Garap Sejumlah Penelitian, Belitong Island Geopark Tetapkan UBB Mitra Strategis

FOTO BERSAMA --   Wakil Rektor II UBB Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc berfoto bersama Tim Belitong Island Geopark (BIG)  yang diketuai Dyah Erowati dan sejumlah pejabat Belitung Timur, usai rapat bersama  di Ruang Rapat Kecil Retorat UBB,  Rabu  (07/06/2017) siang. 

MERAWANG, UBB --    Belitong Island Geopark (BIG)  menjalin kerjasama  penelitian dengan Universitas Bangka Belitung (UBB).  BIG memosisikan UBB  sebagai  mitra strategis  dalam kerangka mewujudkan Belitong Geopark sebagai geopark yang  bertaraf internasional dan global.

“BIG menempatkan UBB sebagai strategic parteners.  Sebab,  kehadiran geopark itu  selain berfungsi sebagai konservasi dengan  melibatkan peranserta masyarakat sekitar, pun harus ada unsur edukasi dan penelitian,” ujar Dyah Erowati, General Manager BIG,  dalam pertemuan antara  tim BIG  dengan  UBB yang dipimpin Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (Warek II UBB)  di Ruang Rapat Kecil Rektorat, Rabu (07/06/2017) siang hingga petang.

Mengenai  geopark itu sendiri, Dyah yang mengutip definisi Unesco  menjelaskan adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka, termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya, dimana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

“Latarbelakang dikembangkannya geopark adalah untuk melindungi keragaman geologi yang terancam dan menjadi permasalahan nasional.  Fenomena menunjukkan banyak sumberdaya geologi yang dieksplorasi  sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan kepada masyarakat lokal,” ujar Dyah dalam pertemuan kemarin yang dihadiri pelaksana tugas Seda Belitung Timur (Beltim), Kepala Dinas Pariwisata dan Bappeda Beltim.

Disebutkan, pengembangan geopark bertujuan agar masyarakat lokal dapat secara mandiri melakukan konservasi geologi, flora dan fauna, serta budaya lokal. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, maka masyarakat sebagai sumber daya utama harus dikembangkan sehingga dapat mengelolanya untuk kesejahteraan daerah secara berkelanjutan.

“Pulau Belitung memiliki kekayaan geologi berupa batuan granit, lava bantal dan batuan metasedimen. Belitung juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna seperti Hutan Kerangas, Hutan Tanaman Obat, hewan langka Tarsius dan berbagai flora dan fauna unik lainnya,” tukas Dyah.

 Di lain sisi,  kekayaan alam geologi di Pulau Belitung juga terancam dengan kegiatan pertambangan pasir dan timah.  Selain itu keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat Belitung yang selama ini bertumpu kepada aktivitas pertambangan juga terancam mengalami kemunduran ketika sumberdaya telah habis digali.

Tim Belitong Island Geopark belum lama ini telah mengunjungi Langkawi Geopark di utara Malaysia. Kunjungan ini untuk mempelajari sejumlah aspek yang berguna untuk  mendukung pencapaian geopark Belitong kepada taraf internasional.

“Langkawi Geopark sudah sepuluh tahun terakhir   bertaraf  global.  Kita optimistis bisa ke arah itu, sebab banyak hal yang ada di Belitong tapi tidak dipunyai Langkawi Geopark,” ujar Dyah  yang memaparkan bahwa  usia bebatuan di Langkawi lebih tua dibanding Belitong.

Belitong Island Geopark (BIG) mengajak UBB melakukan penelitian di bidang geologi, pertambangan, biologi, budaya dan pariwisata di sejumlah tempat di Pulau Belitong. BIG sendiri telah mendata sejumlah “titik” yang terkategori geodiversity, geotourism dan geosite. Antara lain  granit Tanjungpandan (geodiversity), Tanjung Tinggi Sea Zone (geotourism), Batu Pepaya, Batu Belah, Batu Lumba lumba, Air Terjun Beraye, Pantai Burung Mandi, Pulau Lengkuas dan Danau Mempayak (geosite).

Untuk memeroleh status geopark nasional tidak gampang.   Salah satu syarat,  menurut Dyah, setidaknya 20 geosite yang ada di Belitong harus memiliki fungsi pendidikan.  Dalam kaitan itu ia meminta kepada  UBB untuk mengarahkan mahasiswa dan  para dosennya --  yang mengikuti  jenjang stratum 1, 2 dan 3 --  melakukan penelitian mereka di   Belitong.

“Itu harus ada kalau (Belitong Island-red) mau lulus ke level lebih tinggi lagi. Banyak objek yang bisa diteliti di Belitong. Ada hutan kerangas, geosite Bukit Lumut yang punya lumut tebal dan unik. Atau flora dan fauna, serta tambang tua  bawah tanah,” ujar Dyah.

Diakui Dyah Belitong punya keunikan sendiri dalam hal keberagaman flora dan fauna.  Di pulau itu  di antaranya terdapat hutan kerangas, hutan bakau,  monyet ekor panjang, Mentilin, Elang Dada Putih, ikan arwana.

“Sesuai syarat yang ditentukan Unesco,  juga harus  melakukan konservasi budaya.  Kami sekarang ini   sedang meneliti  keberadaan Suku Sawang,” ujar Dyah, menambahkan narasi setiap geosite, geoturism dan geodiversity  yang ada sangat diperlukan untuk memerkokoh karakter geopark.

“Termasuk pula penelitian-penelitian ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal dan media internasional,” tukas Dyah.   

 BIG belum lama ini mengundang sejumlah tur operator Perancis untuk melihat keunikan Belitung.  Menurut Dyah umumnya mereka terkesan dengan Belitong dan suka-cita mempromosikan pulau itu kepada  wisatawan Perancis.

Menanggapi penjelasan General Manager BIG Dyah, Agus Hartoko menegaskan bahwa UBB  menyambut positif  ajakan kerjasama  BIG.  Menurut Agus, kebijakan penelitian UBB  di antaranya  kepada penelitian konservasi, termasuk langkah konkret mengkonservasi  flora dan fauna endemik Bangka Belitung.

“Kita misalnya sudah mendata 150 spesies anggrek Bangka.  Itu semua  dilakukan bersama Komunitas Pecinta Anggrek Bangka.     Anggrek itu hidup di Desa Tuing, hutan kerangas dan lokasi eks tambang timah,”  ujar  Agus Hartoko,  pakar kelautan dan perikanan ini.

Sementara dalam menghadapi era pasca tambang timah, lanjut Agus Hartoko, UBB telah mempunyai tiga varietas lada unggul yang siap disebarkan ke tengah masyarakat.  Tiga lada unggul itu pun sudah diuji DNA-nya.

“Kita juga punya nanas unggul khas Bangka. Bahkan kita sudah membuat penangkaran hewan endemik Bangka: kancil dan rusa.  Fauna di seputar hutan UBB ini telah kita data.  Terutama sejumlah jenis burung yang ada dan mentilin.  Salah satu rencana besar UBB lainnya adalah marine geopark. Lokasinya sedang kita pilih,” ujar Agus Hartoko.

Selain itu lanjut  Agus UBB  kini sedang mempersiapkan membentuk Pusat Kajian Melayu dan museum.   Sejumlah buku referensi tentang Melayu dari pelbagai sumber sudah dikumpulkan, termasuk membeli beberapa alat musik dambus.    

“Tahun depan UBB merencanakan menggelar seminar internasional mengenai Melayu,” tukas Agus yang menyakini bahwa segala potensi yang ada di Bangka dan Belitung mampu memberi kesejahteraan bagi warganya. “Asalkan dikelola dengan baik dan profesional,” tambah Agus Hartoko (Eddy Jajang Jaya Atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.