Ratusan Pemuda Napak Tilas Perjuangan Depati Barin, Terobos Hutan Boswezen Peninggalan Belanda

HUTAN BOSWEZEN --   Ratusan pemuda, mahasiswa dan pramuka se Bangka selama dua hari,  sejak Sabtu (20/05/2017) akan melakukan napak tilas ke sejumlah  lokasi palagan Depati Barin.   Satu dari sejumlah lokasi yang ‘digadang-gadang’  paling berkesan adalah menerobos vegetasi padat  Hutan Boswezen  -- hutan reboisasi peninggalan Hindia Belanda seluas 60 hektar yang  berisi tegakan kayu Nyato dan Melangir di Desa Kimak, Bangka.  Tampak dalam gambar sejumlah pemuda Desa Kimak sedang bercengkrama di dalam  Hutan Boswezen.

MERAWANG, UBB --   Meski Depati Barin, ayah dari Depati Amir,  sudah tiada, namun semangat dan nilai-nilai kejuangannya   ketika dulu  melawan Hindia Belanda,   hingga kini  masih murup (hidup). Untuk  mengejewantahkan nilai-nilai  itu,  selama dua hari sejak Sabtu (20/05/2017),  sekitar 200 pemuda, pramuka  dan mahasiswa  se  Bangka melakukan napak tilas ke sejumlah palagan (peperangan)  yang pernah dilakukan Depati Barin dalam kurun waktu 1819-1828. 

Kasie Sejarah Dikbud Bangka Ali Usman,  Rabu  (17/05/2017) siang, mengemukakan sejauh ini sudah ratusan  calon peserta mendaftarkan diri kepada Panitia Pelaksana Napak Tilas yang berasal dari  Perhimpunan Pemuda Desa Kimak, Bangka.

“Dari UBB saja sudah mendaftarkan diri tiga regu.  Belum lagi kalangan pemuda dan 12 regu pramuka dari  sejumlah sekolah di Kecamatan Merawang, Puding Besar dan Pemali.  Tapi mengingat keterbatasan sarana dan prasarna,  jumlah peserta  napak tilas Depati Barin tahun ini terpaksa kita batasi maksimal 200 orang saja,” ujar Ali Usman.

Peserta napak tilas bakal merasakan pengalaman tak terlupakan.  Sebab   dari sejumlah lokasi  palagan Depati Barin, beberapa tempat masih tergolong ‘anyar’ (baru).  Seperti menerobos vegetasi padat hutan Boswezen di pagi hari, sebelum mereka memasuki kawasan Aek Balai; tempat Depati Barin dan pengikutnya dulu menggelar rapat.

“Rute selanjutnya ke Simpang Lima, dan kemudian terakhir di makam Depati Barin di  Lubuk Bunter.   Jarak tempuh seluruhnya lebih dari lima kilometer,” ujar Ali Usman seraya menambahkan hutan Boswezen merupakan hutan reboisasi peninggalan Hindia Belanda.  Isinya tanaman kayu kelas satu: nyato dan melangir.  Luas  hutan Boswezen 60-an hektar.

Sebelum menerobos hutan Boswezen, seluruh peserta napak tilas berkumpul di depan Pondok Pesantren  Ilyamun Maju Barin (IMB) Desa Kimak. Di sini H Ilyasan (pemimpin Pesantren IMB) memaparkan sejarah Depati Barin, termasuk semua palagan yang pernah terjadi di Pulau Bangka.  

“Bila pagi hari pemaparan  kisah sejarah Depati Barin, tengah harinya peserta memasang  tenda. Usai itu   sore hari  digelar  permainan tradisional.  Nah, pada malam  harinya  kita gelar  kelakar budaya Bangka dan pentas seni.  Akan ada teaterikal perjuangan Depati Barin,” tukas Ali Usman.

Minggu pagi peserta mengikuti prosesi Mandi Berlimau, yakni   prosesi rutin jelang bulan Ramadhan.  Kemudian Minggu sorenya, lanjut Ali Usman,  peserta napak tilas  menyelusuri Sungai Baturusa dengan  rute berikut ini:  Lubukbunter terus ke Pulau Sangmenawi,  Limbung, Pangkalbunut, Aek Berlembang,  dan berakhir di Menareh: Kota Akek Pok.

“Sebenarnya rute napak tilas Depati Barin itu  panjang sekali.  Melewati sejumlah bukit,  antara lain Bukit Sumpah, di mana di lokasi itulah berlangsung  persumpahan perjuangan terjadi.    Karena terlalu jauh,  titik-titik napak tilas  kita persingkat,” papar Ali.

Napak tilas Depati Barin yang  merupakan even kerjasama antara Pemuda Kimak dan Pemkab Bangka ini memberikan sejumlah hadiah. Untuk kategori putera dan puteri, untuk juara ke satu, dua dan tiga masing-masing memeroleh hadioah berupa uang tunai satu juta rupiah, Rp 800 ribu dan Rp 700 ribu.

“Dana ini berasal dari  Pemkab Bangka  yang telah dianggarkan.  Sedangkan hadiah berupa barang  kita berikan kepada juara ke empat hingga lapan.   Hadiahnya berupa paket hadiah seperti tas punggung, buku teks, kaus dan lain-lain,” ujar Ali Usman.

Dalam kaitan itu,  Selasa malam Kepala UBB Press Eddy Jajang J Atmaja telah menyumbangkan 10 buku Gurindam Abad ke 21 edisi luks kepada Ali Usman. Sementara Wakil Rektor II UBB Agus Hartoko menyumbangkan hadiah 10 kaus t-shirt untuk peserta napak tilas yang meraih juara.

Dalam menentukan pemenang napak tilas, panitia akan menyebarkan sejumlah pertanyaan (kuesioner) yang berkaitan dengan sejarah dan budaya.  Kuesioner itu  harus diisi peserta napak tilas ketika berada di Pos 1 dengan tema sejarah Bangka, Pos 2 di Aek Balai bertemakan budaya, dan  kuesioner di Pos 3 temanya   Bahasa Bangka.

Perlawanan Depati Bari terhadap  pemerintah  Hindia Belanda terjadi dari  tahun 1819 hingga 1828.  Pengaruh perjuangannya dirasakan  keseluruh pelosok  Pulau Bangka.  Titik-titik lokasi perjuangan Depati Barin adalah  Kota Waringin, Puding Besar (pemenggalan Residen Smissaert), Bangka Kota (penduduk desa dibunuh  Hindia Belanda), lari ke selatan (arah ke Toboali):  Sungai Nyirih, Sungai  Olim dan Balar. (Eddy Jajang J Atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.