Cegah Abrasi Pantai yang Kian Meluas, Mahasiwa KKN UBB dan Aktivis Peduli Hutan Wanamena Tanam 7.000 Pohon Perepat di Pulau Medang

Penulis: Editor | Ditulis pada 09 September 2021 14:35 WIB | Diupdate pada 09 September 2021 14:58 WIB


TANAM PEREPAT --  13 mahasiswa KKN Tematik UBB berfoto bersama aktivis Peduli Hutan Wanamena, usai mereka memasang ‘ajir’ lokasi menanam pohon Perepat  yang berada di bibir pantai Pulau Medang, Rabu (8/09/2021). 

KOTA KAPUR, KKN UBB --  Sebanyak 13 mahasiswa peserta  Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Bangka Belitung (UBB) di Desa Kota Kapur, Mendo Barat, Rabu (8/09)  mengunjungi Pulau Medang.  Mereka  menanam Perepat sebanyak 7.000 pohon  di pesisir pantai seluas 7 hektar,   agar pantai tidak terkikis oleh  air laut.

Ketua KKN-T UBB Desa Kota Kapur Irfan kepada Dosen Pembimbing Lapangan KKN Eddy Jajang J Atmaja, Kamis (9/09) mengemukakan,   aksi sosial  menanam pohon Perepat itu dilakukan bersama Kelompok Peduli Hutan ‘Wanawena’ Kota Kapur,  mulai Rabu pagi hingga tiga bulan ke depan.

“Kemarin kami baru memasang ‘ajir’   sebagai penanda tempat  pohon Perepat akan ditanam.  Luas pantai yang baru diajir sekitar satu hektar,   enam hektar sisanya,   akan diajir pada keesokan harinya,” ujar Irfan, menambahkan karena air laut  pasang, kemudian  merendam pulau  mereka segera meninggalkan Pulau Medang.

Pulau Medang terletak di muara Sungai Menduk, yang berada di lokasi Selat Bangka. Pulau ini  berjarak 5 Km dari  Pelabuhan Nelayan Desa Kota Kapur,  dengan   luas lebih dari 10 hektar.   Pulau Medang berdampingan dengan Pulau Hantu,   keduanya  berada dalam wilayah Desa Kota Kapur, Bangka.

“Pulau Medang dan Pulau Hantu, sama-sama tidak berpenghuni.  Namun abrasi pantai pantai paling luas itu terjadi pada Pulau Medang.  Karena itulah kami menanam Perepat agar areal pantai kembali sedia kala,” tukas Irfan, mahasiswa Teknik Pertambangan UBB.

Mahasiswa KKN-T UBB bersama delapan personel dari  Wanamena menempuh perjalanan sungai selama kurang dari satu jam ke Pulau Medang.  Mereka menumpang kapal nelayan ukuran panjang 6 meter dan lebar 1,5 meter, dari Desa Kota Kapur ke Pulau Medang.

Dikemukakan Irfan, untuk menghijaukan pantai Pulau Medang diperlukan sekitar 7.000 bibit Perepat.  Bibit sebanyak itu telah disiapkan oleh Kelompok Peduli Hutan Wanamena di muara Sungai Meduk. Berjarak sekitar 5 km dari Pulau Medang.

“Bibit Perepat dibawa ke Pulau Medang menggunakan kapal.  Namun penanamannya di areal pantai dilakukan bertahap.  Target penanamannya tiga bulan, yaitu sebelum musim angin barat tiba.   Kalau musin angin barat tiba, air surut pada malam hari, sehingga kita tidak bisa menanam Perepat di pantai,” ujar Irfan menjelaskan.

UBB menerjunkan 14 mahasiswa untuk mengikuti KKN-T di Desa Kota Kapur.  Mereka selama empat bulan berada di Kota Kapur, terhitung sejak 12 Agustus 2021.  Tema utama KKN-T  UBB di Kota Kapur  tahun ini adalah  ‘Pendampingan Masyarakat Desa Kota Kapur Kabupaten Bangka dalam Meningkatkan Perekonomian melalui Pengembangan dan Promosi Wisata Sejarah Situs Kota Kapur dan Mina Agrowisata, Berkolaborasi antara Pemerintah,  Swasta dan Akademisi’.

Ketua KKN-T UBB Irfan mengemukakan sejauh ini  mahasiswa KKN   telah  berkordinasi dengan kepala desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan Kelompok Peduli Hutan Wanamena.

“Semua pihak di Desa Kota Kapur, sangat mendukung program dan keberadaanh mahasisa KKN UBB yang selama empat bulan mengabdi di desa yang terkenal di seantero dunia ini,” ujar Irfan.

Desa Kota Kapur yang dihuni 2.232 jiwa, dikenal sebagai lokasi prasasti  bertulis Kota Kapur.  Prasasti ini merupakan salah satu dari lima prasasti yang membuktikan adanya kerajaan maritim terbesar di Asean pada masa lalu, yaitu Kerajaan Sriwijaya.  

Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh J.K van de Maulen,       Desember 1892.  Prasasti ini pertama kali ditemukan tentang Sriwijaya, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan pada 29 Nopember 1920,  dan Prasasti Talang Tuo yang ditemukan 17 Nopember 1920.

Prasasti Kota Kapur merupakan prasasti yang berupa tiang batu bersurat.  Tulisan pada prasasti  menggunakan Bahasa Melayu kuno yang ditulis dalam aksara Palawa (Eddy Jajang J Atmaja)


Topik

KKN_2021
. ayar