Resiliensi Nelayan Tradisional terhadap Tekanan Kerusakan Pesisir

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 17 September 2020 16:48 WIB | Diupdate pada 17 September 2020 16:48 WIB


Dr. Endang Bidayani, SPi, MSi,. (Dosen FPPB UBB) saat melakukan wawancara dengan salah satu nelayan tradisional di Dusun Tanah Merah Kecamatan Namang, pada kegiatan Penelitian Dosen Tingkat Universitas (PDTU) Tahun 2020.

MERAWANG, UBB - Kerusakan pesisir di Dusun Sampur Desa Kebintik Kecamatan Pangkalan Baru, dan Dusun Tanah Merah, Desa Baskara Bhakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, memberikan tekanan kepada nelayan tradisional. Agar tetap bertahan hidup, nelayan memiliki strategi resiliensi.

Hal tersebut terungkap dalam kegiatan Penelitian Dosen Tingkat Universitas (PDTU) Bangka Belitung tahun 2020. Peneliti utama dalam kegiatan ini Dr. Endang Bidayani, SPi, MSi., mengatakan, nelayan tradisional sangat terdampak dengan kerusakan pesisir, karena lokasi kegiatan penangkapan ikan berada dibawah tiga mil.

“Nelayan perikanan tangkap tradisional merupakan profesi yang terdampak langsung kerusakan pesisir. Hal ini disebabkan nelayan tradisional memiliki jangkauan melaut yang rendah (dibawah tiga mil) dan teknologi penangkapan ikan yang sederhana. Oleh sebab itu, penelitian ini akan menitikberatkan pada strategi resiliensi, utamanya nelayan tradisional terhadap tekanan pencemaran pesisir,” ujar Endang.

Nelayan tradisional di Dusun Sampur, Desa Kebintik, Kecamatan Pangkalan Baru, memiliki alat tangkap yang berbeda dengan nelayan di Dusun Sampur, Desa Baskara, Bhakti Kecamatan Namang. Nelayan di Desa Kebintik mayoritas mengunakan alat tangkap bagan tancap, dengan hasil tangkapan ikan ciu dan ikan tamban. Sedangkan nelayan di Desa Baskara Bhakti menggunakan jaring udang dan kepiting dengan menggunakan kapal bermesin tempel 3 GT.

Pendapatan nelayan tradisional, pada kedua desa tersebut pada masa paceklik berkisar Rp 300.000,- per bulan, sedangkan pada musim ikan sebesar Rp 800.000,- per bulan. Dimasa pandemi covid-19 sejak Maret 2020 sampai dengan sekarang, turut menekan perekonomian nelayan. Hal ini disebabkan penurunan daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi ikan.

“Meski berpendapatan kecil, namun nelayan mengaku tidak ingin beralih profesi. Karena usaha tersebut sudah digeluti mereka puluhan tahun. Nelayan tradisional memiliki karakteristik individu untuk resilien, meliputi: Insight, kemandirian, hubungan, inisiatif, kreativitas humor dan moralitas,” ungkapnya.

Strategi resiliensi nelayan tradisional terhadap tekanan pencemaran pesisir dampak penambangan timah adalah inovatif dan kreatif. Yakni masyarakat mencari usaha sampingan seperti menyewakan kapal, bekerja serabutan, dan berkebun. Anggota keluarga lainnya juga turut membantu bekerja, seperti istri nelayan bekerja sebagai tukang timbang ikan di tempat pendaratan ikan, anak nelayan yang sudah remaja berdagang kelapa muda dan lain-lain.(red.Bd/Humas)


Topik

FPPB_UBB
. ayar