Kerusakan ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka akibat penambangan timah lepas pantai (Kapal Isap)

kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Tedapat sekitar 35 kapal Isap yang beroperasi di kawasan ini

Timah telah ditambang di bumi Pulau Bangka dan Belitung lebih dari 300 tahun yang lalu. Berawal dari daratan kini penambangan timah mulai beralih ke laut Pulau Bangka. Di Pulau Belitung, timah sudah ditambang di laut sekitar 30-an tahun yang lalu. Kini penambangan mulai ekstensif dan menuju intensif (semi intensif) dilakukan di laut Pulau Bangka. Sejak Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (otonomi daerah) dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/Kep/4/1999 mengenai pencabutan timah sebagai komoditas strategis, pertambangan timah inkonvensional (TI) menjarah daratan Pulau Bangka dan Belitung. Saat ini, TI Apung dan modivikasinya mulai marak memenuhi lautan Pulau Bangka. Jumlah Kapal isap di laut terus bertambah yang sebelumnya dikuasai oleh kapal keruk. 

Yup! Masyarakat Pulau Bangka pasti menyadari bahwa penambangan saat ini mulai beralih ke laut. Semakin susahnya mendapatkan lokasi yang kaya timah di daratan Pulau Bangka, hasil penambangan di darat yang terus merosot dan biaya operasional yang semakin melambung membuat masyarakat dan perusahaan penambang timah mengalihkan prioritas penambangan ke laut Pulau Bangka. TI Apung, Kapal Isap dan Kapal Keruk adalah komoditi penambangan timah di laut. Dari ketiga komoditi itu, kapal isap yang dianggap paling efektif dan efisien dalam melakukan penambangan di laut. Dengan mobilitas yang tinggi, proses kerja yang efektif dan hasil penambangan yang cukup menjanjikan. Selain itu, harga kapal isap cukup terjangkau bagi perusahaan - perusahaan penambangan timah swasta. Tak heran dalam waktu singkat, jumlah kapal isap di laut Pulau Bangka bertambah drastis.

Penambangan timah di laut dengan kapal isap sedang menjadi trend dan sepertinya akan terus bertambah di tahun-tahun mendatang di laut Pulau Bangka jika belum ada ketegasan dari pemerintah daerah dalam mengatur dan menjaga sumberdaya alam lain di laut selain timah pasca timah nanti.

Kapal isap mulai terdengar di telinga saya sekitar tahun 2006. Jumlahnya terus bertambah marak pada tahun 2008. Perusahaan timah swasta yang memiliki peleburan timah (smelter) selain PT Timah Tbk mulai aktif mendatangkan kapal isap. PT Timah Tbk pun tidak ingin kalah bersaing dengan membeli dan merakit kapal isap. Selain itu, perusahaan timah terbesar di Indonesia dan nomor dua di dunia ini pun bermitra dengan mendatangkan kapal isap. Saat ini lebih dari 50 kapal isap yang dimiliki perusahaan ini berserta mitra kerjanya. Izin penambangan timah lepas pantai pun terus bermunculan. Surat Keputusan (SK) dari kepala daerah untuk Izin Usaha Penambangan (IUP) di laut dengan mengoperasikan kapal isap terus bermunculan. Apalagi saat pilkada baru-baru ini. Trend semakin banyak SK IUP yang dikeluarkan saat pilkada menjadi bahan perbincangan dan rahasia umum masyarakat. Semakin banyaknya jumlah kapal isap ternyata tidak berbanding lurus dengan pengawasan. Ya, harus di akui bahwa pengawasan penambangan timah di laut masih sangat minim. Dari hasil pantauan satelit yang dimiliki Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla), 100% kapal hisap yang beroperasi di perairan Babel beroperasi diluar wilayah yang sudah ditentukan (Bangkapos, 9 November 2008). 

Dari mana kapal isap di Pulau Bangka datang?

Pertanyaan menggelitik ini tentu wajar untuk ditanyakan. Karena kapal isap merupakan pendatang baru di dunia pertambangan timah di Pulau Bangka. Sebelumnya tidak ada kapal isap di laut Pulau Bangka. Pertanyaan ini pasti akan mudah dijawab oleh sebagian besar masyarakat kita. Darimana? Tentu saja Thailand. Negara yang terkenal dengan komoditas pertaniannya ini ternyata tidak hanya sukses mengeksport komodistas pertanian seperti pepaya bangkok, durian bangkok, mangga bangkok dan banyak lagi jenis buah lainnya tapi juga komoditas pertambangan timah laut yaitu "kapal isap". 

Pertanyaannya, mengapa dari Thailand? Mengapa bukan dari negara lain? Jawaban dari pertanyaan ini baru saya dapatkan beberapa minggu yang lalu setelah berbincang dengan teman yang aktif berkecimpung dibidang pertambangan di Bangka Belitung. Beberapa tahun yang lalu, ada beberapa daerah di Thailand yang dilakukan penambangan total (total mining). Deposit bahan tambang dilokasi tersebut ditambang dengan intensif hingga benar-benar tidak potensial lagi untuk ditambang sehingga diperkirakan tidak akan dilakukan lagi penambangan di masa yang akan datang di lokasi tersebut. Banyak kapal isap yang beroperasi di lokasi pertambangan pada waktu itu. Penambangan dilakukan di darat dan di laut. Namun pemerintah Thailand mewajibkan semua perusahaan yang melakukan penambangan menganggarkan dana jaminan untuk reklamasi dan rehabilitasi pasca penambangan. Dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi ini jumlahnya cukup besar dan dipastikan akan cukup untuk membiayai program reklamasi dan rehabilitasi sehingga potensi non tambang seperti pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata akan dapat dikembangkan pasca penambangan. Dana jaminan tersebut diserahkan oleh pihak perusahaan penambang kepada pemerintah sebelum izin penambangan diberikan.

Setelah penambangan intensif itu selesai dilakukan beberapa tahun yang lalu dan program reklamasi dan rehabilitasi mulai dan sedang berjalan, kapal isap-kapal isap ini pun mengganggur. Melihat peluang penambangan timah di Pulau Bangka, kapal isap-kapal isap itu dibeli oleh pengusaha-pengusaha timah untuk melakukan penambangan di laut. Kapal isap-kapal isap yang didatangkan dari Thailand memang sebagian besar adalah kapal isap bekas yang beroperasi beberapa tahun yang lalu dengan hampir tidak ada perubahan teknologi. Dengan kondisi bekas itu, pengusaha membeli dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harus merancang dengan teknologi pembuangan tailing yang jauh lebih ramah lingkungan. Tak heran jika kapal isap bekas tersebut pun harus dioperasikan oleh tenaga kerja asing yang juga didatangkan khusus dari thailand. Kapal isap memang merupakan komoditas penambang timah lepas pantai yang paling efektif dalam mendapatkan hasil tambang timah. 

Namun, kapal isap pun paling efektif dalam menyebabkan kerusakan ekosistem vital di laut kita. Sedimentasi dari aktivitas penambangan kapal isap telah menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem padang lamun dan ekosistem terumbu karang yang merupakan penyangga sektor perikanan dan pariwisata bahari yang merupakan sektor harapan dan pengembangan pasca timah.

Aneh memang, jika kita mampu mengimport kapal isap-kapal isap bekas dari Thailand untuk melakukan penambangan timah di laut kita, tapi sampai saat ini kita tak mampu mengimport manajemen lingkungan yang diterapkan oleh negara gajah putih ini. Sampai saat ini, jaminan kepastian terhadap program reklamasi dan rehabilitasi untuk ekosistem laut kita yang merupakan warisan untuk generasi mendatang daerah ini masih terus ditunggu dan ditunggu. Harus kita akui, banyak "oknum" yang memanfaatkan kesempatan dari tidak atau belum teratur dan tegasnya aturan-aturan penambangan timah di laut daerah ini. Jadi, jangan heran lagi jika SK IUP lepas pantai dengan mengoperasikan kapal isap "bekas" dari Thailand akan terus bermunculan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Hingga tulisan ini dibuat, terdapat 57 kapal isap yang beroperasi di perairan pulau bangka yang terus mengeruk timah di dasar laut. Jumlah itu terus bertambah.

 

Ditulis Untuk kampung halamanku tersayang
Bogor, 29 Juli 2010

 

 

kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Berlatarkan Pulau Pemuja

kapal isap yang beraktivitas di perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Berlatarkan Pulau Pemuja

Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Pemuja Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment akibat penambangan timah lepas pantai di daerah penganak, kecamatan jebus

Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Pemuja Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat. Terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment akibat penambangan timah lepas pantai di daerah penganak, kecamatan jebus

Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Mengkudu, Desa Pesaren Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Di daerah ini tidak terdapat kapal isap dan TI Apung. Namun, terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment dari aktivitas penambangan timah lepas pantai di desa yang berdekatan dengan Desa Pesaren yaitu di perairan laut Desa Penyusuk, desa Batu Atap dan desa Bubus

Terumbu karang yang tertutup sediment di Pulau Mengkudu, Desa Pesaren Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Di daerah ini tidak terdapat kapal isap dan TI Apung. Namun, terumbu karang di pulau ini mati tertutup sediment dari aktivitas penambangan timah lepas pantai di desa yang berdekatan dengan Desa Pesaren yaitu di perairan laut Desa Penyusuk, desa Batu Atap dan desa Bubus

Oleh : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Dosen Perikanan dan Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.