Beras Singkong Produksi Mahasiswa KKN Bersama Di Desa Rukam

Hasil Produk Mahasiswa KKN Bersama di Desa Rukam berupa Beras Singkong atau yang kita kenal dengan ‘Nasi Aruk”, dari bahan pangan lokal menjadi makanan yang sehat, menarik, serta dikemas dengan rapi menghasilkan nilai jual yang tinggi.

MERAWANG, UBB - Potensi sumber daya alam yang dimiliki Desa Rukam Kabupaten Bangka, tak membuat Mahasiswa Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)  bersama kehabisan ide kreatif untuk menerapkan sumber daya ilmu yang telah mereka timba selama di bangku kuliah untuk diterapkan di masyarakat. Dari tangan-tangan kreatif Mahasiswa ini  menghasilkan produk lokal yaitu olahan singkong berupa ‘nasi aruk’ yang memiliki nilai ekonomis, serta salah satu solusi ketahanan pangan nasional. Ide yang dikembangkan Mahasiswa KKN Bersama ini merupakan perwakilan dari 23 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Wilayah Barat yang ditempatkan di Desa Rukam, Senin (21/8/2017).

Dalam hal ini, program Strategis Pemerintah Kabupaten (Penkab) Bangka melaui Mahasiswa KKN Bersama di Desa Rukam berupaya melakukan gerakan untuk menekan tingkat konsumsi beras di masyarakat dan mendorong peningkatan konsumsi pangan non beras bersumber daya lokal. Salah satu strategi yang diterapkan untuk itu yakni dengan mengampanyekan mengurangi konsumsi nasi melalui gerakan "Sehari Tanpa Nasi" atau "One Day No Rice", dan salah satunya adalah nasi aruk.

Selain bisa dijadikan sebagai pengganti nasi (dari beras), aruk (berbahan baku ubi) juga bisa dibuat berbagai anekaragam olahan, seperti aruk kirau (aruk goreng) dengan berbagai rasa, aruk kukus yang di campur dengan kelapa parut yang sudah di beri bumbu garam secukupnya, serta olahan makanan lainnya. Nasi aruk yang menyehatkan terbuat dari bahan ubi kayu dapat menjadi pilihan utama keanekaragaman makanan pengganti beras.

Masyarakat di Pulau Bangka, terutama petani di kampung-kampung mengkonsumsi Nasi Aruk pada masa paceklik. Saat distribusi beras mulai merata dan masyarakat dapat dengan mudah menemukan beras, konsumsi terhadap nasi aruk pun mulai berkurang. Nasi Aruk hanya dapat ditemukan di daerah-daerah pelosok kampung yang masyarakatnya masih berladang, dan itu pun sudah mulai sirna. Hal ini dikarenakan masyarakat masih kurang memahami nilai gizi sebuah jenis makanan secara keseluruhan, bahkan belakangan ini makanan menjadi alat penentu prestise yang diidentikkan dengan status sosial di masyarakat.

Dengan produk lokal dari olahan Ubi/singkong yang dikembangkan Mahasiswa KKN Bersama ini dapat memberikan kesadaran dan manfaat kandungan gizi yang cukup terdapat dalam tanaman ubi, dan nasi aruk memiliki kadar gula, protein dan lemak yang lebih rendah jika dibandingkan dengan beras, sehingga nasi aruk baik untuk dikonsumsi bagi penderita diabetes. Tidak hanya itu, mahasiswa KKN juga mengajak masyarakat Desa Rukam untuk memanfaatkan peluang ekonomis dengan mengembangkan pangan lokal dan kerajinan lokal sebagai peluang ekonomis menuju desa yang mandiri dan membangun keungulan desa.

Beras Singkong Spesial Khas Bangka yang merupakan nama produk lokal dari mahasiswa ini, sudah dilirik berbagai konsumen, bahkan disela-sela tim monev dari masing-masing perwakilan BKS PTN Barat memantau langsung ke lokasi KKN Bersama Desa Rukam beberapa pekan yang lalu, sempat menikmati langsung olahan nasi aruk yang disajikan oleh Mahasiswa KKN. Bahkan pajangan hasil produksi Mahasiswa yang dipresentasikan diminati tim monev, dan bahkan habis terjual serta ada yang memesan untuk dikirimkan kealamat masing-masing Universitasnya. 

Saat ini mereka sudah mengolah, memodifikasi maupun mengkreasikan makanan berbahan bahan pangan lokal ini menjadi makanan yang enak, menarik dan dikemas dengan rapi sehingga nilai jualnya juga bisa tinggi. Saat ini proses perizinan dan lebel makanan dari Dinas terkait (Dinas Kesehatan dan Dinas Badan Obat dan Makanan dan lain-lain) sedang diusulkan. Produk lokal beras singkong khas bangka ‘nasi aruk’, rencananya akan dipasarkan ke swalayan, supermarket dan kios-kios makanan yang ada di Bangka Belitung. 

Memenuhi kebutuhan tersebut, mahasiswa memberikan pelatihan bagi ibu-ibu Desa Rukam, agar bisa memproduksi beras aruk dengan kemasan yang menarik sebagai penghasil tambahan bagi masyarakat desa khususnya, sehingga setelah Mahasiswa KKN Bersama selesai pengabdiannya dimasyarakat akhir bulan agustus 2017 nanti, diharapkan bisa berkelanjutan dan menjadi produk unggulan lokal menuju desa mandiri.

Saat ini, upaya untuk mengangkat nasi aruk menjadi makanan pengganti beras telah banyak dilakukan terutamanya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat dalam mengkonsumsi beras. Nasi Aruk sudah mulai disajikan di beberapa kampung di Pulau Bangka pada upacara atau pesta-pesta adat, bahkan Penkab Bangka sendiri disetiap acara kedinasan akan membudayakan jamuan makan dengan mengkonsumsi makanan khas Bangka (Nasi Aruk). Beras Singkong Khas Bangka nantinya dapat dijadikan sebagai buah tangan ketika berkunjung ke Bangka Belitung. (Ags/Humas)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.