Setelah Sempat Hilang Selama 23 Tahun, Gelar Insinyur Kembali Disematkan Di Depan Nama Sarjana Teknik dan Pertanian

PELEDAKAN -- Deza Pahlevi Antasari, sarjana teknik pertambangan baru UBB, sedang menjelaskan sejumlah teknik peledakan dalam dunia pertambangan pada kuliah umum teknik pertambangan yang diikuti 120 mahasiswa Teknik Pertambangan UBB di Ruang Rapat Besar Rektorat UBB, Balunijuk, Bangka, Kamis (09/02/2017) pagi hingga siang.

MERAWANG, UBB --   Setelah  selama 23   tahun -- sejak tahun 1994 --  gelar insinyur (Ir) tidak lagi diberikan kepada sarjana teknik dan  pertanian, kini gencar  berkembang  wacana bahwa gelar ‘bergengsi itu’  akan  kembali disematkan kepada alumni fakultas teknik dan pertanian.

“Rancangan undang-undangnya sudah ada.  Hanya saja untuk mendapatkan gelar insinyur itu,  setiap alumni fakultas teknik dan pertanian yang telah mengikuti pendidikan stratum satu selama 4,5 tahun, harus kembali mengikuti pendidikan atau kuliah tambahan selama satu tahun,” ujar Wahri Sunanda ST M.Eng, Dekan Fakutas Teknik UBB di Ruang Rapat Besar Rektorat UBB, Kamis (09/02/2017) pagi.

Berbicara ketika membuka Kuliah Umum Teknik Pertambangan UBB yang bertajuk “Prepare You Future From Now To Be Good Mining Engineer” yang dihadiri 120 mahasiswa Teknik Pertambangan,  Wahri  menjelaskan wacana gelar insinyur itu  kembali berkembang karena sejumlah alasan, seperti penyeragaman gelar untuk  bidang keahlian teknik dan pertanian  di antara  10 negara AEC (ASEAN Economic Community) atau  Masyarakat  Ekonomi ASEAN).       

“Gelar insinyur  itu akan diterakan di sertifikasi bidang keahlian teknik dan pertanian berskala AEC.  Selain seragam, empunya atau pemilik gelar insinyur yang telah disertifikasi,  nanti  bisa dengan  leluasa mendaftar ataupun  bekerja secara profesional  di semua korporasi atau perusahaan  yang beroperasi  di 10 negara anggota Masyarakat Ekonomi ASEAN itu,” ujar Wahri, didampingi Ketua Jurusan Teknik Pertambangan UBB Irvani ST M.Eng.

Wacana kembali menggunakan  gelar insinyur itu mulai berkembang pada awal tahun 2017.  Sebelumnya,   sejak  tahun 1994,  setiap mahasiswa  yang menyelesaikan  kuliah  di fakultas  teknik dan   pertanian memperoleh gelar, masing-masing  memperoleh gelar ST (sarjana teknik) dan SP (sarjana pertanian).   

“Dulu, sebelum tahun 1994,   setiap alumni  fakultas  teknik dan   pertanian memperoleh gelar insinyur.  Gelar,  yang  disematkan di depan nama yang bersangkutan,  itu  diberikan  karena  telah mengikuti perkuliahan dan KKN (Kuliah Kerja Nyata)  sebanyak  160 sks (satuan kredit semester).  Namun  sedari 1994 hingga kini, gelar sarjana teknik atau ST dan sarjana pertanian atau SP, itu  diberikan kepada mahasiswa yang telah mengikuti perkuliahan dan KKN  sebanyak 144 sks,” ujar Wahri.

Selain kepentingan profesional dan penyeragaman gelar di kalangan negara  anggota  MEA,  penyematan gelar insinyur dengan tambahan kuliah satu tahun, terinspirasi dari praktik pemberian gelar sarjana kedokteran dan farmasi (apoteker).

“Untuk memperoleh gelar dokter,  seorang sarjana kedokteran harus ikut kuliah lagi.  Demikian pula sarjana farmasi. Di Fakultas Kedokteran bahkan sebelum meraih predikat  sarjana kedokteran, setiap mahasiswa di sana terlebih dahulu menjadi “co-ast” (co asisten),” ujar Wahri dalam acara yang dihadiri Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (Himata) UBB Gilang.

Menanggapi wacana tambahan satu tahun kuliah demi mendapatkan gelar insinyur, Wahri menilai tidak akan menjadi beban bagi alumni fakultas teknik. Alasannya, kuliah selama 4,5 tahun dan kemudian  memperoleh gelar sarjana teknik (ST), masih dirasa perlu mendapatkan tambahan ilmu.

“Tak cukup hanya untuk memperoleh selembar ijazah dan gelar ST saja. Di luar wacana  gelar insinyur kembali digunakan, apa pun jua, seorang sarjana teknik itu harus terus menerus menambah ilmu pengetahuan dan keterampilannya, baik dari dalam maupun dari luar kampus!,” ujar dekan Fakultas Teknik UBB.

Akan tetapi bila gelar insinyur itu telah seragam diterapkan, Wahri memastikan akan  banyak  faedah yang diperoleh insinyur Indonesia.

“Tak masalah tambah satu tahun kuliah untuk mendapat gelar insinyur.  Setelah itu ‘kan bisa kerja di semua negara ASEAN, gaji yang diperoleh pun lumayan besar.  Terutama bila bekerja di Malaysia dan Thailand.  Tak salah kita jadi kaya, asalkan  untuk beramal dan sedekah!,” ujar  Wahri yang sontak disambut tepuk tangan dari 120  mahasiswa Teknik Pertambangan semester 2,4 dan 6 yang menjadi peserta kuliah umum (eddy jajang jaya atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.