Perjalanan Mencari Terumbu Karang (Coral Reef) di Perairan Provinsi Bangka Belitung

Sebagai provinsi kepulauan, Kepulauan Bangka Belitung seharusnya memiliki potensi yang sangat besar disektor ekosistem pesisir khususnya ekosistem terumbu karang. Sayangnya, informasi yang konkrit dan lengkap tentang kondisi terumbu karang di Kepulauan Bangka Belitung. Inilah yang membuat kami melakukan riset ini meski dengan sumberdaya yang sangat terbatas. Selama musim tenggara, yaitu sekitar bulan maret hingga juni. Perairan laut di Kepulauan Bangka Belitung relatif tenang, teduh dan jernih. Pada musim inilah waktu yang tepat untuk mengetahui kondisi terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung yang sebenarnya. Kesempatan yang terbatas ini di manfaatkan oleh Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Perikanan Dan Biologi Universitas Bangka Belitung untuk melakukan perjalanan mencari terumbu karang (coral reef) yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Mencari lokasi yang memiliki ekosistem terumbu karang (coral reef) dan mengambil data dan foto underwater mengenai kondisi terumbu karang (coral reef) di daerah tersebut. Baik kondisinya sangat bagus (tutupan karang > 75% hingga sangat buruk (tutupan karang < 25%). Penelitian terumbu karang (coral reef) termasuk penelitian yang beresiko dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Ancaman biota berbahaya di laut serta kondisi perairan yang dapat berubah drastis merupakan tantangan tersendiri saat kita melakukan pengamatan terumbu karang (coral reef). Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian terumbu karang (coral reef) ini pun tidak sedikit. Terkadang harus menyewa perahu khusus karena terumbu karang (coral reef) berada jauh di tengah laut. Namun, rasa ingin tahu mengenai kondisi terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung yang sebenarnya menjadi motivasi terbesar mengapa kegiatan ini tetap dilaksanakan meskipun dengan sumberdaya yang sangat terbatas. Kemauan yang kuat mengalahkan segala keterbatasan. Kami akui, sebenarnya masih banyak lokasi yang terdapat potensi ekosistem terumbu karang (coral reef) di Pulau Bangka dan Belitung, seperti di terumbu karang (coral reef) Pulau Lepar (Tanjung Labu), terumbu karang (coral reef) Pulau Tinggi, terumbu karang (coral reef) Pulau Pongok yang terdapat Di Kabupaten Bangka Selatan. terumbu karang (coral reef) Pulau Pebuar yang terdapat di Kabupaten Bangka Tengah. Pulau Lampu, terumbu karang (coral reef) Pantai Penyusuk yang terdapat di Belinyu Kabupaten Bangka dan banyak lagi lokasi terumbu karang (coral reef) lainnya.

Namun karena keterbatasan sumberdaya yang kami miliki, musim tenggara tahun ini hanya dapat kami lakukan di enam lokasi padang terumbu karang (coral reef). Kondisi terumbu karang (coral reef) di kepulauan Bangka Belitung terancam kerusakan. Hal ini karena semakin maraknya kegiatan penambangan timah di perairan pesisir seperti aktivitas TI Apung, kapal hisap, dan kapal keruk setelah lokasi penmbangan timah di darat semakin sulit. Hal ini akan membuat kerusakan parah di ekosistem terumbu karang (coral reef) seperti yang terjadi di kawasan terumbu karang (coral reef) Pantai Tanjung Kerasak Bangka Selatan. Degradasi terumbu karang (coral reef) yang parah ini berdampak pada turunnya produksi perikanan tangkap, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, semakin jauhnya daerah penangkapan (fishing ground). Hal ini mendorong meningkatnya biaya produksi sehingga mengurangi rente sumberdaya (resource rent) yang menyebabkan rendahnya pendapatan nelayan khususnya nelayan skala kecil.

Jika hal ini terus terjadi maka kesejahteraan masyarakat nelayan akan terancam. Padahal, terumbu karang (coral reef) mampu mendukung kehidupan ribuan penduduk Pulau Bangka, khususnya dalam sektor perikanan dan pariwisata. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002). Seharusnya nilai tidak langsung (undirect use value) yang terdapat pada ekosistem terumbu karang (coral reef) harus lebih dipikirkan ketimbang nilai langsung (direct use value) yang sebenarnya sangat sedikit. Semoga kita lebih memperhatikan terhadap kondisi ekosistem terumbu karang (coral reef) di Kepulauan Bangka Belitung. Adapun lokasi pengamatan terumbu karang (coral reef) yang dilakukan adalah di Pantai Teluk Limau Sungailiat, Batu Putih, Karang Kering Sungailiat, Pulau Semujur, Pulau Ketawai Kabupaten Bangka Tengah, Kampung Tungau Simpanggong Kabupaten Bangka Barat, dan daerah-daerah sebaran terumbu karang (coral reef) lainnya khusunya terumbu karang (coral reef) di wilayah provinsi kepulauan Bangka Belitung ini. Tetapi tidak menutup kemungkinan

jika nanti penelitian terumbu karang (coral reef) dilakukan di luar area perairan provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Misalnya jika ada ajakan kerjasama penelitian dari lembaga atau institusi lainnya untuk melakukan penelitian bersama terumbu karang (coral reef) disuatu wilayah perairan di bumi ini, melakukan kegiatan wisata photography dalam air (underwater Photography) bersama, training snorkling dan diving, atau wisata under water bersama tim dari FPPB UBB,

Silahkan kontak kami jika berminat

By : Indra Ambalika, S.Pi, M.Si | Kepala Laboratorium Perikanan FPPB UBB dan Ketua Tim Ekspedisi Terumbu Karang (coral reef) UBB 

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.