Laboratorium Perikanan UBB Berhasil Transplantasi Karang

Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan mengembangkan teknik transplanstasi karang. Transplanstasi karang merupakan salah satu upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru pada lahan yang kosong (COREMAP, 2006). 

Transplantasi karang diharapkan dapat mempercepat regenerasi terumbu karang yang telah rusak dan dapat pula digunakan untuk membangun daerah terumbu karang baru yang sebelumnya tidak ada.Selain itu, kegunaannya juga untuk menambah karang dewasa ke dalam populasi sehingga produksi larva di ekosistem terumbu karang yang rusak dapat ditingkatkan.

Laboratorium Perikanan Universitas Bangka Belitung (UBB) melalui Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah melakukan penelitian transplantasi karang sejak bulan Mei 2009. penelitian yang telah berjalan sekitar 5 bulan ini terdiri dari 100 patahan transplantasi karang jenis Acropora formosa (brown). 

Penelitian dilaksanakan di Pantai Teluk Limau Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka dengan panjang patahan karang yang ditransplantasi sekitar 10 cm. koloni karang yang diambil sebagai bahan transplantasi harus memiliki diameter minimal 20 cm. Indeks keberhasilan penelitian ini cukup baik karena mencapai > 75% dengan laju pertumbuhan yang sangat menakjubkan. 

Secara teoritis, laju pertumbuhan karang acropora Formosa sekitar 15 cm/tahun. Namun, dalam penelitian ini sudah ada karang transplantasi yang tumbuh mencapai 25 cm dalam waktu 5 bulan sejak awal transplantasi. Hebatnya lagi, ekosistem terumbu karang di Pantai Teluk Limau didominasi oleh jenis karang massif (CM) bukan jenis karang branching (ACB) seperti Acropora formosa. 

Ini menunjukkan bahwa transplantasi karang jenis acropora dapat dilakukan di daerah yang meskipun bukan mayoritas jenis karang ini. Penelitian ini dilakukan pada dua kedalaman yang berbeda dengan kedalaman 1 meter dan 3 meter saat perairan surut terendah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karang transplantasi pada kedalaman 1 meter memiliki indeks keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan pada kedalaman 3 meter.

Beberapa negara memang telah mengembangkan lebih lanjut transplantasi karang, antara lain Australia. Tujuannya, selain untuk rehabilitasi, juga melakukan budi daya untuk memenuhi kebutuhan pasar akan karang hias. Jenis yang banyak dibudidayakan, antara lain, karang piring (Heliofungia aktinoformis), karang sarang burung (Seriatopora hystrixs), dan karang melati.
Di Taman Laut Great Barrier Reef, misalnya, transplantasi karang dilakukan untuk mempercepat regenerasi ekosistem terumbu karang yang rusak akibat serangan Acanthaster plancii atau bulu babi. Di Hawaii, Amerika Serikat, transplantasi karang bertujuan untuk menumbuhkan kembali terumbu karang mati karena limbah di perairan. Di Florida (AS), hal itu dilakukan untuk mempercepat dan memperbanyak tutupan karang.

Saat ini Laboratorium Perikanan UBB sedang melakukan pengembangan model terumbu karang buatan yang murah namun efektif. Terumbu karang yang dibuat menggunakan model modifikasi beton yang digabungkan dengan transplantasi karang. Dengan model ini, terumbu karang yang dibuat akan memiliki keberhasilan yang lebih tinggi dalam penempelan koloni karang hidup pada substratnya dan dengan harga yang relatif murah. 

Hasil Penelitian ini diharapkan menjadi solusi terhadap upaya rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang rusak dengan biaya yang relatif murah namun dengan tingkat keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan.

Ekosistem terumbu karang di Pulau Bangka saat ini semakin terancam akibat aktivitas penambangan timah di daerah pantai yang semakin tinggi. Jumlah TI Apung, Kapal Hisap dan Kapal Keruk semakin banyak di perairan Pulau Bangka. Kegiatan penambangan ini akan mengakibatkan sedimentasi yang dapat menurunkan kualitas ekosistem terumbu karang hingga menyebabkan kematian massal ekosistem terumbu karang karena tertutup sediment. Padahal, dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Proses pemulihan (recovery) ekosistem ini membutuhkan waktu yang lama hingga lebih dari 50 tahun. Dengan model ini diharapkan proses recovery ekosistem terumbu karang dapat dipersingkat.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi metode rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang telah rusak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah maupun pihak swasta yang masih peduli terhadap ekosistem terumbu karang di Negeri Serumpun Sebalai. 

 









Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung.
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Mahasiswa M.K Biodiversity Ekosistem Terumbu Karang tahun 2009

Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Pengambilan foto di Pantai Teluk Limau dilakukan pada Mei 2009. dan Oktober 2009
Menggunakan kamera Canon Powershot A710 IS 7,1 MP dan Olympus µTough-8000 12 MP.

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.