Luar Biasa, Festival Bakar Ikan Dipadati Ribuan Pengunjung

TUMPAH --  Festival Bakar Ikan di Desa Tukak Sadai, Minggu kemarin, dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai daerah.  Wisatawan lokal ini ‘tumpah’ dan memadati arena festival di tepi Pantai Tukak; yang hanya berjarak bilangan meter dari Hutan Wisata Mangrove.   

TUKAKSADAI, UBB --  Luar biasa. Tumplek-plek.  Begitulah suasana Festival Bakar Ikan di Desa Tukak Sadai, Bangka Selatan (Basel), Minggu (23/07/2017). Ribuan warga se Basel dan sekitarnya “tumpah” , dan berdesak-desakan ikut  membakar satu ton ikan Selangat di tepian pantai desa yang  berjarak 120 Km dari Kota Pangkalpinang ini.

“Tak percaya, tapi benar nyata.  Bagai  festival besar saja.  Semua pengunjung berada di samping tungku yang  telah tersedia. Semuanya gembira, dan larut dalam keasyikan membakar ikan Selangat,” ujar Okto Supratman, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) mahasiwa KKN UBB Angkatan ke 12, Minggu kemarin.

Okto bersama  38 mahasiswa UBB dan warga Desa Tukak Sadai ikut terlibat sebagai panitia Festival Bakar Ikan.  Mereka sejak beberapa hari sebelumnya sibuk mempersiapkan festival.  Mulai membersihkan lahan, menyediakan tungku, area parkir kendaraan pengunjung,  hingga menyiapkan ikan Selangat yang dibeli dari nelayan setempat.

Festival Bakar Ikan itu sendiri digelar untuk memperkenalkan Desa Tukak Sadai.  Selain sebagai desa satu-satunya di Basel  yang menyandang gelar Desa Daur Ulang, pihak desa  juga mempromosikan objek wisata hutan mangrove yang sudah  mereka ‘kecak’ kepada khalayak yang lebih luas.

Kepala Desa Tukak Sadai Syamsuddin kepada Wakil Rektor II UBB Agus Hartoko  mengemukakan,  pihaknya mendapat masukkan dari salah satu  tur operator wisata bahwa kalau  objek wisata di desa ini banyak dikunjungi wisatawan maka harus dipublikasikan secara luas.

“Untuk itulah kami menggelar Festival Bakar  ini.   Jumlah ikan yang dibakar satu ton.  Tujuannya agar  Desa Tukak Sadai sebagai salah satu destinasi wisata di Basel mendapat posisi tertentu  di tataran promosi wisata nasional,” ujar Syamsuddin.

Apa yang diharapkan Syamsuddin  benar-benar membuahkan hasil. Berkat undangan, promosi dari mulut ke mulut dan ekpose media massa ribuan pengunjung sudah datang sejak Minggu pagi.  Mereka lantas memadati lokasi festival bakar ikan yang jaraknya  hanya hitungan meter dari Hutan Wisata Mangrove Tukak Sadai.

“Antusiasme pengunjung luar biasa. Setidaknya ada sekitar lima ribu pengunjung hadir di lokasi festival ini,” ujar Leon Arekson Sirait, mahasiswa KKN UBB, yang merangkap sebagai panitia.

Panitia  beserta mahasiswa KKN UBB sempat kewalahan melayani pangunjung yang telah memadati areal pantai sebagai lokasi festival.  Jumlah pengunjung diluar prediksi menyebabkan beberapa di antara mereka tidak mendapat ikan untuk dibakar.

‘Tahun depan kita berharap festival dapat kembali digelar.  Tapi secara umum festival ini sukses!,” ujar Leon.

Hadir dalam acara festival Bupati dan Wakil Bupati Basel, Camat Sadai, Kepolres Basel dan kepala desa se Bangka Selatan. 

Dalam acara ini panitia dan peserta KKN UBB seluruhnya dilibatkan untuk melayani  pengunjung. Selain menyiapkan arena parkir, tungku bakar, panitia dan mahasiswa KKN UBB berada di seputar tungku untuk membantu ikan milik pengunjung untuk dibakar. 

 Pada festival yang disebut-sebut baru  kali pertama   digelar di Bangka Selatan (Basel) itu,  pihak desa --  selaku penyelenggara --   melibatkan  44 mahasiswa  UBB yang kini KKN di Desa Tukak Sadai. Mareka sudah mengikuti sejumlah  rapat yang digelar  oleh penyelenggara festival.

“Kami berterimakasih kepada UBB yang memilih Desa Tukak Sadai sebagai salah satu lokasi KKN di Bangka Selatan.   Untuk menyukseskan festival ini, kami libatkan mahasiswa KKN selaku panitia,” ujar  Syamsuddin, Kades Tukak Sadai,  kepada  Rektor UBB Muh Yusuf dan Warek II Agus Hartoko,  Selasa (18/07/2017).

Festival Bakar Ikan di Desa Tukak Sadai ini menurut Syamsuddin  memang dimaksudkan untuk ‘mencuri’ perhatian kalangan wisatawan.  Sekaligus  wahana promosi bagi  Desa Tukak yang memiliki sejumlah objek wisata baru, seperti hutan wisata mangrove.

“Kami sadar bahwa perlu ada produk wisata yang berskala ‘woow’.  Untuk itulah pada tahap awal ini kami gelar Festival Bakar Ikan Tukak Sadai.  Ikan yang akan dibakar oleh pengunjung atau peserta festival pun adalah ikan Selangas. Ikan ini  sudah dikenal di Basel, dan berasal dari  laut Tukak Sadai sendiri,” ujar Syamsuddin menerangkan.

Desa Tukak belakangan ini sudah berbenah diri. Selain menata beberapa objek wisata, infrastuktur jalan dan fasilitas umum seperti wc dan arena parkir  sudah dibangun.  Bahkan di kedua sisi anak sungai di  sekitar lokasi festival bakar ikan telah disemen.  Terlihat rapih dan  bersih.

Pengunjung pun akan menikmati  ‘Jembatan Cinta’ yang dicat warna mencolok: merah, kuning dan biru.  Jembatan ini menghubungan kedua sisi anak sungai.  Menariknya, di tengah jembatan  sengaja  dibangun gazebo cantik beratap motif lipat kajang.

“Bila hujan tiba-tiba turun, atau panasnya  terik matahari, pengunjung bisa berteduh di gazebo itu.  Di sana disediakan tempat duduk,” ujar Syamsuddin.

Kades Tukak Sadai ini menjelaskan,  pihak panitia festival sudah menyediakan semua fasilitas yang diperlukan pengunjung.  Arena  parkir kendaraan bermotor   contohnya telah disiapkan di lahan yang cukup luas.  Toilet berada dalam bangunan tertutup juga sudah ada.

Syamsuddin mengaku pihaknya sadar bahwa  masih sulit untuk ‘menahan’ wisatawan menginap di Desa Tukak Sadai. Pasalnya, selain belum ada penginapan atau rumah singgah, objek wisata di desanya pun tergolong baru untuk bisa menarik wisatawan tinggal di desa yang bejarak 120 km dari Kota Pangkalpinang ini.

Terhadap ini,  Agus Hartoko menyarankan pihak desa membangun  rumah sederhana  berarsitek khas Desa Tukak untuk disewakan kepada wisatawan yang berminat  menginap. Atau rumah warga yang sudah ada dialihfungsikan sebagai rumah inap, di mana pemiliknya tetap tinggal di rumah tersebut.

“Yang penting bersih dan tersedia air bersih. Pengunjung atau wisatawan akan kerasan tinggal di desa ini.  Mereka ingin merasakan bagaimana hidup bersama warga masyarakat di desa.  Untuk tidur, sediakan saja  tikar dan bantal,” ujar Agus Hartoko. (Eddy Jajang Jaya Atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.