Belum Dapat Kerja, Rektor UBB: Sarjana Baru Jangan Terlalu Khawatir

PANGKALPINANG (UBB) -- Rektor UBB Prof Dr Bustami Rahman MSc minta kepada alumni UBB untuk tidak perlu khawatir yang berlebihan, andai setelah diwisuda menjadi sarjana namun -- dalam beberapa waktu -- belum juga mendapat pekerjaan tetap.

“Sudah biasa bila seorang sarjana melalui suatu proses bekerja, yaitu dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, lalu kemudian ia menemukan pekerjaan tetapnya,” ujar Bustami ketika berbicara usai mewisuda 382 sarjana baru UBB di Hotel Novotel Bangka, Selasa (10/11/2015) pagi.

Kesulitan mendapat pekerjaan itu menurut Bustami, bukan hanya dialami oleh sarjana baru belakangan ini saja. Tapi hal serupa juga telah dirasakan oleh sarjana baru pada periode sebelumnya. Bahkan puluhan tahun lalu ketika ia baru lulus kuliah dari UGM, hal serupa ia rasakan.

“Kondisi ekonomi kita sekarang jauh lebih baik dibanding tahun ’70-an. Era ’70 dan 80-an itu juga sulit mendapat pekerjaan. Yang ideal memang menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” tukas Bustami.

Ia mengingatkan alumni UBB untuk tidak mengandalkan menjadi PNS merupakan satu-satunya pekerjaan. Selain peluang menjadi PNS terbatas, pemerintah sendiri pada hakikatnya tidak secara langsung menciptakan pekerjaan.

“Pemerintah dengan berbagai kebijakannya, menciptakan suasana yang kondusif sehingga melahirkan banyak lapangan kerja baru,” ulas Bustami.

Rektor UBB ini memaklumi dengan munculnya sejumlah pertanyaan dari diri sarjana baru. Seperti apa pekerjaan yang akan mereka peroleh, dan di mana mendapatkannya.

Sebagai ilustrasi, menurut Bustami, dilema untuk memperoleh pekerjaan bagi sarjana baru itu tidak saja dialami oleh Indonesia. Seluruh negera di dunia pun kini mengalami hal serupa.

“Merujuk kepada catatan statistik kini ada sekitar tujuh ratus ribu sarjana yang masih menganggur. Saya termasuk orang yang tidak percaya begitu saja ‘seratus-peratus’ (seratus persen-red) bila dikatakan tidak ada pekerjaan. Yang betul, kita menciptakan sendiri pekerjaan itu,” tegas Bustami.

Diakuinya sarjana baru bagaikan bibit yang mencari ‘lahan’ yang sesuai untuk mendapatkan pekerjaan. Bibit itu baru besar ketika menemukan lahan yang cocok untuk tumbuh.

“Saya bangga dan bahagia bila ada alumni kita membuat usaha sendiri, seperti café, toko atau usaha lainnya, ketimbang terus berharap mendapatkan pekerjaan lain,” ujar Bustami.

Pada wisuda ke 11, UBB mewisuda 382 sarjana baru sehingga alumni universitas yang berdiri tahun 2006 ini telah mencecah 3.000 orang. 

Dari 382 sarjana baru itu, sebagian besar atau 158 orang merupakan jebolan Fakultas Ekonomi. Disusul Fakultas Teknik 68 sarjana, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi 66 sarjana, Fakultas Hukum 61 sarjana dan Fisip 29 sarjana.

Rektor UBB menjelaskan 29 dari 382 sarjana baru lulus dengan predikat pujian atau ‘cumlaude’. Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi diraih oleh Eva Saptriani (21), alumni jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan dari Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi.

“Tahun 2015, UBB menggelar dua kali wisuda. 91 sarjana kita wisuda bulan Mei, dan Oktober ini 382 sarjana,” ujar Bustami.

Wisuda ke 11 berlangsung hikmat, dihadiri para orangtua wisudawan dan unsur muspida dan undangan lainnya. Setidaknya seribu orang memadati tempat wisuda di ruang seminar Hotel Novotel Bangka. 

Dalam Senat Terbuka UBB, Rektor Bustami Rahman kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara lain dari aspek intelektualitas dan moralitas. Tapi khusus dari sisi mentalitas ia akui perlu ditingkatkan.

“Kita jauh sekali ketinggalan dibanding negara Singapura dan Malaysia. Mereka itu lebih tanggap, disiplin, menghormati orang yang lebih tua. Kita kalah di situ saja. Tapi soal intelektualitas dan moralitas, terus terang kita tak kalah,” ujar Bustami (eddy jajang j atmaja) 

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.