Sukses Mengolah Sampah Pasar, Mahasiswa KKN UBB Batin Tikal Memproduksi Zat Perangsang Tumbuh dan Mikro Organisme Lokal

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 28 Juli 2020 16:49 WIB | Diupdate pada 28 Juli 2020 16:49 WIB


Dua mahasiwa KKN  Tematik UBB Angkatan XV di Kelurahan Batin Tikal sedang mencampurkan ekstrak Lidah Buaya sebagai bahan Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) di Laboratorium Agribisnis UBB.

PANGKALPINANG, UBB --  Setelah sukses membuat  pupuk organik cair (POC)   dari sampah Pasar Pagi Pangkalpinang,  mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Universitas Bangka Belitung (KKN UBB)  di Kelurahan Batin Tikal  kembali  sukses membuat  Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) dari  Lidah Buaya (Aloe vera) dan  bio-aktivator mikro organisme lokal (MOL) berbahan  dasar  tapai (tape).

Ketua Kelompok KKN UBB Batin Tikal Eriko menjelaskan sama seperti pembuatan POC, baik  ZPT dari Lidah Buaya maupun  MOL berbahan Tape,  merupakan salah satu dari program kerja (proker) devisi lingkungan KKN Tematik UBB 2020  yang bertemakan ‘Berkreasi dari Rumah untuk Pencegahan dan Edukasi Covid-19”.  KKN UBB Batin Tikal sendiri memiliki lima devisi dengan 10  proker.

“Seperti halnya pupuk organik cair yang telah kita panen pekan lalu, baik ZPT Lidah Buaya  maupun  MOL Tape, semuanya akan kita bagi-bagikan kepada warga Kelurahan Batin Tikal.  Terutama sekali kepada  kepada ibu-ibu PKK dan  praktisi urban farming,” ujar Eriko,   Ketua Kelompok KKN Tematik UBB Batin Tikal di Laboratorium Agribisnis, Selasa  (28/06/2020) petang.

Menurut Eriko, sebelum membuat ZPT dari Lidah Buaya,  mahasiswa KKN UBB terlebih dahulu membuat bioaktivator atau starter berupa MOL dari bahan  tape.  Diperlukan waktu lima hari proses fermentasi untuk memanen  biaktivator tersebut. Selanjutnya bioaktivator itu  mereka manfaatkan  untuk membuat  ZPT Lidah Buaya.

“Melalui MOL tape buatan sendiri,  pembuatan ZPT berbahan Lidah Buaya bisa jauh lebih murah.  Pasalnya, MOL tape  itu berfungsi sama dengan  bioktivator yang biasa dijual di pasaran.  Di sisi lain, cara pembuatannya pun tidaklah  rumit,” ujar  Eriko.

Di tempat terpisah, Brema Sinuaji Devisi Lingkungan KKN Tematik UBB mengemukakan MOL Tape selain berfungsi memecah unsur-unsur  yang terdapat   di bahan organik -- terutama dalam  pembuatan pupuk organik cair (POC) --,  ia juga dapat digunakan sebagai starter dalam  pembuatan pupuk kompos.

Sedangkan ZPT Lidah Buaya --  hasil fermentasi Lidah Buaya, air kelapa dan tetes tebu (molase) --  ,  lanjut Brema mengandung tiga horman penting untuk pertumbuhan tanam.  Hormon itu adalah  auksin, sitokinin dan giberelin.  

Ani Tyas Kusumaningrum, dari Devisi Lingkungan, menjelaskan fungsi hormon auksin di antaranya mempercepat proses pertumbuhan tanaman dan perkecambahan.  Mencegah kerontokan buah dan mempercepat proses pemasakan buah.  Sementara fungsi hormon sitokinin yaitu proses pembentukan akar dan cabang akar.  Mengambat  proses penuaan pada tanaman.

“Fungsi hormon giberelin  antara lain  merangsang pembentukan serbuk sari, memperbesar ukuran buah, dan apabila diberikan pada konsentrasi tertentu juga bisa merangsang pembentukan akar,” ujar Ani, mahaswa dari Prodi Biologi.

Mikro Organisme Lokal(MOL) hasil fermentasi tape (tapai) diperlihatkan oleh dua mahasiswi KKN Tematik UBB di Kelurahan Batin Tikal

Berbeda dari MOL Tape yang dapat dipanen setelah lima hari  fermentasi, ZPT Lidah Buaya baru bisa dipanen setelah 15 hari fermentasi.  Itu ditandai dari aromanya yang wangi dan warna yang menarik.

“Sama halnya dengan pupuk organik cair atau POC, proses pembuatan zat perangsang tumbuh atau ZPT itu pun akan kita sosialisasikan kepada ibu-ibu PKK nantinya.  Kita berharap semua sampah dapur dari bahan organik tidak lagi dibuang begitu saja.  Begitu pula Lidah Buaya yang tumbuh  di pot, atau  di halaman rumah,  bisa diproses menjadi ZPT,” ujar Ani.

KKN Tematik UBB Angkatan XV tahun 2020 berlangsung lebih dari sebulan.   Dimulai 15 Juli  dan berakhir 19 Agustus, diikuti 1.005 mahasiswa dan tersebar di 66 desa/kelurahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pada KKN UBB XV tiap kelompok KKN beranggotakan 15 orang.  Mereka berasal dari lima fakultas di UBB.  Tiap kelompok KKN diharuskan memiliki devisi, yaitu devisi kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan, lingkungan serta  dokumentasi dan  publikasi.

Kelompok KKN UBB di Kelurahan Batin Tikal sendiri  telah memproduksi  lebih dari 400 botol POC dari sampah organik Pasar Pagi Pangkalpinang, antara lain kulit nenas, bonggol pisang, rebung, sayur-sayuran, jeruk, buah naga, pepaya, nangka, dan kulit jagung. 

Selain itu, mahasiswa KKN UBB Batin Tikal telah membuat wayang kertas edukasi pencegahan Covid 19, masker kain, dan sedang memproduksi virtual tourism tur kota (city tour).

“Kami pun telah membagikan 25 paket bantuan  bahan pangan kepada warga yang memerlukan di Kelurahan Batin Tikal,”  ujar M. Ade Pratama,  Devisi  Kemasyarakatan KKN UBB Batin Tikal (Eddy Jajang J Atmaja)


Topik

KKN_UBB
. ayar