Efektifitas Terumbu Karang Buatan Bagi Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang

Sekitar sepuluh tahun berlalu sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis sehingga penambangan timah skala masyarakat diperbolehkan, kini penambangan timah di darat Pulau Bangka dan Belitung dirasa mulai tidak potensial lagi untuk dilakukan. Hasil yang didapat dari penambangan timah darat semakin sedikit sedangkan biaya operasional terus meningkat. Apalagi lokasi penambangan timah darat semakin sulit karena hutan lindung dan daerah serapan air pun telah banyak dijarah oleh keserakahan penambangan timah inkonvensional (TI) di darat. 

Saat ini tren penambangan timah di Pulau Bangka mulai bergeser ke daerah laut. PT Timah Tbk bersama mitranya semakin menambah armada kapal keruk dan kapal hisap. Smelter-smelter pun ikut berlomba-lomba mendatangkan kapal hisap-kapal hisap baru. Masyarakat pesisir mulai banyak yang beralih dari nelayan ikan menjadi nelayan timah (fisher tin). Perahu-perahu mereka tak lagi menangkap ikan tapi berganti untuk memburu timah di daerah pesisir pantai. Selain itu, banyak pula jenis TI Apung ponton dan penambangan timah di daerah pinggir pantai. Dampaknya, kerusakan pesisir di Pulau Bangka terutama ekosistem terumbu karang terus meningkat.

Terumbu karang memang merupakan ekosistem yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis tinggi. Namun, ekosistem yang kaya ini sangat rapuh terhadap perubahan lingkungan yang membuat ekosistem ini merana dan akhirnya mati. Sebagai bentuk kepedulian pihak swasta yang menambang timah di daerah laut (termasuk PT Timah Tbk) dan pemerintah daerah terhadap kerusakan ekosistem ini adalah dengan membuat ekosistem terumbu karang buatan. Ini merupakan salahsatu bentuk tanggung jawab mereka terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang yang semakin nyata di pulau ini terhadap generasi masa depan mengingat ekosistem terumbu karang merupakan sumber pangan masa depan karena merupakan tempat tinggal, tepat memijah dan tempat berlindung biota-biota laut yang kaya dengan sumber protein. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Selain itu, ekosistem ini merupakan ”pelindung alami” daerah pesisir dari abrasi pantai yang jika menggunakan penahan ombak buatan akan menghabiskan anggaran yang sangat mahal dan ekosistem ini merupakan potensi besar bagi perkembangan wisata bahari yang akan dijadikan sebagai sektor unggulan pasca penambangan timah di daerah ini.

Penanaman terumbu karang buatan merupakan salahsatu langkah rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka khususnya dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada umumnya. Penanaman terumbu karang buatan diharapkan dapat membantu dan mempercepat pemulihan terumbu karang yang rusak dengan meningkatkan atau menambah proses alamiah dari kemampuan pemulihan karang. Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka pada tahun 2008 talah melakukan penanaman sebanyak 100 buah terumbu karang buatan yang terbuat dari beton senilai Rp 890 juta dari dana APBD murni tahun 2008. Terumbu karang buatan sudah disebar di sepanjang pantai Parai Tenggiri Sungailiat, yang berlokasi dua mil dari bibir obyek wisata pantai paling terkenal di Pulau Bangka (antaranews.com, 07 November 2008). Dijelaskan bahwa proyek peyebaran terumbu karang buatan ini untuk melestarikan dan meningkatkan aneka jenis spesies kembali biota laut. Tahun 2009 Propinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Dinas Kelautan dan Perikanan telah menyiapkan dana untuk mengadakan proyek penanaman karang buatan di 500 titik yang tersebar di seluruh kawasan Propinsi ini dengan anggaran yang jauh lebih besar. Tapi, apakah penanaman terumbu karang buatan yang menghabiskan dana miliaran rupiah tiap tahunnya di propinsi ini merupakan langkah yang paling efektif dan efisien?

Ada beberapa macam metode rehabilitasi karang, salahsatunya adalah dengan pemasangan atau penanaman terumbu karang buatan. Untuk menentukan bentuk konstruksi, bahan dan metode pemasangan harus dilakukan kajian awal agar proyek rehabilitasi yang mahal ini memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Kajian itu pun dilakukan dengan melihat faktor oseanografi, topografi dasar perairan dan penelitian ekosistem terumbu karang di sekitar lokasi pemasangan. Metode-metode perbaikan kondisi untuk pertumbuhan karang harus dapat menghilangkan tekanan yang ada. Ini harus selalu menjadi prioritas utama karena pemasangan terumbu karang buatan diharapkan pula dapat mendorong proses pemulihan alami ekosistem terumbu karang. Belajar dari proyek pemasangan terumbu karang di Pantai Utara Jawa Tengah yang telah menghabiskan dana miliaran rupiah namun hampir tidak menunjukkan hasil karena tidak menggunakan penelitian awal (kompas, 2 Oktober 2006). 

Terumbu karang buatan di Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung biasanya dibuat dengan bentuk mangkuk yang diberi lobang dari bahan beton. Terumbu karang buatan ini diletakkan di sekitar ekosistem terumbu karang dengan harapan agar dapat menjadi tempat larva karang menempel dan tempat bermain berbagai jenis ikan. Apakah itu hasil yang diperoleh? Karang buatan yang berbahan dasar beton bukan hanya menjadi tempat menempel karang, namun menjadi tempat tumbuhnya alga dan biota laut bercangkang seperti teritip. Selain itu, bentuk mangkok dengan diberi lobang dengan diameter tertentu hanya akan menjadi tempat berlindung jenis-jenis ikan tertentu saja. Biaya pemasangan terumbu karang buatan atau substrat buatan yang mahal untuk daerah yang luas seharusnya dilarang untuk terumbu karang yang terdegradasi dalam daerah perluasan yang besar. Patahan-patahan karang yang mati (rubber) sebenarnya dapat menjadi substrat yang sesuai untuk menempelnya larva-larva karang yang kemudian tumbuh menjadi organisme baru dalam memulihkan ekosistem terumbu karang alami tanpa harus membuat terumbu karang buatan dengan biaya yang mahal.

Banyak program rehabilitasi ekosistem terumbu karang terbukti tidak efektif atau layak dalam skala besar (km2), baik secara ekonomis maupun ekologis. Tidak masuk akal bila rehabilitasi yang mahal dilakukan pada saat faktor kerusakan tetap terjadi. Selanjutnya, proses pemulihan alamiah mungkin sudah terjadi dan dapat terganggu dengan kegiatan rehabilitasi ini dan malah dapat lebih merugikan daripada menguntungkan. Penilaian dilakukan secara hati-hati sebelum menentukan apakah intervensi aktif dapat lebih berguna. Dalam banyak kasus, pemulihan alamiah lebih baik daripada “penyembuhan” yang riskan dan mahal. Program konservasi dengan melibatkan peran serta masyarakat peisir untuk menjaga dan mengelola ekosistem terumbu karang jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan memperbaiki (rehabilitasi). Jika demikian, apakah pemasangan terumbu karang buatan dengan biaya yang mahal akan meninggkatkan keberhasilan pemulihan karang? atau dengan membiarkan proses pemulihan secara alami dengan biaya yang lebih efisien bahkan tanpa biaya jauh lebih efektif dan efisien untuk dilakukan?. 

 


Written By : Indra Ambalika, S.Pi
Ketua Tim Eksplorasi – Universitas Bangka Belitung
Kepala Laboratorium Perikanan FPPB – UBB (indra-ambalika[At]ubb.ac.id)

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.