentu di Asia (termasuk di Indonesia), justru para generasi millenialnya tampak tertarik terhadap hal-hal yang berkaitan dengan agama.

Beberapa contoh kasus disampaikan oleh Kazuyo, yang akrab dipanggil Yoyo, tentang gerakan/aksi positif yang dilakukan para generasi millenials di Jepang dan Hongkong yang beberapa waktu lalu mampu menyita perhatian publik dunia.

Memahami Generasi Muda di Indonesia

Oki Rahadianto Sutopo, Sosiolog Muda, Dosen dan Direktur Yousure (Youth Study Centre, FISIP UGM, pada sesi ke-2, memberikan perspektif yang “segar” dalam memahami dan mendefinisikan sebuah generasi. Jika umumnya, media atau para ahli berbicara kategori generasi semata-mata berdasarkan umur atau tahun kelahiran, menurut Oki, justru kita juga bisa memberikan penjelasan, definisi dan kategori sebuah generasi berdasarkan “pengalaman bersama” yang mereka lalui.

Dalam pemaparannya, Oki melalui media share screen menunjukkan kepada peserta sebuah gambar yang berisi kalimat: ‘bukankah generasi muda yang hidup di kota dengan ekonomi menengah ke atas, memiliki karakteristik dan kehidupan yang jauh berbeda dengan generasi muda di desa-desa yang hidup dengan ekonomi menengah ke bawah, meski sebenarnya secara umur, para generasi muda tersebut cenderung sama (atau yang biasa disebut sebagai generasi milenial)?’ “Perbedaan tersebut, yakni dipengaruhi oleh perbedaan pengalaman bersama yang mereka lalui, baik itu pengalaman positif, maupun pengalaman yang cenderung penuh resiko (negatif)”, jelas Oki.

Lalu, sebelum menyampaikan formula untuk menemukan “common ground” dalam mewujudkan kesatuan komunitas Asia, Sosiolog yang juga dikenal sebagai pakar kajian kepemudaan ini menegaskan bahwa karakteristik khas generasi muda di Indonesia yang menonjol adalah sangat menikmati keterbukaan informasi publik dan juga kebebesan berekspresi yang dilahirkan oleh demokrasi.

Sementara itu, formula untuk menemukan terkait dengan  apa yang disebutnya sebagai “Common Ground” untuk mewujudkan kesatuan komunitas Asia tersebut, Oki meringkasnya menjadi tiga poin penting, yakni pertama, kita harus melakukan kajian terhadap generasi muda dengan fokus pada memahami “keinginan dan perspektif yang mereka miliki”. Kedua, studi dengan  melampaui metodologi dan logika nasionalisme. Dengan kata lain, entri poin untuk memikirkan generasi muda, bukan lagi generasi muda satu negara, tapi paling kurang sebagai genarasi muda Asia (One Asia Community). Ketiga, menemukan “common ground” generasi Asia ‘baru’ dalam konteks pasca pandemi global (COVID-19).

Generasi Milenial Uzbekistan

Karakteristik masyarakat (khususnya generasi milenial) Uzbekistan, sebagaimana disampaikan oleh M. Mufty Rakadia S. (Staff di Kedutaan Besar Indonesia di Uzbekistan), pada sesi ke-3, tidak pernah menganggap ‘asing’ orang-orang yang sebetulnya asing bagi mereka atau orang-orang dari negara lain yang datang ke negara mereka. Hal ini perlu untuk diadopsi oleh milenial Indonesia dalam berinteraksi dengan orang-orang dari Asia atau benua lainnya.

Mufty juga menjelaskan tentang hubungan baik antara Indonesia dan Uzbekistan. Yang menarik adalah kisah Soekarno “menemukan” makam Imam Bukhari di Samarkand. Hal ini bermula dari undangan pemimpin Uni Soviet untuk berkunjung ke negaranya, namun Soekarno mengajukan syarat akan memenuhi undangan tersebut jika bisa menemukan kembali makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. Kisah Soekarno ini terus diceritakan hingga saat ini di Samarkand, Uzbekistan oleh penduduk setempat.

Kegiatan International Class on Asian Community 2020 akan tetap diselenggarakan dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang kompeten membahas persoalan pada masayarakat Asia. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah untuk menjembatani perbedaan identitas dan membangun kemitraan melalui pendidikan pada masyarakat Asia. (red.fisip/Humas)


Topik

FISIP_UBB
. ayar