Mengembalikan Kejayaan Lada Babel

KULIAH UMUM – Sambutan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ”Komunitas Lada Indonesia (KLI)”, oleh Sutra Indaini pada acara pengukuhan pengurus KLI dan kuliah umum  Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi (FPPB)  di Kampus Terpadu Universitas Bangka Belitung (UBB) Balunijuk.

MERAWANG, UBB – Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi (FPPB) Universitas Bangka Belitung (UBB) bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Komunitas Lada Indonesia (KLI), untuk melakukan penandatangan nota kesepahaman (MoU), serta mengelar kuliah umum dengan menghadirkan nara sumber Prof Dr Iswandi Anas Chaniago MSc Guru Besar Institut Pertanian Bogor dan Dr Darmawan Darwis MSc  Apt Kepala Bidang Proses Radiasi PAIR BATAN  di Gedung Semangat FPPB  Kampus Terpadu UBB Balunijuk, Kecamtan Merawang.

Acara kuliah umum dengan tema “Meningkatkan produksi lada melalui pemupukan yang bijak dan berwawasan lingkungan”,  serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU)  FPPB UBB  dengan  LSM Komunitas Lada Indonesia (KLI) yang dibuka langsung oleh Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi, yang dihadiri tamu undangan antara lain Wakil Bupati Bangka Tengah Ir Ibnu Saleh MM, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Babel, Perangkat Dasa Kabupaten Bangka dan tamu undangan lainnya, serta perwakilan Dosen dan mahasiswa FPPB  UBB, bertempat di Gedung Semangat FPPB  Kampus Terpadu UBB Balunijuk, Senin (17/4/2017) pagi.

Tujuan kerjasama ini untuk memanfaatkan sumber daya manusia, jejaring informasi, sumber daya intelektual, serta sarana dan prasarana yang dimiliki oleh masing-masing pihak dalam mengembangkan komoditas lada di Indonesia. Salah satu bentuk kerjasama ini adalah dalam pengembangan sumber daya manusia melalui kuliah umum yang berkaitan dengan tridarma perguruan tinggi.

Dalam sambutan Rektor UBB  Muh Yusuf mengemukakan berkaitan dengan tema kuliah umum, “UBB dan Pemerintah Provinsi serta Kabupaten ingin mengembalikan kejayaan yang dulu  pernah jaya di Provinsi Bangka Belitung, mengangkat lada kita supaya jadi prima dona dan jadi sektor incaran negara-negara eropa”, imbuhnya.

Tentunya bersama kalangan akademisi agar bersineri dengan semua pihak, melakukan inovasi dan trobosan untuk melakukan kajian ilmiah dan riset, yang nantinga bermanfaat untuk mengatasi permasalahan petani lada saat ini dan di era pasca timah nantinya.

Ketua LSM kominitas lada Indonesia Sutra Indaini dalam sambutannya, memaparkan eksitensi kominitas lada Indonesia yang selama ini sudah berkembang, dan untuk berbagi pengalaman melalui inovasi mengunakan pupuk organik yang ramah lingkungan untuk meningkatkan produksi lada dengan memanfaatkan lahan yang terbatas dan bisa dipergunakan terus menerus.

Harapanya juga, KLI bisa memiliki pabrik pupuk sendiri, sehingga produk-produk yang dihasilkan nanti dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang selama ini terkendala mengenai pupuk.

Pada kesempatan yang sama dilakukan juga pengukuhan pengurus Komunitas Lada Indonesia (KLI) oleh Prof Dr Iswandi Anas Chaniago MSc Guru Besar Institut Pertanian Bogor dengan menyematkan tanda pengurus secara simbolis dihadapan tamu dan peserta kuliah umum.

Wakil Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh dalam kesempatan yang sama menyampaikan “Kami di Kabupaten Bangka Tengah sedang menyuruh masyarakat untuk bertanam lada dengan mengunakan dana desa dan swadaya, tahun kemarin 1.250.000 bibit yang tertanam”, ungkapnya.

Bibit lada yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah kepada masyarakat tentunya telah memiliki sertifikat, yang direkomendasi dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Perkebunan. Ibnu Saleh juga mengatakan untuk mendapatkan sertifikat dimaksud tidaklah muda, tentunya melalui tahapan dan proses yang harus dilalui.

Lada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah-rempah yang potensial dan mempunyai nilai ekonomi tinggi dalam perdagangan internasional. Usaha lada sekarang banyak dilirik masyarakat Bangka Belitung, prospek ini didukung dengan adanya pasar yang terbuka baik didalam maupun diluar negeri, serta harganya yang lumayan tinggi saat ini.

Namun tidak sedikit permasalahan yang dihadapi petani lada, sehingga sebagian petani beralih profesi menjadi pedangan, penambang dan lainnnya. Hal ini disebabkan berkurangnya lahan yang tersedia dan tidak produktif, harga pupuk yang tinggi serta hama penyakit yang menyerang tanaman lada. Penyakit dan hama yang biasa ditemui petani lada khususnya Bangka Belitung diantara penyakit kuning yang sebabkan oleh nematoda R similis dan M. Incognita, penyakit busuk pangkal batang yang disebabakan oleh jamur P.Capsici, hama penggerek batang dan lainnya.

Kuliah umum yang dipandu langsung oleh Dekan FPPB UBB Dr Tri Lestari SP MSi dengan nara sumber sesi pertama oleh Prof Dr Iswandi Anas Chaniago MSc Guru Besar Institut Pertanian Bogor berjalan dengan baik dan menambah wawasan keilmuan. Beliau berpesan “Kita dalam bertani jangan merusak tanah, justru sebaliknya agar memperbaiki”. Hal ini sejalan dengan buku yang berjudul “Pentingnya bioteknologi tanah dalam mencapai sistem pertanian yang berkelanjutan”, dan merupakan oleh-oleh yang dibawanya langsung untuk diserahkan kepada Dekan FPPB UBB dan Wakil Bupati Bangka Tengah.

Budidaya lada ramah lingkungan merupakan proses kegiatan budidaya lada yang memperhatikan kaidah-kaidah ramah lingkungan, meminimalisir penggunaan bahan-bahan kimia serta tidak merusak lingkungan. Kegiatannya lebih mengutamakan penggunaan bahan-bahan organik dan tidak menyebabkan kerusakan lingkungan, sehingga hasil yang diharapkan lebih baik dan tanah pertanian tidak rusak sehingga bisa berkelanjutan.

Tidak kala serunya disesi kedua kuliah umum oleh Dr Darmawan Darwis MSc  Apt Kepala Bidang Proses Radiasi PAIR BATAN mengemukan telah banyak inovasi dan riset serta produk-produk yang telah dihasilkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Selama ini kebanyakan masyarakat mengira BATAN hanya sebatas sumber energi listrik dan bahan untuk persenjataan saja, namun telah banyak bidang yang telah dikembangkan BATAN salah satunya di bidang pertanian.

Dengan memanfaatkan teknologi nuklir serta dengan riset dan inovasi yang dihasilkan BATAN memberikan solusi dan manfaat besar bagi kesejahteraan petani dan perekonomian daerah. Salah satu hasil produk yang dihasilkan BATAN untuk bidang pertanian adalah Fitosan. Menurutnya “fitosan merupakan pemanfaatan limbah kulit udang yang diproses dengan sedikit radiasi gamma dan berkas elektron menjadi oligochitosan sehingga bisa dijadikan pupuk”, imbuhnya

Manfaat oligochitosan antara lain untuk meningkatkan daya tumbuh tanaman, mencegah dan mengurangi penyakit tanaman, serta meningkatkan imunitas serta produktivitas tanaman lebih baik. Produk BATAN sudah diujicobakan dan sebagian besar berhasil dengan baik dan menjadi produk unggul daerah. (Ags/Humas)

 

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.