Membangun Demokrasi Lokal, Ilmu Politik UBB gagas "Kampung Demokrasi"

MENGGUGAH MAHASISWA—Momentum pemilihan kepala desa serentak di Kabupaten Bangka menggugah mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UBB menggelar “Kampung Demokrasi”.  Tampak dalam gambar,  dosen yang didampingi  mahasiswa Ilmu Politik UBB di lokasi  pemilihan kepala desa. 

MERAWANG UBB-- Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak di Kabupaten Bangka yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 12 Oktober 2017 menggugah mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UBB sebagai bentuk program pengabdian dunia kampus terhadap pembelajaran demokrasi di level desa.

Melalui agenda Kampung Demokrasi: Pengabdian Kepada Masyarakat Jurusan Ilmu Politik UBB, mahasiswa jurusan ilmu politik beserta dosennya menggagas Pengawasan Partisipatif Pilkades Serentak 2017 di Kabupaten Bangka.

Pada kesempatan ini jurusan ilmu politik melaksanakan pengawasan partisipatif di dua desa, yakni Desa Balunijuk dan Desa Dwi Makmur, Kec. Merawang.

Menurut dosen Jurusan Ilmu Politik, Muhammad Anshori selaku Pj kegiatan ini, menyebutkan bahwa pengawasan partisipatif kali ini merupakan bentuk eksplorasi model demokrasi di arena lokal.

Dengan kegiatan ini diharapkan bisa mendapatkan banyak informasi terkait dengan proses elektoral di level desa di Bangka, seperti angka partisipasi politik, proses kandidasi, dan proyeksi analisis aktor (kandidat) yang terpilih dalam menjalankan visi misinya di masa mendatang.

Diluar dari informasi yang diharapkan  itu, ada beberapa catatan sementara yang bisa  sampaikan saat ini,  meskipun masih bersifat spekluatif dan terlalu dini disimpulkan.

 “Menariknya berdasarkan beberapa informasi awal yang didapatkan di lapangan, kami menemukan beberapa kecenderungan berikut: pertama, proses sirkulasi elit politik di level desa masih berada dalam lingkaran kekuasaan yang memang sudah mapan.

Kedua, proses pilkades di dua desa yang berbeda menghadirkan corak yang khas. Desa balunijuk, misalnya, menyajikan menu kandidasi yang beragam,  yakni terdiri dari  empat  calon yang kesemuanya didominasi laki-laki. Sementara itu, di  Desa Dwi Makmur yang mayoritas beretnis Tionghoa justru menghadirkan dua kandidat.

Yang menarik di desa ini justru ketika kontestasi menghadapkan antara kandidat perempuan melawan laki-laki. Tentu saja secara politik, fenomena ini memiliki arti dan penjelasannya tersendiri. Misalnya, apakah argumentasi dan kalkulasi yang melatarbelakangi  munculnya dua kandidat? Pastinya, memiliki penjelasannya masing-masing,” papar dia.

“Tentu saja ini menjadi catatan khusus bagi kami selaku peneliti bidang politik di UBB,” sambung Anshori.

Di waktu yang bersamaan, menurut pengakuan Ketua Jurusan Ilmu Politik, Novendra Hidayat temuan awal ini memastikan akan dielaborasi lagi berbagai informasi yang sudah didapatkan.

“Agar mendapatkan hasil penelitian yang maksimal, Laboratorium Ilmu Politik yang ada menjadi media untuk menguji berbagai kemungkinan dalam melihat fenomena politik lokal. Tentu saja, kami hanya bisa menjelaskan fenomena tersebut dalam perspektif politik,” tukas Novendra.

“Ke depannya, kami berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan di skala yang luas lagi, tidak saja di Kabupaten Bangka”, harap dia. (novendra/fisip).

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.