Webinar Kebencanaan, Mitigasi Bencana Di Indonesia Dalam Perspektif Akademis Dan Kebijakan

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 25 Oktober 2020 20:08 WIB | Diupdate pada 25 Oktober 2020 20:15 WIB


MERAWANG, UBB - Pada hari Kamis 22 Oktober 2020, Universitas Bangka Belitung memprakarsai kegiatan seminar daring (Webinar) Kebencanaan dengan Tema “Mitigasi Bencana di Indonesia Dalam Perspektif Akademis Dan Kebijakan”. Webinar ini digagas dalam rangka membuka wawasan dan kesadaran masyarakat secara luas terkait pentingnya upaya mitigasi dan edukasi bencana di Indonesia.

Mitigasi dan edukasi terkait bancana sangat penting bagi masyarakat untuk meminimalisir resiko kejadian bencana. Selain pengembangan sain dan teknologi kebencanaan di lingkungan akademisi dan peneliti, penumbuhan budaya sadar bencana juga perlu diterapakan di masyarakat melalui pendidikan formal dan informal.

Hal ini ini sangat penting mengingat  posisi Indonesai yang berlokasi di Cincin Api Pasifik (wilayah dengan banyak aktivitas tektonik) menyebabkan Indonesia berhadapan dengan berbagai resiko bencana, antara lain letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir dan tsunami.

Disisi lain, faktor keragaman demografi di Indonesia juga menyimpan potensi bencana sosial yang serius. Penduduk Indonesia terdiri dari beragam etnis, kelompok, agama dan adat-istiadat. Banyak aspek yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat Indonesia, antara lain adalah aspek kesejahteraan/ekonomi. Hal-hal yang berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi ini perlu dikelola dengan baik, karena dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat yang dapat berkembang menjadi bencana nasional.

Kegiatan Webinar Kebencanaan UBB tersebut diisi oleh narasumber-narasumber berkaliber nasional, internasional dan lokal Bangka Belitung, yaitu Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc. P.hD. (Kepala BMKG Republik Indonesia), Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, Ph.D. (Direktur Pusat Unggulan dan Inovasi Teknologi Kebencanaan UGM/Adjunct Professor of UNESCO Chair on Geoenvironmental Disaster Reduction), Dr. Ibrahim, S.Fil., M.Si. (Rektor Universitas Bangka Belitung), serta Mikron Antariksa, A.Ks., M.Si. (Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung).

Dalam pemaparannya, Prof. Dwikorita Karnawati menjelaskan tantangan Indonesia menghadapi multibencana akibat posisinya yang berada pada zona subduksi akibat pergerakan lima lempeng bumi. Hal ini juga menyebabkan Indonesia terdapat banyak Gunung Api atau sering juga disebut berada pada daerah Ring of Fire. Keberadaan Indonesia pada daerah equator yang diapit beberapa samudera juga menyebabkan iklim di Indonesia dipengaruhi oleh banyak fenomena, sehingga memiliki dinamika dan kompleksitas kondisi asmospheric-oceanic.

Saat ini (hingga beberapa bulan ke depan), Indonesia sedang menghadapi fenomena La Nina dan MJO (Madden Julian Oscillation). Akibat dari fenomena ini terjadi pergerakan awan yang membawa banyak uap air di atas wilayah Indonesia sekitar garis equator. Dengan demikian, diprediksi akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di seluruh wilayah Indonesia. Pada bulan September, Oktober dan November, hujan dengan intensitas lebat banyak terjadi pada daerah tengah dan timur Indonesia, dan sebagian kecil wilayah barat.

Lebih lanjut, Prof. Dwikorita memaparkan bahwa dalam 100 tahun terakhir, terjadi trend peningkatan intensitas curah hujan harian makasimum di Indonesia, frekuensi kejadian hujan ekstrim juga semakin meningkat setelah tahun 1960-an. Demikian pula dengan frekuensi kejadian gempa bumi yang juga meningkat, bahkan gempa dengan magnitudo > 6.

Kepala BMKG ini mewanti-wanti bahwa jika kita (pemerintah dan masyarakat) tidak siap, dalam pandemi Covid-19 dan La Nina ini, dapat terjadi bencana dalam bencana. Oleh karena itu, pemerintah sedang mempersiapkan upaya mitigasi bencana dengan serius agar tidak ada korban (zero victim).

BMKG bekerjasama dengan beberapa stakeholder terkait sedang menyiapkan Meteorological Early Warning System (MEWS) multi hazard. MEWS merupakan sistem peringatan dini yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir dan instrumen-instrumen peringatan yang terintegrasi.

Namun, mantan Rektor UGM ini berpesan, teknologi secanggih apapun tidak akan memiliki arti apabila masyarakatnya tidak memahami dan tidak peduli dengan pentingnya kesiapsiagaan mengantisipasi bencana.

Senada dengan Prof. Dwikorita, Prof. Teuku Faisal Fathani dari UGM juga memaparkan tantangan Indonesia menghadapi bencana akibat dari posisi geografis Indonesia pada daerah Cincin api.  Beliau juga menegaskan pentingnya mitigasi bencana di Indonesia. Mitigasi bencana sangat berkaitan erat dengan berbagai aspek. Dari 17 sasaran dalam sustainable development goals (SDGs), 10 diantaranya berkaitan dengan mitigasi bencana.

Beliau mencontohkan misalnya angka kemiskinan meningkat hingga 35.6% akibat banjir tahun 2010 di Pakistas, 23.6% akibat siklon Haiyan di Filipina, dan 12.6% akibat banjir dan tanah lonsor di Sri Lanka. Pria penerima penghargaan Ikon Prestasi Pancasila 2019 dari BPIP ini mengungkapkan bahwa perlu adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan bencana di Indonesia dengan menganut asas fokus pada pengurangan resiko bencana (PRB).

Pengurangan risiko sangat kompleks, sulit dan perlu waktu untuk melihat hasilnya. Kondsi ideal dalam pengelolaan bencana adalah ketika aspek kesiapsiagaan, penanganan darurat, pemulihan, dan pengurangan resiko saling beririsan. Inilah yang disebut sebagai ketangguhan, tegasnya. Dalam perspektif akademis dan kebijakan, perlu disusun sebuah masterplan pengurangan resiko bencana, dimana adanya peguatan kebijakan dan kerangka kelembagaan saat darurat-mitigasi-respon-pemulihan, serta penguatan riset bidang kebencanaan. Suatu hal yang digarisbawahi dalam masterplan PRB adalah perlunya penegakan kedaulatan teknologi kebencanaan.

Pria yang aktif bekerjasama dengan BNPB dalam mengaplikasikan sistem peringatan dini bencana di Indonesia ini telah membuktikan bahwa Indonesia yang berstatus sebagai negara berkembang tidak hanya menjadi penonton dalam hal pengembangan teknologi kebencanaan dunia. Beliau bersama-sama timnya telah berhasil menggagas ISO 22327:2018 tentang sistem peringatan dini Longsor. ISO 22327:2018 adalah standard internasional (rujukan dunia) pertama yang diusulkan oleh Indonesia dan bahkan yang pertama dari negara berkembang.

Selain itu, ada juga SNI 8840:2019 & ISO 22328-1:2020 tentang Sistem Peringatan Dini Multi-Bencana yang telah diusulkannya. Inovasi teknologi yang dilahirkannya telah diterapkan di 33 provinsi 120 kabupaten/kota di Indonesia dan juga di berbagai negara. Terakhir, beliau berpesan bahwa tantangan terbesar dalam pengurangan resiko bencana bukanlah menyediakan alatnya, melainkan pelibatan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana serta koordinasi yang efektif antara pemerintah dan para pemangku kepentingan.

Pembicara ketiga adalah Dr. Ibrahim, S.Fil., M.Si. Pria yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Bangka Belitung ini memberikan perspektif yang berbeda dalam memandang kebencanaan. Materi yang disampaikannya adalah “Bencana dan Perubahan Lanskap Sosial-Politik”.

Dalam pemaparannya, Dr. Ibrahim menyoroti penyebab bencana alam di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Bangka Belitung sebagai dampak dari pengambilan kebijakan pemerintah yang kurang tepat. Misalnya kebijakan yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam yang terkesan memberikan kewenangan eksploitasi SDA yang kebablasan tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan.

Lebih tegas pria yang memiliki dua gelar doktor ini mencontohkan bagaimana aktivitas pertambangan memberikan dampak terhadap perubahan bentang lahan di sebagian besar wilayah Bangka Belitung, sehingga berkontribusi terhadap kejadian banjir yang dalam beberapa tahun belakangan ini lebih sering terjadi dan meningkat magnitudonya.

Dalam konteks sosial, bencana dapat menyebabkan perubahan tatanan sosial yang signifikan, bahkan traumatik yang serius. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan kerjasama semua pihak (pemerintah dan masyarakat) melalui penguatan kelembagaan dan sistem penanganan dan penganggaran. Selain itu, perlu adanya atensi lebih kepada kelompok rentan akibat bencana.

Pada sesi akhir para peserta disuguhi materi dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mikron Antariksa, A.Ks., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, Mikron mengangkat topik mitigasi dan kesiapan menghadapi bencana. Potensi bencana di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung antara lain adalah kebakaran hutan, kekeringan, banjir dan banjir bandang, puting beliung, gelombang ekstrim, abrasi, serta epidemi dan wabah penyakit.

Kejadian bencana di Provinsi Bangka Belitung terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 terjadi 277 kejadian bencana, kemudian meningkat menjadi 315 kejadian pada tahun 2018, dan 443 kejadian pada tahun 2019. Baru-baru ini (18 Oktober 2020) telah terjadi pula angin kencang dan banjir yang merendam puluhan rumah di daerah Kampung Dul. Sepaham dengan para narasumber yang lain, beliau juga menyampaikan bahwa asas yang saat ini dianut dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah perubahan paradigma dari responsif ke preventif, dan dari tanggap darurat ke pengurangan resiko.

Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab. Namun, tanggung jawab tersebut bersifat pentahelix (keterlibatan aktif pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi dan media). Pemerintah Bangka Belitung sendiri sudah memberikan atensi khusus dalam penanggulangan bencana. Hal ini dituangkan dalam salah satu misi Pemerintahan Gubernur Erzaldi, yaitu Meningkatkan pengendalian bencana dan kualitas lingkungan hidup. Memang masih terdapat beberapa tantangan dalam pengurangan resiko bencana di Bangka Belitung, antara lain belum semua Kabupaten/Kota di Babel yang memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Daerah tersebut adalah Kabupaten Bangka Barat dan Kabupaten Bangka Selatan.

Kegiatan Webinar Kebencanaan yang dimoderatori oleh Dr. Roby Hambali, S.T., M.Eng. (Dosen Teknik Sipil UBB) ini diikuti oleh 254 Peserta dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Jayapura. Para peserta sangat antusias denganmateri yang diberikan oleh para narasumber, sehingga forum diskusinya menjadi sangat interaktif. (red.Rv/Humas)


Topik

Fakultas_Teknik_UBB
. ayar