+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
25 November 2021 | 09:47:30 WIB


Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital di Era Society 5.0


Ditulis Oleh : Gumiwang Aji Darma (Mahasiswa Jurusan Hukum UBB)

 

Pada tahun 2018 yang lalu Asosiasi Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) mengeluarkan hasil survey yang menunjukkan bahwa terdapat sekitar 91% dari jumlah total anak dan remaja usia belajar di Indonesia dinyatakan telah menggunakan akses digital internet, yang meliputi anak-anak dan remaja berusia antara 15-19 tahun. We Are Social Bersama Hootsuite juga melaporkan bahwa terdapat sekitar 12,5% dari pengguna internet di Indonesia ialah pelajar di rentang usia 13-17 tahun (Haryanto, 2021). Angka yang sangat besar,  menunjukkan bahwa para pengguna internet di Indonesia didominasi oleh kalangan anak-anak dan remaja.


Di Provinsi Bangka Belitung sendiri, Badan Pusat Statistik Bangka Belitung juga menyatakan bahwa jumlah remaja usia sekolah yang menggunakan akses internet di Bangka Belitung telah menyentuh angka 28,55% dari total keseluruhan remaja yang masih sekolah (babel.bps.go.id, 2021).


Menurut penulis sah-sah saja apabila terdapat anak atau remaja yang menggunakan akses internet, karena hal tersebut memang merupakan salah satu bentuk dari pengimplementasian konsep society 5.0— era di mana pemanfaatan teknologi internet  menjadi hal utama dalam menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal kependidikan.


Pembahasan “society 5.0” tidak dapat kita pisahkan dengan konsep “kewarganegaraan digital” yang dikemukakan oleh Mike Ribble (2015). Ia menjelaskan bahwa Kewarganegaraan digital adalah seperangkat pedoman kode etik yang membantu orang berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain melalui alat digital. Kewarganegaraan digital juga menetapkan penggunaan sumber daya digital yang tepat dan strategi untuk menjaga keamanan warga negara digital.


Menurut Mike Ribble (2015) terdapat 9 elemen penting yang harus ada dalam menunjang proses pengaplikasian internet bagi warga negara digital, di antaranya adalah ; Akses Digital (Digital Acces), Etika Digital (Digital Etiquette), Hukum Digital (Digital Law), Literasi Digital (Digital Literation), Komunikasi Digital (Digital Communication), Perdagangan Digital (Digital Commerce), Hak dan Tnggung Jawab Digital (Digital Right and Responsibility), Kesehatan dan Kebugaran Digital (Digital Health and Wellness) dan Keamanan Digital (Digital Security).


Dari 9 elemen tersebut, setidaknya terdapat tiga elemen paling penting yang berkaitan dengan lingkungan pendidikan secara virtual/daring. Pertama adalah akses digital (digital acces), yaitu terkait pemenuhan sarana prasarana demi menunjang kebutuhan para siswa dan guru dalam proses pembelajaran secara daring, seperti perluasan cakupan bandwidth internet, penyediaan perangkat-perangkat penunjang internet seperti gawai, laptop dan komputer, serta aplikasi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.


Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rohman sendiri mengatakan bahwa berdasarkan data tahun 2020 masih terdapat sekitar 41 Desa yang masih menjadi titik “Blankspot” yaitu daerah yang masih belum memiliki akses recover sinyal komunikasi apapun atau berjumlah sekitar 10,49%. Sementara itu, untuk wilayah yang hanya bisa mengakses sinyal 2G dan masih belum bisa mengakses internet terdapat sekitar 62 Desa atau 15,86 %. Angka ini tergolong sangat besar, mengingat bahwa Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi yang berbatasan langsung dengan Sumatera.


Selain itu, yang kedua adalah pemahaman dalam komunikasi digital (digital communication), yaitu sebuah proses komunikasi dengan pemanfaatan perangkat elektronik serta jaringan internet yang digunakan sebagai media penghubung antara guru dan siswa. Di-era society 5.0 seperti sekarang ini para guru juga harus memiliki kepiawaian dalam mengoperasikan perangkat elektronik serta memiliki keahlian dalam berkomunikasi dua arah yang dilaksanakan secara daring. Sehingga proses pembelajaran dapat lebih interaktif dan aktif. Hal tersebut juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan Internet of Thing (IoT) secara maksimal.


Untuk elemen yang terakhir, yakni literasi digital (digital literation) sebagai aspek yang sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara daring. Literasi sendiri tidak hanya berupa proses membaca saja, melainkan juga proses bagaimana menganalisis dan menggunakan data yang telah diperoleh. Pemahaman terkait literasi digital juga dapat meningkatkan kewaspadaan guru dan siswa dalam memilah berita bohong atau hoax.


Menurut hemat penulis, tentunya dengan masih banyaknya daerah di Bangka Belitung yang belum bisa mengakses internet, menjadi sebuah tantangan  bagi pemerintah untuk dapat semakin mempercepat proses pembangunan instalasi komunikasi. Di Era 4.0 seperti saat ini, dengan tidak adanya akses internet akan mengganggu kesiapan guru dalam pengusaan teknologi dan semakin menyulitkan kalangan guru untuk mencari media literasi digital. Oleh karena itulah terkadang kita juga masih dapat menemukan guru dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah. Selain masalah pada guru, permasalahan para siswa adalah masih sulitnya untuk memperoleh akses informasi dan sarana prasarana penunjang pribadi seperti ponsel, laptop dan lain sebagainya.


Dalam implementasi dari 9 elemen kewarganegaraan digital (9 element of digital citizenship), selain guru dan siswa, kepala sekolah juga memiliki peran yang sangat penting dalam memimpin dan membuat kebijakan yang baik di era society 5.0. 
Tidak hanya menggunakan 3 elemen yang penulis sebutkan di atas saja, melainkan seorang kepala sekolah juga harus benar-benar menguasai kesembilan elemen kewarganegaraan digital tersebut, karena kepala sekolah adalah kunci yang menentukan keberhasilan sekolah dalam transfer ilmu dan mendidik para siswa.

UBB Perspective

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM

AWAL MENUJU KEMANDIRIAN RUMPUT LAUT PULAU BANGKA

POPULARITAS MINUS KUALITAS

Ketika Pilkada Berakhir Penjara

TIGA MISI - TIGA KUALIFIKASI

Polemik Pemidanaan Kasus Xenia Maut

Mutiara Di Timur Belitung - Refleksi Sembilan Tahun Beltim

SAATNYA PERPUSTAKAAN BERINOVASI

Memilih Calon Abdi Masyarakat - Renungan Untuk Para Kandidat

Maling Berdasi itu Koruptor

Rakyat Berdaulat Tolak Politik Uang

Urgensi RUU Partisipasi Masyarakat

ENAM ALASAN GOLPUT MENGECIL

TUGAS, HAK DAN KEWAJIBAN DOSEN (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 4)

TUJUH TITIK RAWAN PILGUB

PERANG YANG RUGIKAN RAKYAT