Cegah Terorisme, FKPT Gandeng LDK & Birokrasi Kampus UBB

CEGAH TERORISME - Mantan teroris Abdurrahman Ayub sebagai salah satu narasumber dikegiatan dialog tentang Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme kepada civitas akademka di Perguruan Tinggi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung.

MERAWANG, UBB - Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Universitas Bangka Belitung (UBB), menggelar dialog cegah terorisme dengan mengandeng Lembaga Dakwa Kampus dan Birokrasi Kampus di Perguruan Tinggi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung, berlandaskan Pancasila dan menjaga keutuhan Negara Kesatua Republik Indonesia (NKRI), bertempat di ruang vidio confren (vidcom) Fakultas Hukum (FH) Kampus Terpadu UBB Balunijuk, rabu (17/05/2017).

Kegiatan dialog yang bertema “Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme”, menghadirkan beberapa narasumber antara lain Konsultan BNPT DR Fadlolan Musyaffa’ Lc MA (Konsuler Kedutaan Besar RI untuk Mesir), Kepala Biro Kesra Setda Babel dan juga sebagai Ketua STKIP Muhammadiyah Babel Dr Asyaf Suryadin, Dosen Universitas Indonesia (UI) Dr Muhammad Syauqillah PhD, Dosen STAIN SAS Babel Dr Iskandar MHum, serta mantan teroris Ustad Abdurrahman Ayub. Kegiatan dialog melibatkan 140 peserta dari perwakilan mahasiswa, pengurus, aktifis LDK, dosen, pegawai dan birokrat kampus dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Babel.

Ketua FKPT Babel Riswardi MPd dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada pihak UBB  yang telah memfasilitasi kegiatan dialong ini, serta kepada seluruh peserta dialog yang hadir. Ia juga mengungkapkan sejak FKPT Babel berdiri tahun 2014, baru pertama kali masuk dikegiatan Kampus di Babel, “ini adalah lagkah pertama dan akan menyusul langkah selanjutnya”, imbuhnya.

Lanjutnya, peran universiatas sangatlah penting, persepsi masyarakat Babel terhadap kalangan kampus masih tinggi, mereka sangat berharap banyak bagi kampus ini, untuk membentuk manusia-manusia yang ungul, tidak hanya ilmunya tapi juga berakhlatul karimah.

Tujuan diadakan kegiatan dialong untuk meningkatkan pemahaman dan kerjasama dalam pencegahan terorisme bagi kalangan pengurus, aktifis LDK, akademisi dan pegawai birokrasi kampus khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dr Ir Ismed Inoenu MSi mewakili Rektot UBB sekaligus membuka acara dialog, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya hal yang paling mendasar didalam pembinaan LDK “pengalaman kami dalam membina mahasiswa adalah, didalam LDK itu jangan didominasi oleh salah satu fraksi atau ormas/orpol islam, sehingga kalau ia hiterogen didalam ia saling mengingatkan dan saling mencegah, tetapi kalau didominasi oleh salah satu ormas/orpol, maka tentu saja ini akan mengarah kepada hal-hal yang sesuai dengan aliran politik dan tujuan dari ormas/orpol tersebut”, ungkapnya.

Dalam dialog sesi pertama yang  dimoderatori langsung ketua FKPT Babel Riswardi MPd, dengan menghadirkan narasumber pertama DR Fadlolan Musyaffa’ Lc MA sebagai Konsuler Kedutaan Besar RI untuk Mesir, menyoroti kegiatan dialog dengan materi berkenaan radikalisme dan terorisme berkedok agama. Menurutnya menangkal radikalisme agama melalui pengembangan budaya lokal islam rahmatan lil alamin. “Indonesia sudah final sehingga tidak harus mendirikan khilafah atau negara Islam, pancasila sudah final dan NKRI harga mati”, tegasnya.

“Pancasila bukan agama dan agama bukan pancasila, pancasila adalah falsafah negara. Pancasila bukan jalan, tetapi titik temu persimpangan jalan yang berbeda-beda, yaitu titik temu antara perbedaan-perbedaan agama, perbedaan etnik, suku, budaya dan bahasa”, tukasnya.

Narasumber lokal Dr Asyaf Suryadin menyoroti pencegahan radikalisme dan terorisme dari perspektif kearifan lokal dan penguatan nilai-nilai budaya daerah, menurtnya ada tiga isu strategi bangsa, yang pertama krisis integritas (lemahnya etos kerja, daya saing dan kreatifitas), kedua krisis identitas yang melunturkan kepribadian gotong royong, dan yang ketiga pelemahan nasionalisme dari segi pendidikan. Dalam materinya ia banyak memberikan inspirasi dan potret sosial dengan menampilkan vidio-vidio pendek yang membangkit rasa nasionalisme dengan kata lain “kita harus perduli” terhadap gambaran kondisi negara dengan gerakan reformasi mental, ungkapnya.

Berkembangnya paham radikal dan terorisme menjadi momok yang menakutkan, karena kelompok-kelompok yang mengajarkan paham kekerasan ini melakukan propaganda dengan berbagai cara. FKPT Babel menggelar dialog pencegahan paham radikal dan terorisme agar tidak berkembang didalam kampus, karena peran mahasiswa dan birokrasi kampus sebagai agent of change dapat memberikan kontribusi di dalam pencegahan paham radikal sedini mungkin.

Disesi kedua, Dr Muhammad Syauqillah PhD yang merupakan dosen UI dan relatif masih muda, dan gelar S2 serta S3 ia tempuh di negara Turki, lebih menyoroti pencegahan terorisme dengan konsep pemahaman berbangsa dan bernegara belajar dari sejarah lahirnya pancasila dengan perspektif agama. Menurutnya perlu penanaman nilai-nilai pancasila dan nasionalisme, serta mengimplementasikan pedoman, penghayatan dan pengalaman pancasila (P4) dalam kehidupan untuk menangkal perkembangan dan pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

Selanjutnya, Dr Iskandar MHum menerangkan perlunya keterlibatan birokrasi kampus untuk memantau sejauh mana nilai-nilai keagamaan yang ditanam dan latar belakang terbentuknya kelembagaan keagamaan di perguruan tinggi, agar nilai-nilai keagamaan tidak disusupi oleh paham-paham tertentu dan perlu kontrol dari kampus, “kontrol yang baik adalah diajak dialog”, imbuhnya.

Dialog ini juga menghadirkan Ustad Abdurrahman Ayub selaku mantan panglima jamaah islamiyah (JI) sekaligus guru dari Imam Samudra, Amrozi Cs (terorisme Indonesia). Beliau menjelaskan pengalaman hidupnya ketika direkrut menjadi jamaah, namun sekarang sudah keluar dari jamaah islamiyah, “saya akhirnya kembali keasalnya, yaitu kembali ke NKRI dan kepangkuan Islam rahmatan lil alamin”, pernyataannya.

Ia diminta oleh BNPT dan FKPT untuk membantu menerangkan dan memotifasi kepada peserta dialog untuk tidak mengulangi perjalannya yang salah dimasa lampau. Ia juga tidak menepis paham radikalisme dan terorisme sudah masuk di kalangan kampus, karna pengalamannya sebagai mitra BNPT yang sudah berkeliling keperguruan tinggi di Indonesia, “itu memang ada yang sudah berpaham jamaah islamiyah (JI), jamaan ansharut tauhid (JAT), jamaah ansharut syariah (JAS), jamaah ansharut daulah (JAD)”, tegasnya.

Acara yang dimulai sejak pagi pukul 09.00 - 16.00 wib berjalan dengan baik, peserta sangat antusias mendengarkan paparan materi dari para narasumber, hal ini didasari tidak adanya peserta yang berkurang sampai akhir acara. Kegiatan dialog yang dikemas dengan konsep yang menarik, serta menghadirkan narasumber yang sangat inpiratit menambah antusias peserta dialog berinteraksi dengan berbagai pertanyaan, saran, serta kritik yang membangun, sehingga menambah wawasan peserta akan pentingnya pedoman, penghayatan dan pengalaman pancasila (P4) dalam kehidupan sehari-hari, serta menjaga keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara yang rahmatan lil alamin.

Melalui dialog ini, diharapkan LDK dan birokrasi kampus memiliki tanggung jawab yang besar, untuk memastikan bahwa kampus adalah wadah pencerahan kehidupan manusia melalui berbagai kegiatan pengajaran, penelitian dan pengamdian pada masyarakat, khusunya dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam secara nyata, serta meningkatkan peran mahasiswa dan birokrasi kampus dalam pencegahan faham radikalisme dan terorisme di setiap perguruan tinggi di Kepulauan Bangka Belitung khususnya. (Ags/Humas)

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.