KKN Kebangsaan Delegasi UBB Punya Cerita

Salah satu delegasi dari Universitas Bangka Belitung  (UBB), M. Arif Hidayatullah Program Studi Teknik Tambang Fakultas Teknik UBB (tengah), berforo bersama Mahasiswa satu kelompok di Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2017 yang berasal dari perguruan tinggi yang berbeda, yang ditempatkan di Dasa Alo Kecamatan Bone Raya, Gorontalo. 

MERAWANG, UBB - Berbagai cerita suka duka yang diungkapkan Mahasiswa Universitas Bangka Belitung  (UBB) sebagai delegasi di Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2017 Gorontalo, baik dari jarak tempuh yang memakan waktu yang lama dan kondisi jalan buruk, apalagi disaat turun hujan, dan mobilitas yang terbatas, serta harus menggunakan kendaraan khusus, mengharuskan mahasiswa menyiapkan fisik yang prima dan mental baja untuk sampai di desa tujuan pengabdian mereka masing-masing.

Masyarakat setempat dengan kehadiran mereka (Mahasiswa KKN Kebangsaan) memberikan warna baru untuk kemajuan desa yang telah mereka bina selama satu bulan sejak tanggal 22 Juli hingga 23 Agustus 2017, saat KKN Kebangsaan di Bone Bolango, Gorontalo. Hal ini diceritakan oleh Mahasiswa UBB kepada humas UBB, diruang lobi Rektorat Gedung Babel IV Kampus Terpadu UBB, senin (28/8/2017) siang.

Delegasi mahasiswa UBB  merupakan perwakilan masing-masing Fakultas yang sudah melalui serangkaian seleksi yang ketat ditingkat Universitas Bangka Belitung, mereka adalah M. Arif Hidayatullah Program Studi (Prodi) Teknik Tambang (Fakultas Teknik), M. Arinda Unigraha Prodi Manajemen Sumber Perairan (Fakultas Pertanian, Perikanana, dan Biologi), Loly Anggraini Prodi Manajemen  (Fakultas Ekonomi), Inda Ervina Prodi Ilmu Hukum (Fakultas  Hukum), serta Andika Hidayatullah Prodi Ilmu Sosiologi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Pencapaian program ungulan desa dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada dimasing-masing desa, kelima Mahasiswa UBB tersebut memaparkan kepada humas UBB apa saja yang telah mereka rintis selama 1 (satu) bulan pengabdiannya di desa masing-masing.

M. Arif memaparkan selama di KKN di Desa Alo Kecamatan Bone Raya, ada lima program pokok yang mereka kembangkan bersama kelompoknya. Dalam 1 (satu) kelompok KKN Kebangsaan terdiri dari 7 orang Mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi yang berbeda dan satu dosen pembimbing. Ia sendiri ditunjuk sebagai ketua diprogram unggulan untuk pengembangan potensi wisata, dalam hal ini ia memperkenalkan potensi wisata yang ada di Desa Alo, untuk dipublikasikan ke masyarakat luas melaui jaringan media sosial dan website.

Ia sendiri mengakui keterbatasan ilmu (berasal dari prodi Teknik Tambang) dan tidak ada rekan satu kelompok menguasai bidang ilmu (informatika atau sejenisnya) memgharuskan Arif untuk belajar bagai mana program tersebut bisa berjalan.

“Saya membuat website Desa Alo, untuk mempublikasikan potensi wisata ke masyarakat luas, padahal saya sendiri kurang paham membuat website, dan temen-teman satu kelompok juga tidak ada yang tahu atau jurusan khusus informatika, namun saya berusaha belajar dan alhamdulillah selesai juga”

M. Arinda Unigraha Prodi Manajemen Sumber Perairan FPPB selama KKN di Desa Dunggilata Kecamatan Bulawa, mengungkapkan program yang telah dicapai antara lain terbentuknya lembaga konservasi desa, serta kripik pisang aneka rasa yang dikembangkan menjadi produk yang diberi nama ‘kripik pisang janda bulawa’. Tak hayal nama tersebut berdasarkan pengakuan ari (nama pangilan sehari-hari) karena banyak diketemui janda-janda didesa tersebut dan nama ‘kripik pisang janda bulaw’a juga atas inisiatif ibu-ibu penduduk setempat.

Desa tersebut banyak ditemukan lahan tambang,  dan usia pernikahanpun relatif muda (umur belasan tahun). “Kepala keluarga di Desa tersebut rata-rata sebagai sebagai penambang emas, dan banyak yang meninggal karna kecelakaan, karna hal tersebut salah satu sebab banyak didapati para janda”, ungkap Ari.

Lain halnya dengan loly Anggraini yang ditempatkan di desa Pinogu yang merupakan kawasan pedalaman hutan yang berbukit, serta dikenal sebagai penghasil kopi pinogu. “Semua tanaman pertanian dan perkebunan di tanah Pinogu tumbuh subur, tapi untuk jenis buah-buahan tidak ada ditemukan di pinogu selain buah tomat” tuturnya.

Walaupun desa pinogu penghasil kopi, namun hasil pertaniannya di kelola oleh desa sebelah, dibawah kaki bukit Pinogu, dengan kehadiran mereka program ungulan salah satunya pengelolaan kopi mandiri bersama penduduk setempat dengan kemasan yang menarik dan memiliki nilai jual tinggi. selain itu mereka juga mengembangkan pupuk hayati PGPR atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria (sejenis bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman), yang bahan bakunya diambil dari akar bambu yang banyak tumbuh diatas bukit Pinogu, serta campuran terasi, gula, dedak dan penyedap rasa yang dicampur dengan air, sebagai penyubur tanaman yang dapat meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan masyarakat.

Mengingat jarak desa ke klinik kesehatan cukup jauh, mengharuskan masyarakat untuk selalu hidup sehat. Mahasiswa KKN Kebangsaan di Desa Pinogu menempatkan salah satu program ungulannya berupa ‘dapur hidup’ sebagai upaya terhadap pengobatan secara alami dan mudah didapat oleh masyarakat disaat dibutuhkan. Mahasiswa dalam hal ini mensosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk ditanami jenis tumbuhan obat, sayur-sayuran, serta tanaman buah-buhan yang sengaja mereka bawa (benih/biji buah) dari asal daerah mahasiswa KKN Kebangsaan untuk dikembangkan di Desa Pinogu.

Inda Ervina yang ditempatkan di Desa Ombulo Hijau di Kecamatan Bonepantai kegiatan program kelompok diantaranya pembuatan rambu-rambu jalan, produksi dodol jagung, serta pengembangan peptisida nabati dengan memanfaatkan daun pepaya dan gulma siam (CHROMOLAENA ODORATA).

Hal senada disampaikan Andika Hidayatullah KKN Kebangsaan di Desa Pinogu Permai melancarkan program ungulan mereka dengan memanfaatkan teknologi tepat guna berupa filter air bersih, pupuk pokasi (hasil dari prementasi kotoran sapi, sekam padi, kulit kopi dan gula aren), pakan organik yang menghasilkan larva/ulat untuk makanan ternak (kotoran sapi, kulit kopi, sekam padi dan limbah cucian ikan), serta obat organik ternak dengan memanfaatkan daun serai dan daun binahong (pengobatan sakit cacingan pada hewan dan ngorok).

Berdasarkan keterangan mahasiswa UBB delegasi KKN Kebangsaan, saat ini semua hasil produk yang dikembangkan oleh mahasiswa di desa binaanya untuk peningkatan ekonomi masyarakat setempat, sudah diusulkan perizinannya ke dinas terkait, dan mudah-mudahan berkelanjutan harapan mereka.

KKN Kebangsaan menjadi wadah komunikasi, pertukaran ide serta jejaring awal bagi mahasiswa se-tanah air dalam mempersiapkan dan mematangkan diri, serta diharapkan dapat meningkatkan wawasan kebangsaan mahasiswa dan mengenal tanah air Indonesia secara utuh, dan siap mengabdikan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk semata-mata kepentingan bangsa dan negara secara konsisten. (Ags/Humas)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.