Mau Coba Teh Guajava? Rasa e Nyamen..!

PAMERKAN TEH  --  Pidia Lestari (19), mahasiswi Prodi Agribisnis UBB,  memamerkan  Teh Guajava dalam kemasan saset di depan Stand Prodi Agribisnis pada UBB Expo di lapangan parkir Fakultas Teknik, Kampus Terpadu UBB, Balunijuk, Merawang, Bangka. Teh terbuat dari olahan  bahan daun jambu biji ini  merupakan  bikinan kelompok mahasiswa  Agribisnis. 

 

“Silakan, silakan...Silakan pilih.  Mau yang ini, atau yang itu?  Oh... haus ya?  Ini ada  teh baru, bikin kami sendiri. Namanya teh guajava.  Rase e nyamen... Silakan, silakan  mencobanya!”

Ujaran-ujaran itu  begitu  cetar, lantas menyeruak di antara dengungan  suara  dari  banyak orang yang memadati  stand Program Studi (Prodi)  Agribisnis, Universitas Bangka Belitung,  Kamis (13/04/2017) siang.

Panas  terik,  membakar kulit, mendorong kerumunan mahasiswa  yang  menengok  hamparan stand UBB Expo  ‘lari’ ke  stand  yang menjaja  air sejuk.  Ya sekadar   membasahi kerongkongan;  penawar  dahaga. Satu di antara sedikit stand semacam itu empunya Prodi Agribisnis.

“Banyak sudah  mahasiswa dan tamu UBB Expo datang ke sini. Awalnya,   mereka coba teh guajava  bikinan kami.  Kata mereka rasa e nyamen (rasanya enak).  Nah, setelah itu...  mereka kembali lagi, membeli satu gelas teh guajava ini.  Laris manis la...!,”  ujar Pidia Lestari (19),  seorang penjaga stand Agribisnis, seraya menunjukkan satu saset teh guajava celup yang dikemas rapi.

“Satu saset ini berisi lima bungkus tes guajava.  Harganya cuma tiga ribu rupiah.   Murah ‘kan,”  sambung mahasiswa semester IV ini, seraya mempersilakan  tamunya untuk mencicipi satu gelas kecil teh guajava yang telah ia suguhkan.

“Rasa gimana begitu.  Selain menyegarkan ketika tiba di kerongkongan,  rasanya hmm juga  enak, bagai   ada   sesuatu yang baru begitu!,” ujar Lia, mencoba menjelaskan secara detail bagaimana  rasa teh guajava yang baru ia terima dari Pidia.

Siang itu teh guajava memang laku keras.  Pembeli,  sebagian besar  mahasiswa UBB,  silih-berganti menikmati teh jambu biji .    Tapi,   mereka lebih suka teh  yang sudah dicampur es batu, yang sudah disediakan penjaga stand dalam sebuah galon berisi 19 liter.

“Praktis, tinggal pencet,  air teh guajava lantas mengalir  ke dalam  gelas plastik kecil yang sudah kami siapkan.  Kemudian ya kita  kita berikan kepada konsumen,” terang Soleha (20), rekan Pidia Lestari.  Hari itu mahasiswa  Agribisnis semester IV memang super sibuk meladeni pembeli.

Gadis berekudung  warna merah hati ini menceritakan ikhwal meracik  teh guajava.  Semula, oleh dosen Agribisnis  mereka mendapat tugas membuat teh dari bahan di  seputar  UBB.  Teknis meramu teh  diakui telah mereka kuasai, tapi persoalannya:  daun  dari tanaman apa yang akan dijadikan teh.

“Awalnya kita memilih daun pisang kering dijadikan teh.  Namun setelah googling di internet, ternyata teh daun pisang kering itu sudah ada yang punya hak patennya.  Tak hilang akal, kami pun berpikir keras.  Muncul ide:  bagaimana kalau  daun jambu biji  kita jadikan teh,” cerita Soleha.

Ujicoba pun dilakukan.  Daun jambu biji mereka diangin-anginkan di atas wadah.  Lalu disangrai sebanyak dua kali, masing-masing selama 15 menit.   Api kompor kemudian dimatikan, dan  selama lima menit daun jambu biji diremas menggunakan sarung tangan.

“Karena diremas daun jambu pun pecah menjadi beberapa bagian, membentuk semacam serbuk tes.  Jadilah teh yang kita namakan teh guajava.  Nama itu kita pakai sebagai nama   komersial dari produk  kita,” jelas Soleha.

Tim inisiator teh guajava berjumlah tujuh orang.  Semuanya merupakan  mahasiswa Agribisnis semester IV. Tujuh personel kreatif itu  adalah Soleha, Pidia Lestari, David Subur Jaya, Yulia Rahmi, Virginia Chyintia Sari, Suhepin dan Stilla Caroline.

“Terus terang, nantinya kami ingin memasarkan teh guajava ke pasar yang lebih luas. Produk ini masih terus kami benahi.   Waktunya,   setelah Dies Natalis ke 11 UBB.  Kami sediakan produk ini memang untuk dipamerkan pada UBB Expo, satu dari sekian kegiatan Dies Natalis ke 11 UBB, ” ujar Soleha, didampingi rekannya: Mita Mutia (19).

Selain teh guajava siap seduh, menurut Pidia Lestari  mereka pun sudah memproduksi teh guajava celup.  Segmentasi pasar teh celup ini kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, yang suka kepraktisan ketika hendak memuaskan ‘halwa’   menikmati teh gujava.

Apa sih khasiat dari teh guajava?  Mengutip sejumlah jurnal yang memuat  hasil penelitian tentang guajava, Soleha mengemukakan  banyak  manfaat yang diperoleh,  seperti  dapat  menurunkan darah tinggi, kolesterol dan gula darah.  Termasuk, teh guajava pun  mampu mengatasi diare.

Intuisi sebagai pemasar nampak nyata dari  mahasiswa Agribisnis ini.  Kemasan Teh Guajava  misalnya, tergolong sudah  apik dengan warna hijau muda.  Di bagian tengah kemasan  itu terpampang gelas keramik berisi Teh Guajava.

Dalam UBB  Expo,  19 jenis produk panganan  ‘made-in mahasiswa agribisnis’ yang ditawarkan kepada pengunjung.   Mulai dari sabun  bunga rosela,     teh tayu, keripik pisang,   getas ewaki , kericu, naget kecu, hingga  permen nanas.  Harganya murah-meriah:  rata-rata di bawah Rp 10.000 per kemasan.

“Silakan, silakan.  Silakan icip-icip.  Rase e nyamen...”.

 Ujaran-ujaran  bernada promosi itu   terdengar nyaring, malah  mengalahkan  dengungan suara    kerumuman pembeli . 

Hmm... Anda tertarik dan  ingin mencoba?  Silakan  bertandang  ke Prodi Agribisnis di Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi UBB di Balunijuk, Merawang.   

Tak menguras kantong. Murah kok! (Eddy Jajang Jaya Atmaja)   

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.