DAMPAK PENAMBANGAN TIMAH LEPAS PANTAI TERHADAP EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN REBO DAN JELITI KECAMATAN SUNGAILIAT KABUPATEN BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Oleh : Indra Ambalika Syari, S.Pi, M.Si

Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang – UBB &

Wakil Ketua Yayasan Sayang Babel Kite

 

Potensi lain yang perlu diperhatikan dan menjadi ciri khusus di perairan laut Kepulauan Bangka Belitung adalah pertambangan timah di laut. Potensi yang hingga saat ini belum dapat berdampingan dengan potensi perikanan dan pariwisata. Hal ini karena pertambangan timah laut hingga saat ini tidak berdasarkan kajian daya dukung dan daya tampung lingkungan. Sebagai contoh, PT Timah Tbk memiliki 47 Kapal Isap Produksi (KIP) pada tahun 2014 (draft Dokumen Addendum Ponton Isap Produksi PT Timah Tbk, 2015). Sementara itu, beroperasinya KIP akan diikuti dengan beroperasinya TI Apung masyarakat. Secara rata-rata kapasitas buangan tailing TI Apung adalah 20 m3/jam sedangkan kapasitas buangan tailing KIP rata-rata adalah 250 m3/jam. Ini artinya dampak 1 KIP sebanding dengan 12 TI Apung. Padahal ada ribuan TI Apung di perairan Pulau Bangka. Dampak utama dari buangan langsung tailing ke laut membuat air laut menjadi keruh dan terjadinya sedimentasi yang dapat membahayakan ekosistem terumbu karang.

Hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung dari Tahun 2007 – 2013 (Dirilis Bangkapos, 15 Oktober 2013) menunjukkan hasil dari 41 lokasi spot ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka hanya 10 lokasi yang kondisi ekosistem terumbu karang dalam kondisi baik dan tidak terpengaruh dari aktivitas penambangan timah. Hampir semuanya dilakukan dengan metode Line Intercept Transect (LIT) yang merupakan metode standar pengukuran kondisi ekosistem terumbu karang yang berpedoman pada Hill, J. & C. Wilkinson. 2004. Data yang diperoleh adalah yang kondisinya belum terkena pengaruh tailing (sedimentasi) pertambangan yaitu 1 lokasi di Kabupaten Bangka, 6 lokasi di Kabupaten Bangka Tengah, 3 lokasi di Kabupaten Bangka Selatan dan tak satupun lokasi yang kondisi ekosistem terumbu karangnya baik di Kabupaten Bangka Barat. Lokasi titik terumbu karang yang telah dilakukan pengecekan antara lain 11 lokasi di Kabupaten Bangka, 11 lokasi di Kabupaten Bangka Barat, 9 lokasi di Kabupaten Bangka Tengah dan 10 lokasi di Kabupaten Bangka Selatan. Ironisnya, Lokasi yang kondisi ekosistem terumbu karang baik ternyata hampir semuanya merupakan terumbu karang di pulau-pulau kecil yang letaknya berjauhan dari pulau utama (Pulau Bangka). Bahkan untuk Pulau Dapur dan Pulau Punai Kabupaten Bangka Selatan dan Pulau Panjang, Ketawai dan Semujur Kabupaten Bangka Tengah kondisi terumbu karang di sekitar pulau tersebut telah banyak yang rusak karena terutup sedimen (siltation) akibat tailing dari buangan aktivitas penambangan timah.

Terumbu karang yang mati akibat siltation sangat sulit untuk melakukan pemulihan (recovery). Hal ini karena karang yang mati akibat siltation akan berubah tekstur substratnya dan kemudian akan ditumbuhi oleh makroalga (rumput laut). Jika hal ini terjadi maka secara ekologi, struktur komunitas yang awalnya adalah ekosistem terumbu karang telah berganti menjadi struktur komunitas makroalga. Berdasarkan hasil monitoring yang telah dilakukan Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB dari Tahun 2007 – 2015, spot karang yang awalnya alami dan indah kemudian terkena pengaruh dari dampak pertambangan sehingga menjadi ekosistem makroalga. Tak satupun dari spot tersebut yang kembali lagi (recovery) menjadi ekosistem terumbu karang yang indah dan sehat seperti sebelumnya. Hal ini dikarenakan laju pertumbuhan makroalaga yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan karang. Makroalga yang sudah tua kemudian mati akan menambah serasah dan nutrient dalam ekosistem tersebut sehingga akan menyebabkan keberlangsungan makroalga akan terus berlanjut. Sementara itu, lapisan lumpur (sedimen halus) dan banyak serasah bukanlah merupakan substrat yang cocok bagi planula karang untuk menempel dan tumbuh besar menjadi individu karang baru. Planula karang dapat menempel pada substrat keras, kasar stabil dan relatif bersih sehingga dapat melekat dengan kuat. Kenyataan inilah yang menjadi kekhawatiran para pakar biologi karang di seluruh dunia karena banyaknya ekosistem terumbu karang yang berubah menjadi ekosistem makroalga.

Perairan Rebo dan Jeliti Kecamatan Sungailiat dikenal sebagai kawasan yang memiliki pantai yang indah; berpasir putih dan dihiasi bebatuan granit yang eksotis. Selain memiliki potensi wisata, kawasan perairan ini pun memiliki kandungan timah yang sudah sejak lama ditambang. Bermula oleh penambangan timah dari perusahaan negara, PT Timah Tbk. Pada Agustus 2010 tampak oleh penulis ada sekitar 6 Kapal Isap Produksi (KIP) milik mitra PT Timah beroperasi di perairan Rebo. Sebelumnya, banyak TI Apung dan beberapa unit Kapal Keruk yang beroperasi di perairan ini. Karena masifnya kegiatan penambangan timah yang dilakukan dulunya di perairan inilah yang menyebabkan masyarakat banyak karang yang mati dan menghilang. Hal inilah yang membuat akhirnya nelayan di lokasi ini menangkap ikan ke lokasi yang lebih jauh.

Terdapat 4 (empat) daerah/spot terumbu karang yang diamati di perairan ini, yaitu: Karang Bambang Bui (Jeliti), Karang Bui (jeliti), Karang Kering dan Karang Melantut (Rebo). Masing-masing dua lokasi di perairan Rebo dan perairan Jeliti. Secara umum kondisi ekosistem terumbu karang di keempat lokasi tersebut sudah terkena pengaruh dampak penambangan yaitu tertutup oleh lumpur (silt) dari tailing buangan aktivitas penambangan yang terbawa arus laut hingga mencapai lokasi terumbu karang tersebut.

 

  1. Karang Melantut

Berdasarkan hasil kajian dari Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung (UBB), Kondisi Karang Melantut dan karang Bambang Bui yang paling parah karena tutupan lumpur sangat tinggi. Hasil pengambilan data di  Karang Melantut yang dilakukan pada Tahun 2015 bahkan menunjukkan bahwa 100% karang yang diambil datanya telah mati berubah menjadi tutupan karang mati yang tertutup lumpur, turf alga, corallit alga dan makro alga. Karang Melantut merupakan spot karang yang dapat dilihat dari Pantai Rebo dengan batu yang terdapat ditengah lautan dengan jarak sekitar 5,5 km dari pantai. Spot inipun dapat terihat dari Pagoda Puri Tri Agung Sungailiat yang berada diantara Pantai Rebo dan Pantai Tanjung Pesona Sungailiat. Hasil pengamatan tim eksplorasi terumbu karang pada 02 September 2008 menunjukkan kondisi terumbu karang di spot Karang Melantut masih sangat alami dengan tutupan 91,62% dan nilai indeks  mortalias karang 0,0756 (Nurtjahya, Agustina, Akbar 2009). Namun setelah tahun 2010 terumbu karang perlahan mati karena ada 6 unit KIP yang beroperasi disekitar perairan Karang Melantut dengan puluhan TI Apung yang beroperasi pula disekitar KIP tersebut.

Description: D:\PROMOSI\Rebo\IMG_4371.jpg

   

Gambar 1. Terumbu Karang Melantut yang Masih Alami pada Tahun 2008 (kiri).

 

Description: C:\Users\userpc\Pictures\Picture1.jpg

Description: C:\Users\userpc\Pictures\Picture2.jpg

(a)

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\rebo2\rebo bg fredy\malangTT\melantut sept 2012 .jpg

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\rebo2\rebo bg fredy\malangTT\PB040372.jpg

(b)

Description: F:\yayasan sayang babel kite\wisata bahari yayasan\Trip wisata yayasan SBK\Trip Rebo\10 April 2016\melantut rebo april 2016 2.jpg

Description: F:\yayasan sayang babel kite\wisata bahari yayasan\Trip wisata yayasan SBK\Trip Rebo\rebo 5 juni 2016\karang melantut juni 2016.jpg

(c)

 

Gambar 2. Kondisi Terumbu Karang yang Mulai Mati dan Tertutupi Alga Tahun 2012 (a), Tahun 2014 (b) dan Tahun 2016 (c).

 

Berdasarkan hasil pengambilan data di Karang Melantut pada Bulan Oktober 2014 diperoleh hasil pengambilan data Line Intercept Transect untuk Karang Melantut secara umum telah ditutupi oleh alga; makroalga, turf alga, corallite alga, dan Halimeda. Tutupan karang hidup 0% dengan indeks mortallitas karang adalah 1. Berdasarkan hasil pengambilan data, dapat diketahui bahwa lebih dari setengah (54,7%) tutupan karang telah berubah menjadi Turf Alga. Berdasarkan hasil monitoring dari tahun 2008 – 2016, telah terjadi perubahan struktur komunitas terumbu karang di karang melantut dari karang hidup –> karang mati tertutup sedimen lumpur (silt) -> ditumbuhi alga (didominasi oleh turfalga). Data detail per liveform dan titik koordinat lokasi dapat menghubungi Tim Eksplorasi Terumbu Karang  - UBB.

 

 

  1. Karang Bambang Bui – Tanjung Pesona Sungailiat

Kondisi di spot Karang Bambang Bui yang lokasinya tak jauh dari Pantai Tanjung Pesona Sungailiat lebih baik dibandingkan kondisi terumbu karang di spot Karang Melantut. Terumbu karang di daerah inipun mengalami tutupan lumpur yang tinggi karena berada di daerah yang tak jauh dari pantai. Tingginya aktivitas TI Apung di sekitar pesisir Pantai Rambak dan Pantai Tikus dari tahun 2002 – sekarang membuat akumulasi buangan tailing yang cukup parah. Bahkan pada tahun 2010 TI Apung beroperasi tak jauh dari Pantai Pesona yang letaknya pun berdekatan dengan Karang Bambang Bui. Hasil pengamatan LIT pada Juni 2010 dan Februari 2016 dapat menghubungi Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB.

Berdasarkan data yang didapat dari hasil analisis pengolahan data line intercept transect diperoleh kondisi terumbu karang di Bambang Bui secara umum dalam kondisi baik (53.8%) pada Juni 2010 dan menjadi sedang (37.34%) pada Februari 2016 sesuai dengan kriteria kondisi terumbu karang yang mengacu pada permen LH No. 04 Tahun 2001. Karang di Spot Bambang Bui didominasi oleh jenis karang Acropora. Kondisi terumbu karang secara umum secara umum berada dalam kondisi terancam karena tingginya tutupan lumpur (silt) pada tutupan karang yang dapat mengancam kondisi kesehatan karang bila jumlahnya semakin tinggi (15,1%). Hal ini diindikasikan dengan tingginya nilai indeks mortalitas karang (> 0,3).

Tingginya tutupan silt pada ekosistem terumbu karang di spot karang Bambang Bui perairan Pantai Tanjung Pesona Sungailiat diestimasi diakibatkan pengaruh buangan tailing dari aktivitas penambangan laut disekitar spot karang ini seperti air kantung, rambak, pantai tikus dan Rebo. Kondisi terumbu karang di spot karang Bambang Bui dapat dilihat pada foto di bawah.

 

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\pantai pesona\IMG_8954.jpg

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\pantai pesona\IMG_8929.jpg

 

Gambar 3. Kondisi Karang Di Spot Karang Bambang Bui yang Terpengaruh Lumpur (silt)

 

  1. Karang Kering Rebo

Karang Kering Rebo merupakan salah satu spot terumbu karang di Pantai Rebo Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka. Selain di daerah ini terdapat pula spot terumbu karang dengan nama yang sama ”Karang Kering” namun di lokasi yang berbeda yaitu Karang Kering – Bedukang yang terdapat di perairan Desa Bedukang Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka. Disebut Karang Kering karena karang ini kering atau terbuka saat air laut surut namun tertutup atau tidak terlihat dari daratan ketika air laut pasang. Pantai Rebo sudah lama menjadi kawasan wisata bahari di Kota Sungailiat dan telah dibangun beberapa fasilitas. Sayangnya, pantai ini rusak karena dijamah oleh Tambang inkonvensional (TI) darat dan TI Apung disekitar pantai dan perairan dangkalnya (Tahun 2001 – sekarang). Fasilitas-fasilitas yang semula dibangun terbengkalai bahkan menjadi camp illegal para penambang TI. Karang Kering berjarak 4,21 km dari Pantai Rebo dengan luasan sekitar 6,2 ha sebelah timur. Tak jauh dari spot Karang Kering terdapat spot terumbu karang ”Karang Melantut/Malang TT” dengan luas sekitar 27 ha yang berjarak sekitar 1,4 km arah selatan spot Karang Kering.

Kondisi terumbu karang di daerah ini kaya dengan keanekaragaman jenis karang yang cukup tinggi dan dipenuhi oleh jenis anemone laut daut dan ikan badut/clownfish. Sayangnya tutupan karang di bagian slope (tubir) ternyata banyak yang tertutup sediment. Ikan karang dan ikan asosiasi yang hidup di ekosistem terumbu karang banyak ditemukan. Ditemukan pula Tridacna squamosa dan T. maxima yang merupakan jenis kerang raksasa. Terdapat jenis lamun Thalassia hemprichyie dan Cymadocea rotundata namun sangat sedikit dan hidup diantara pasir-pasir bagian dangkal dari rataan karang. Jenis makroalga yang ditemukan a.l : Halimeda makroloba, Halimeda micronesica, Padina sp., Turbinaria sp.,dan Sargassum sp. Pada rataan karang yang mati, jenis Halimeda yang paling dominan ditemukan.

Lokasi ini merupakan daerah penangkapan bagi nelayan Rebo, dan nelayan dari daerah lain seperti Teluk Uber, nelayan Matras hingga nelayan dari daerah perkampungan Nelayan Sungailiat. Dulu di tahun 2008 masih terdapat bagan tancap yang tak berjauhan dari Karang Kering. Namun sekarang lokasinya semakin jauh ke tengah perairan. Hal ini diestimasikan karena turunnya kualitas air sekitar Karang Kering akibat aktivitas penambangan timah disekitarnya yang menyebabkan menurunnya hasil tangkapan nelayan sehingga nelayan membuat bagan yang lebih jauh. Selain nelayan bagan, di kawasan Pantai Rebo terdapat nelayan pancing, nelayan jaring dan nelayan bubu.

Selain kaya dengan sebaran fishing ground nelayan, kawasan laut Pantai Rebo juga kaya dengan sebaran Izin Usaha Penambangan (IUP) penambangan timah laut. Selain IUP milik PT Timah Tbk juga banyak sebaran IUP yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bangka (0 – 4 mil laut), salahsatunya adalah IUP milik PT ACL yang beroperasi diperairan antara pantai Tanjung Pesona dan Pantai Rebo. Hasil pengecekan kondisi spot Karang Kering yang telah dilakukan per liveform dapat menghubungi Tim Eksplorasi Terumbu Karang – UBB.

Pada Juni 2010, Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah pernah melakukan pengambilan data di spot terumbu karang di Pantai Rebo. Pengambilan data dilakukan dengan metode yang sama yaitu Line Intercept Transect. Berikut disajikan perbandingan antara data pada Juni 2010, Mei 2011 dan Oktober 2012 untuk melihat perbedaan kondisi ekosistem di perairan Karang Kering Pantai Rebo antara tahun berjalan tersebut.

 

Tabel 1.           Perbandingan Hasil Monitoring KarangAntara Juni 2010, Mei 2011 dan Oktober 2012

Parameter

Data

Jun 2010

Mei 2011

Okt 2012

% LC

68,3

63.5572

85

IMK

0,317

0.2757

0

H'

2.79404

3.24311

2,955

D

0.23865

0.21778

0,1677

E

0.73399

0.76346

0,8242

Keterangan :

% LC         : Persen tutupan karang hidup

IMK          : Indeks Mortalitas Karang

H’             : Indeks Keanekaragaman Shannon Winner

D              : Indeks Dominansi

E              : Indeks Keseragaman

 

Dari hasil data monitoring yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa telah terjadi penurunan tutupan karang hidup selama satu tahun (2010 – 2011) sekitar 5% namun meningkat menjadi 21,5%. Hal ini besar kemungkinan disebabkan oleh pengaruh sedimentasi akibat penambangan timah disekitar Pantai Rebo dan Jeliti telah semakin berkurang karena memang saat pengambilan data di perairan sekitar Pantai Rebo dan Pantai Tanjung Pesona Sungiliat telah tidak ditemukan KIP yang beroperasi. Hanya ditemukan beberapa unit TI Apung yang jumlahnya tidak sebanyak tahun sebelumnya. Namun hasil penelitian terakhir (Oktober 2015) tutupan karang hidup hanya 37,5% dimana artinya kondisi terumbu karang hanya termasuk dalam kriteria sedang (sesuai dengan Kepmen LH No. 04 Tahun 2001). Terjadi penurunan tutupan karang hidup yang cukup signifikan yaitu 47,5%. Hal ini menunjukkan memang kondisi terumbu karang di perairan Karang Kering Rebo dalam kondisi tidak stabil. Hal ini dapat dilihat dari tingginya nilai indeks mortalitas karang yaitu lebih dari 0,3.

Nilai IMK menjadi semakin menurun (2010 – 2012) yang menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan keanekaragaman karang di spot Karang Kering Rebo.  Namun nilai IMK semakin meningkat pada hasil analisis tahun 2015. Ini menunjukkan bahwa telah terjadi lagi ancaman bagi ekosistem terumbu karang meski kegiatan penambangan timah laut tidak semarak pada tahun sebelum 2010 di perairan Rebo dan Pantai Rambak. Hal ini menunjukan bahwa penambangan didaerah yang lebih jauhpun seperti di daerah Air Kantung dan Air Anyer teta memberikan pengaruh hingga ke perairan Rebo dan sekitarnya. Hal ini pun menunjukkan bahwa semakin terjadi seleksi alam jenis karang yang mampu bertahan terhadap kondisi perairan Rebo yang sejak tahun 2001 telah tekena dampak penambangan timah laut secara massal dari operasi TI Apung, KIP dan Kapal Keruk. Nilai indeks dominansi yang semakin kecil dan indeks keseragaman yang semakin tinggi menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang semakin baik dalam proses pemulihan pada ekosistem ini. Namun perlu diperhatikan bahwa kondisi terumbu karang yang baik ini hanya ada pada sisi bagian selatan, timur dan barat Karang Kering saja. Sedangkan pada bagian utara kondisinya sebagian besar sudah tertutup lumpur. Sama halnya dengan bagian tubir yang dalam, kondisi terumbu karang pun rata-rata sudah tertutup lumpur.

Hasil evaluasi dari program transplantasi karang untuk program rehabilitasi karang di spot Karang  Kering Rebo oleh tim eksplorasi terumbu karang UBB dari tahun 2011 – 2016 menunjukkan bahwa karang transplantasi yang ditanam pada tahun 2011 bertahan hidup dan tumbuh dengan baik sebanyak 50%nya hingga tahun 2014. Namun pada tahun 2016, karang transplantasi karang telah mati dan rusak akibat hantaman gelombang yang kuat pada puncak musim barat (bulan Desember – Januari) di perairan Karang Kering Rebo. Kondisi ini menunjukkan bahwa program rehabilitasi karang pun tidaklah mudah dilakukan meskipun telah dilakukan jauh dari tepi pantai. Hal ini karena kondisi perairan masuh sangat rentan keruh akibat masih beroperasinya kegiatan pertambangan timah di laut baik oleh Kapal Keruk, KIP maupun TI Apung disekitar perairan ini. Foto kegiatan transplantasi karang dapat dilihat pada Gambar 4.

Description: C:\My data\PKM\PKM 2010\PKMM-10-UBB-EKA-PEMBERIAN NAMA PELAJAR--\foto\Copy of P5280536.jpg

(a)

(b)

Description: F:\yayasan sayang babel kite\wisata bahari yayasan\Trip wisata yayasan SBK\Trip Rebo\10 April 2016\transplantasi karang rebo april 2016.jpg

(c)

 

Gambar 4.       Perkembangan Transplantasi Karang di Karang Kering Rebo Tahun 2011 (a), Tahun 2014 (b) dan Tahun 2016 (c)

 

 

  1. Karang Bui

Selain pengambilan data di Spor Karang Kering dilakukan pula pengambilan data di spot Karang Bui Rebo. Spot karang Bui berjarak sekitar 3,8 km dari spot Karang Kering sebelah Timur Laut (TL). Spot ini berjarak sekitar 7,1 km dari Pagoda Pantai Tikus Sungailiat. Karang ini memiliki luas sekitar 5,5 ha dengan kedalaman karang 4 – 9 meter saat air laut surut. Disekitar spot karang Bui terdapat beberapa bagan tancap milik nelayan berdasarkan hasil pengamatan bahkan dari hasil pengamatan tampak ada bagan yang dibuat di spot karang Bui dari sisa kayu pancang bagan yang masih tertancap dan telah ditempeli oleh karang. Namun pada tahun 2015, bagan mulai menjauh dan tidak ada lagi yang dekat dari karang Bui. Hal ini diestimasi karena hasil tangkapan di daerah yang dekat dengan pesisir yang kurang sehingga bagan semakin ke tengah.

Pengambilan data karang Bi dilakukan pada kedalaman 4 – 6 meter dengan panjang trasek garis LIT 70 meter dengan interval 20 meter. Pengambilan data dilakukan tegak lurus garis pantai dan dari hasil pengamatan karang jenis Acropora formosa, Acropora appressa dan Montipora aequituberculata yang paling banyak ditemukan. Hasil analisa data karang pada spot karang Bui lengkap per liveform dapat menghubungi Tim Eksplorasi Terumbu Karang – UBB.

Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui bahwa tutupan karang hidup pada Karang Bambang Bui adalah 32,14% dimana kondisi karang termasuk dalam kriteria sedang. Secara umum karang di spot karang Bambang Bui telah didominasi oleh karang mati yang tertutup alga (55,93%). Berbeda pada monitoring ayng dilakukan oleh Tim eksplorasi terumbu karang UBB pada spot karang Bambang Bui pada 7 Oktober 2012 (sekitar 2 tahun selang waktunya) adalah 60,33%. Sesuai dengan kategori Gomez dan Yap, 1998 dan kriterian terumbu karang berdasarkan Keputusan Menteri LH No. 04 Tahun 2001, nilai tutupan tersebut tergolong kategori Baik (>50%).  Artinyaselama dua tahun sudah terjadi penuruanan tutupan karang sebesar 26,19% pada spot karang Bambang Bui. Hal ini diestimasi oleh pengaruh dari aktivitas penambangan timah lepas pantai yang juga telah sedikit banyak berpengaruh pada spot karang ini. Namun secara umum kondisi terumbu akrang pada spot ini kondisinya lebih baik daripada tiga spot karang lainnya yang terdapat pada daerah lokasi studi. Foto kondisi terubu karang di daerah spot karang Bambang Bui dapat dilihat pada Gambar 5.

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\rebo2\Rebo melantut-krg kering-krg bui 10 mei 2014\P5100011.jpg

Description: F:\data\tim eksplorasi terumbu karang\rebo2\Rebo melantut-krg kering-krg bui 10 mei 2014\P5100006.jpg

(a)

(b)

 

Foto Diambil pada 05 Oktober 2014

Gambar 5.       Kondisi Terumbu Karang di Bambang Bui (a) dan Bekas Kayu Bagan yang Sudah Ditumbuhi Karang (b)

 

Berdasarkan hasil survey dan analisis data LIT di perairan Rebo dan Jeliti dapat disimpulkan bahwa seluruh spot karang yang diamati telah terpengaruh tutupan lumpur yang diestimasi dari buangan tailing aktivitas penambangan timah laut oleh Kepal Keruk, KIP ataupun TI Apung. Daerah disekitar lokasi memang masih terjadi aktivitas penambangan timah hingga saat ini. Tingginya nilai indeks Mortalitas Karang menunjukkan kondisi terumbu karang dalam kondisi yang tidak aman. Meskipun tidak ada aktivitas penambangan KIP dilokasi yang dilakukan pengambilan data, namun ada aktivitas penambangan KIP, TI Apung dan terkadang dating kapal keruk di lokasi sekitar seperti di perairan Air Kantung, Jeliti, Air Anyer bahkan di pesisir Pantai Rebo dan Tikus masih dijumpai TI Apung yang terus beroperasi.

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.