Dr Nor Lelawati: Halal Food Memajukan Industri Pariwisata

STADIUM GENERALE -- Dr  Nor Lelawati Jamaludin,  salah seorang pensyarah (dosen) dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia, memaparkan pentingnya menerapkan konsep halal  pada  industri  pariwisata dalam stadium generale (kuliah umum) yang ia berikan di Ruang Pertemuan Besar Rektorat UBB, Balunijuk, Merawang, Senin (25/09/2017) pagi. 

MERAWANG, UBB --  Universitas Bangka Belitung (UBB) menjadi tuan rumah University Network (Uninet) atau jaringan kerjasama antaruniversitas yang berada dalam negara Kerjasama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Salah satu bentuk konkret dari Uninet IMT-GT yang sejak Senin (25/09/2017) bersidang secara maraton di Novotel Bangka, tuan rumah, UBB,   menggelar stadium generale  (kuliah umum) tentang makanan halal dan pariwisata (Halal Food and Tourism) di Ruang Pertemuan Besar Rektorat UBB, Balunijuk, Merawang, Senin pagi.

Tampil sebagai pembicara tunggal dalam acara yang dihadiri  seluruh dekan dari lima fakultas di UBB dan puluhan mahasiswa/i UBB  itu  adalah Dr  Nor Lelawati Jamaludin.  Ia merupakah salah seorang pensyarah (dosen) dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Shah Alam, Selangor, Malaysia.

Dalam  kuliah umum yang dimoderatori Dr Eddy Nurcahya, Nor Lelawati mengemukakan  halal food  menjadi isu penting yang saat ini telah dipraktikkan oleh  sejumlah negara berpenduduk Muslim, baik di sektor pelancongan maupun di sektor jasa lainnya.

“Sejauh ini praktik  atau upaya menerapkan halal food  di semua sub sektor pariwisata, misalnya perhotelan, usaha perjalanan, dan lain-lain, tidak hanya mendapat sambutan positif dari kalangan wisatawan beragaman Islam saja. Melainkan wisatawan bukan beragama Islam pun menyokong, karena  proses halal  yang diterapkan tak cuma menitikberatkan  tentang praksis syar’i  belaka.  Melainkan secara keseluruhan  menghasikan suatu  kebersihan , kesehatan dan ketentraman bagi semua wisatawan,” papar Nor Lelawati.

Menyadari begitu besarnya manfaat atau faedah  dari  semua usaha apapun  yang  penerapkan konsep halal, menurut   peraih gelar Ph.D dari salah satu universitas di Norwegia itu  pada tahun 2001 UiTM  mendirikan lembaga  yang diberi  nama  Halalmas.

“UiTM menubuhkan (mendirikan) Halalmas.  Lembaga ini bukan hanya melakukan penelitian yang berkaitan dengan produk halal saja.  Tapi  juga  terlibat aktif dalam  memberikan  konsultasi mengenai isu-isu halal,  serta   pelatihan dan pengembangan   bagi usaha besar, sedang dan skala kecil  dalam hal  memproduksi makanan halal,” ujar Nor Lelawati.

Di Malaysia, lanjut Nor,  sejauh ini Halalmas UiTM telah  menggandeng sejumlah mitra kerja,  baik untuk kepentingan penelitian bersama maupun dalam konteks menerapkan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan  halal.    

“Mitra Halalmas UiTM itu antara lain  Jabatan Kemajuan Islam Malaysia atau JAKIM,  Jabatan Agama Islam Selangor atau JAIS, dan Kementerian Kesihatan Malaysia,  “ ujar Nor dalam acara yang juga dihadiri dua petugas dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bangka Belitung.

Menjawab pertanyaan salah seorang dosen UBB, Nor mengemukakan Univesity Network merupakan wadah yang sangat strategis dalam hal berbagi ilmu dan  teknis menerapkan konsep halal dalam banyak usaha dan produk di antara anggota  IMT-GT.

“UiTM  tentu saja membuka diri bagi semua  peserta Uninet atau kalangan usaha manapun  untuk mendapatkan ilmu dan teknis menerapkan konsep halal,”  terang Nor.

“Termasuk juga, di antaranya program pertukaran mahasiswa  UiTM dengan mahasiswa dari  universitas anggota Uninet,” sambung Nor.

 Halalmas UiTM sejauh ini telah menyelenggarakan pelatihan halal bersama lembaga lain di Malaysia.  Di antaranya dengan MITRAN, MISDEC (Melaka) dan JAIS.  Staf Halalmas pun kerapk tampil sebagai pembicara tamu dalam pelatihan halal yang digelar Perbadanan Pembangunan Industri Halal (HDC) serta  perguruan tinggi lainnya  di Malaysia.

Sejumlah penelitian tentang halal telah dilakukan Halalmas UiTM.  Seperti memproduksi bubuk enzim bromelain sebagai pemotong daging halal dari kulit nanas dan mahkota.

Kerja sama Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) berdiri pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ke-1 di Langkawi, Malaysia, pada 20 Juli 1993. IMT-GT ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah perbatasan negara-negara IMT-GT.

Melalui kerja sama IMT-GT, sektor swasta terus didorong menjadi “engine of growth”. Untuk tujuan tersebut telah dibentuk suatu wadah bagi para pengusaha di kawasan IMT-GT yang disebut Joint Business Council (JBC). JBC secara aktif  ikut dilibatkan dalam rangkaian SOM/MM IMT-GT setiap tahunnya.

Wilayah Indonesia yang menjadi bagian dari kerja sama IMT-GT adalah provinsi-provinsi: Aceh, Bangka-Belitung, Bengkulu, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat

Perkembangan IMT-GT

Pada KTT IMT-GT ke-5 di Hanoi, Vietnam, tanggal 28 Oktober 2010, para pemimpin IMT-GT mengadopsi Joint Statement of the 5th IMT-GT Summit yang antara lain berisi mengenai: perkembangan proyek-proyek IMT-GT terutama yang berkaitan dengan perwujudan sub-regional connectivity dalam mendukung ASEAN Connectivity, Mid-Term Review of the IMT-GT Roadmap 2007-2011, Business Process Review yang dilakukan oleh Eminent Person Group (EPG), pentingnya peran swasta dan pemerintah daerah dalam pengembangan IMT-GT, peran ADB sebagai IMT-GT Development Partner, dan kerja sama dengan IMT-GT dengan Jepang dalam Economic Research Institute of ASEAN and East Asia (ERIA). Sampai saat ini telah diadakan 15 kali Pertemuan Pejabat Senior (SOM) dan Pertemuan Tingkat Menteri (MM) dan 5 kali KTT IMT-GT.

IMT-GT Sub-Regional Connectivity

KTT ke-2 IMT-GT di Cebu, Filipina, 12 Januari 2007 telah menyepakati untuk mengembangkan IMT-GT Connectivity Corridor  menjadi pusat kegiatan ekonomi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di sub-kawasan.

Implementasi konsep IMT-GT Connectivity Corridor di 5 (lima) koridor ekonomi yang dipandang paling potensial dan telah memiliki traffic yang relatif tinggi dan perlu ditingkatkan yaitu: (i) koridor ekonomi Songkhla-Penang-Medan Economic Corridor, (ii) Koridor ekonomi Selat Malaka, (iii) Koridor ekonomi Banda Aceh-Medan-Dumai-Palembang, (iv) koridor ekonomi Melaka-Dumai dan (v) koridor ekonomi Ranong-Phuket-Aceh.

Pada KTT ke-4 di Hua Hin, Thailand, 28 Februari 2009 para pemimpin IMT-GT kembali menekankan mengenai pentingnya pembangunan IMT-GT Connectivity Corridors. Pengembangan connectivity corridors perlu dimasukkan dalam perencanaan pembangunan nasional. Selain itu, para pemimpin IMT-GT juga memandang perlu penguatan maritime transport links dan perdagangan melalui  Selat Malaka. Dalam hal ini telah terdapat 13 (tiga belas) pelabuhan yang tergabung dalam Joint Business Councils (JBCs) IMT-GT Coastal Network.

IMT-GT telah menetapkan IMT-GT Baseline Priority Projects Connectivity (PCPs) dalam rangka meningkatkan konektivitas di wilayah IMT-GT. Diantara proyek dalam kerangka PCPs adalah Sumatera Ports Development Project, Melaka-Dumai Economic Corridor Multimodal Transport Project, Melaka Pekanbaru Power Interconnection, dan Development of Aceh Highway Facilities.

Pada KTT ke-5 di Hanoi, Oktober 2010, para pemimpin IMT-GT menyatakan bahwa PCPs dapat menjadi concrete and visible building blocks bagi ASEAN Master Plan on Connectivity.​ (Eddy Jajang jaya Atmaja,  http://www.kemlu.go.id).

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.