Rektor UBB Muh Yusuf: Jaga Terus Hutan Wisata Mangrove, Itu Aset Kita!

HATI YANG TINGGAL --  Meski Senin (21/08/2017) ke  41 mahasiswa KKN UBB di Penagan,  telah kembali ke Kampus Terpadu UBB di Balunijuk, Merawang, namun ‘hati’ mereka tetap ‘tinggal’ di desa yang berada di tepi laut itu (Penagan).   Dalam gambar, Rektor UBB Muh Yusuf didampingi Camat Mendo Barat Basuni dan DPL KKN  UBB serta mahasiswa KKN UBB  berfose di depan hutan wisata mangrove di Pantai Tanjung Raya, Penagan. 

PENAGAN, UBB --  Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr Ir Muh Yusuf MSi minta kepada pemdes dan masyarakat Penagan, Mendo Barat, menjaga  hutan wisata mangrove di Pantai Tanjung Raya, Penagan,  meski  41 mahasiswa KKN UBB kembali ke  Kampus Terpadu di Balunijuk, Merawang.

“Hemat saya destinasi baru di Kabupaten Bangka ini justeru harus ditingkatkan kualitas dan daya tariknya, sehingga pengunjung akan terus ramai datang ke sini!,”  ujar Muh Yusuf ketika memberi sambutan acara peresmian hutan wisata mangrove di Penagan, Sabtu (19/08/2017) siang.

Hutan wisata mangrove yang  dibangun oleh mahasiswa KKN UBB itu  kemarin diresmikan Bupati Bangka yang diwakili Camat Mendo Barat Basuni di Pantai Tanjung Raya.  Hadir menyaksikan acara ini Rektor UBB Muh Yusuf,  Pjs Kades Penagan Jalaludin, dan Dosen Pembimbing Lapangan UBB Ririn.

Terletak sekitar 60 km di Barat Kota Pangkalpinang, hutan wisata mangrove memiliki ‘track’ (jembatan penjalan kaki) di atas permukaan air laut sepanjang 500 meter.  Jembatan ini terbuat dari pokok kayu dan papan seru menghantar pengunjung ke bagian dalam mangrove yang berhadapan dengan laut.  Di sini pengunjung leluasa menghirup oksigen dan belaian angin laut.

Jembatan pejalan kaki dengan tinggi 1,2 meter dan lebar dua meter menjadi daya tarik tersendiri, dan mampu menarik ratusan pengunjung memadati Pantai Tanjung Raya.  Di ujung ‘track’  sengaja dipasang papan nama berisi tulisan: “No Khalwat Before Akad” (Tidak berduan dengan orang yang bukan muhrim sebelum menikah).

Sabtu pagi hingga Minggu,  hutan wisata Mangrove ramai dikunjungi warga.  Selain mencoba ‘track’ (jalan)  yang terbuat dari  kayu balokan  dan papan nyato, mereka juga ber-‘selfie’ (swafoto) ria di ‘spot’ Bambu Jodoh, Rumah Ranting, Gerbang Rindu dan Kursi Ta’ruf.

Bambu Jodoh terbuat dari susunan bilah bambu membentuk hati atau love. Di sini pengunjung bisa mengabadikan momen  masuk di dalam bingkai hati warna merah. Di  bagian sisi Bambu Jodoh tertera kalimat perintah: “Temukan Judoh Mu”.

Tak kalah menariknya  adalah ‘spot’ Gerbang Rindu. Selain sebagai lokasi  swafoto dan foto ‘bareng’, di area   Gerbang Rindu -- semacam gerbang  terbuat dari ranting setengah lingkaran berhias bunga merah -- tersedia ayunan yang kedua talinya diikat di antara  batang bakau tua.

Wahana ayunan alami ini jadi rebutan pengunjung.  Selain asyik, mereka sekaligus menikmati embusan angin pantai di atas ayunan.  Tak heran bila sekumpulan siswa SD,  ibu serta anak kecil  silih berganti mencoba ayunan ini. Di atas pohon sengaja dipajang papan nama “stay with me” plus lambang cinta (hati).

Didahului membacakan dua pantun, rektor dalam sambutannya  mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat yang telah menerima 41 mahasiswa UBB melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penagan.  

Diakui rektor beberapa sprogram KKN belum  dapat dilaksanakan. Itu terjadi  karena lama mahasiswa KKN di setiap lokasi  hibatasi  35 hari.  Setelah jangka waktu itu   mahasiswa harus kembali ke  kampus untuk mengikuti perkuliahan kembali.

“KKN UBB di Penagan ini  bukanlah  akhir dari kerjasama kita.  Melainkan  ini awal  dari sinergitas yang harmoni antara UBB dengan pemdes dan warga masyarakat di sini.  Mudah-mudahan tahun depan   KKN UBB kembali dilaksanakan di desa ini,”  tukas  Muh Yusuf.

Rektor  mengapresiasi kerja keras  seluruh  mahasiswa KKN UBB yang berhasil menciptakan daya tarik wisata baru di Pantai Tanjung Raya Penagan. Yakni dengan hadirnya hutan wisata mangrove, berikut  ‘tract’ (jembatan),  ‘spot’ swafoto  dan  beberapa wahana bermain di objek wisata itu.

Hutan wisata mangrove  lanjut rektor harus dijaga dan bahkan ditingkatkan daya pikatnya, meski nanti  41 mahasiswa KKN UBB telah kembali ke Kampus Terpadu UBB di Balunijuk, Merawang.

Destinasi ini menurut Muh Yusuf  merupakan aset masyarakat setempat dan Pemda Bangka. Di sini warga bisa membuka usaha rumahan atau pondok  yang menjual makanan buatan ibu-ibu setempat.  Atau mejadi pemacu membuat cinderamata untuk dijual kepada pengunjung hutan wisata.

“Untuk itu,  lokasi di sekitar Pantai Tanjung Raya harus selalu bersih, rapih dan alami.  Pesona bukit yang ada di dekat pantai harus dihijaukan tanaman lada, durian  atau lainnya.  Kawasan  parkir ditata baik, begitu pula  jalan masuk dan tempat berjualan, sehingga pengunjung merasa nyaman!” ujar Muh Yusuf.

Diakuinya untuk menata ruang publik di sekitar kawasan hutan wisata mangrove harus didukung semua pihak, dan harus ditata sejak awal sebelum jumlah pengunjung kian meningkat.

“Untuk menjadi hutan wisata mangrove tertata apik memang perlu waktu dan kerja keras. Sebagai bandingan,  hutan wisata mangrove di Desa Tukak, Bangka Selatan dapat tertata baik setelah KKN UBB dua kali dilaksanakan di sana,” terang Muh Yusuf.

Hutan wisata mangrove di Tukak tertata baik setelah sebagian  dana desa  di sana digunakan  untuk menata agrowisata tersebut.   Karena itu rektor menyarankan,  kalau disetujui oleh pemdes dan warga Penagan,  sejumlah  dari dana Desa Penagan tahun depan  dapat  digunakan untuk menata hutan wisata mangrove di Pantai Tanjung Raya.

“Saya usul Pak Kades dan perangkatnya serta warga di sini melihat langsung hutan wisata mangrove di Desa Tukak, Bangka Selatan. Di sana ada hutan wisata mangrove yang sudah ditata  bagus.  Sekali waktu kunjungilah Desa Tukak, istilah ‘keren’-nya  sekarang: studi banding,  begitu,” ujar Muh Yusuf.

Melihat sejumlah lokasi di Pantai Tanjung Raya tanaman mangrovenya kurang rapat,  rektor menyarankan agar ditanami  bibit mangrove,  sehingga kelak  hutan wisata mangove Penagan lebih rimbun, padat, sejuk  dan kian indah.

“Bisa,  tinggal surati BKSDA, Dinas Kehutanan atau BPDAS, minta dihibahkan  seribu atau dua ribu bibit mangrove dan Cemara Laut.  Tanami di tempat-tempat yang mangrovenya kurang padat!,” ujar Muh Yusuf (Eddy Jajang Jaya Atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.