Terumbu Karang di Desa Tanjung Labu Pulau Lepar Kabupaten Bangka Selatan, Pengamatan Bulan April 2009

Pulau Lepar merupakan Pulau terbesar dari Pulau-Pulau kecil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara administrasi Pulau Lepar terletak di Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Pulau ini terletak pada posisi geografis 02o57’00” LS dan 106o48’36” BT dengan luas 25.416,380 ha (Pulau terbesar di Kabupaten Bangka Selatan). Topografi Pulau Lepar berbentuk sedikit datar dan banyak berbukit-bukit. 

Penduduk Pulau ini tersebar pada 3 (tiga) desa, yaitu Desa Penutuk, Tanjung Sangkar dan Tanjung Labu. Ekosistem padang lamun di Pulau Lepar merupakan ekosistem padang lamun terluas di Pulau Bangka. Padang lamun di Pulau ini tersebar di perairan dangkal sekitar Desa Penutuk dan Desa Tanjung Sangkar, sedangkan Desa Tanjung Labu merupakan kawasan terumbu karang. Selain memiliki potensi yang besar dibidang perairan disekitarnya, Pulau Lepar juga memiliki potensi bahan tambang timah yang mulai marak digarap oleh masyarakat dan para pendatang sejak tahun 2005 – 2007. Selain itu terdapat juga perkebunan sawit yang dimiliki oleh swasta dan saat ini masyarakat pun mulai berkebun sawit.

Kecamatan Lepar Pongok berpusat pada Desa Tanjung Labu. Desa ini terdiri dari 2050 jiwa dengan luas 47,460 km2 (Kecamatan Lepar Pongok dalam angka, 2007). Masyarakat desa ini berprofesi sebagai nelayan dan petani. Jika berjalan diantara rumah-rumah penduduk akan kita temui tumpukan pecahan karang yang biasanya digunakan masyarakat sebagai pondasi rumah. Ini menggambarkan bahwa kawasan laut di desa ini banyak terdapat karang. Harga pecahan karang memang lebih murah dibandingkan batu granit yang biasa digunakan untuk pondasi rumah. Selain itu, proses pengerjaan untuk mendapatkan pecahan karang jauh lebih mudah jika dibandingkan memecah batu granit. Dari pantai desa ini kita dapat melihat Pulau Pongok yang jika menggunakan perahu nelayan setempat membutuhkan waktu 1,5 – 2 jam. 

Terumbu karang di Desa Tanjung Labu

Desa Tanjung Labu merupakan desa yang terdapat pada bagian Pulau Lepar yang perairan lautnya kaya dengan ekosistem terumbu karang. Sepanjang pantai yang terdapat di desa ini terdapat rataan karang yang memanjang. Sayangnya ketebalan karang yang terdapat sepanjag pantai relative rendah sehingga jika kita ingin menikmati keindahan karang, disarankan untuk menyelam sepanjang tubir. Terumbu karang sepanjang pantai ini kondisinya masih bagus karena memang sangat jarang masyarakat desa melakukan kegiatan pengrusakan terhadap ekosistem terumbu karang didesanya.

Sebenarnya, ketebalan lapisan karang cukup tinggi jika saja tidak banyak ditumbuhi oleh alga dan pada beberapa titik ditemukan lamun (seagrass). Banyaknya ditemui alga karena saat surut terendah, rataan karang yang terdapat di pinggir pantai ini terbuka terkena matahari secara langsung. Inilah yang membuat pertumbuhan karang menjadi kurang baik dan memacu tumbuhnya alga. Namun, pada bagian rataan karang yang selalu terendam oleh air, kondisinya bagus dan memiliki keanekaraman jenis karang yang tinggi dan terdapat banyak jenis ikan dan biota laut khas terumbu karang.

Di lokasi karang ini banyak ditemukan hydra jenis bulu ayam (Aglaophenia) yang menyerupai helaian daun yang berwarna pucat, merupakan salah satu jenis hydra yang kuat jenis nematositnya. Jika tersentuh kulit secara langsung akan menyebabkan kulit meradang dan mengalami pembengkakan yang cukup serius jika tidak segera ditangani. 

Banyaknya ditemui hydra ini mengindikasikan jika terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem terumbu karang ini. Namun, secara umum kondisi karang disepanjang pantai Desa Tanjung Labu kondisinya masih relative sehat dan tidak ditemukan kerusakan yang berarti akibat tangan jahil manusia. Selain itu, ditemui cukup banyak kerang raksasa jenis kima (Tridacna squamosa) yang memiliki corak warna yang indah dan bervariasi. 

Kerang ini biasanya jika ditemui oleh nelayan akan diambil untuk dikonsumsi sendiri. Banyaknya ditemui kima disepanjang pantai ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Tanjung Labu sangat jarang melakukan penyelaman disekitar kawasan terumbu karangnya sendiri. Masyarakat Desa Tanjung Labu memang sebagian besar adalah nelayan. Namun bukan jenis nelayan yang menyelam untuk mencari ikan. Nelayan di desa ini adalah nelayan pancing dan nelayan bagan. 

Selain itu di sepanjang pantaipun banyak ditemui sero. Sero adalah alat tangkap ikan jenis perangkap (trap) yang memanfaatkan pasang surut air laut. Ikan yang didapat adalah ikan karang jenis ekonomis yang memiliki harga jual cukup tinggi seperti kerapu, seminyak, lutjanus, ketarap dan banyak lagi. Namun selain ikan, sering juga yang didapat adalah penyu hijau. Penyu ini biasanya dilepas kembali oleh nelayan namun ada juga yang sebagian dibunuh karena dianggap pengganggu (artikel tentang penyu hijau di pantai Desa Tanjung Labu pada tulisan yang lain).

Selain terdapat karang sepanjang pantainya, di Desa Tanjung Labu pun terdapat karang yang letaknya terpisah dari pantai. Karang tersebut terlihat dari pantai saat air laut surut dan akan tertutup saat air laut pasang dan cukup luas. Karang ini dikenal oleh masyarakat Desa Tanjung Labu dengan sebutan “karang kucek”. Karang kucek dapat dilihat dari dermaga pantai yang terdapat di Desa Tanjung Labu. Untuk mencapai lokasi karang kucek dapat dilakukan dengan berenang dari pantai kira-kira sejauh 300 meter. Namun perairan yang akan dilintasi cukup dalam sehingga sangat jarang yang berenang langsung dari pantai. Bisanya jika nelayan atau masyarakat yang ingin ke lokasi karang kucek menggunakan perahu. 

Karena karang kucek posisinya terpisah secara langsung dari daratan pantai sehingga masyarakat lebih jarang melakukan kegiatan pengrusakan di ekosistem karang ini. Ekosistem terumbu karang kucek masih sangat asli. Sepanjang perjalanan ekspedisi terumbu karang yang telah dilakukan oleh universitas Bangka Belitung, karang kucek merupakan lokasi dengan ekosistem yang kondisinya terbaik dengan keanekaragaman biota laut yang juga tinggi. Semua jenis tipe pertumbuhan karang ditemukan di karang kucek, mulai dari acropora hingga foliose. Semua tersaji dengan indah di laut Tanjung Labu.

Ketika melakukan penyelaman, diantara celah-celah keindahan karang yang tersaji dihadapan kami, ada dua hal yang menjadi ancaman terhadap keindahan terumbu karang di karang kucek yaitu pemutihan karang (coral bleaching) dan penangkapan ikan dengan cara yang destruktif oleh nelayan. Spot pemutihan karang yang ditemukan cukup banyak dan mengkhawatirkan. Kemungkinan terjadinya pemutihan karang akibat pemanasan global di Pulau Bangka Belitung yang cukup tinggi akibat banyaknya hutan yang dijarah oleh penambangan timah dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit oleh perusahaan swasta maupun masyarakat. Memang hampir di setiap titik terdapat pemutihan karang dari lokasi-lokasi karang yang telah tim ekspedisi terumbu karang UBB lakukan. Namun spot yang terdapat di terumbu karang Desa Tanjung Labu lebih banyak ditemukan.

Pemutihan karang secara umum terjadi karena dua macam, yaitu karena matinya polip karang dan karena keluarnya zooxanthella dari organism karang. Kedua hal ini terjadi karena permasalahan yang sama yaitu “stress” akibat perubahan lingkungan. Kematian polip biasanya disebabkan karena turunnya salinitas air laut dan faktor kimia (herbisida, pestisida, sianida) yang tercemar dalam perairan air laut. Keluarnya zooxanthella biasanya karena perubahan suhu akibat pengaruh pemanasan global dan el-nino. Pemutihan karang karena matinya polip karang menyebabkan karang menjadi mati dan lama-kelamaan akan ditumbuhi alga dan kemudian patah menjadi rubber. Berbeda jika zooxanthella yang keluar, masih ada harapan karang menjadi pulih jika kondisi lingkungan kembali sesuai dengan kehidupan karang.

Penangkapan dengan cara destruktif merupakan salah satu ancaman terhadap ekosistem terumbu karang di karang kucek Desa Tanjung Labu. Semakin sedikitnya ikan hasil tangkapan dengan jumlah armada tangkap (nelayan) yang terus meningkat menjadikan tak sedikit nelayan yang menangkap ikan dengan cara yang dapat mengancam kerusakan ekosistem terumbu karang seperti dengan bom, sianida dan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem terumbu karang. Hal ini diperparah oleh penegakan hukum di laut terhadap para pengrusak ekosistem yang sangat vital ini dianggap masih sangat lemah. Ada beberapa spot pengamatan terlihat karang patah dan posisinya terbalik akibat dari tangan-tangan yang tidak bijaksana memanfaatkan ekosistem ini.

Dalam pemenuhan kebutuhan hidup, di satu sisi seringkali sumberdaya alam termasuk ekosistem terumbu karang dianggap sebagai sumberdaya milik umum (common comunity) yang dapat dimanfaatkan sekehendak hati tanpa memperhatikan kelestariannya. Dengan demikian, keadaan ekosistem terumbu karang semakin menipis dan kemampuan dalam menyediakan jenis-jenis lingkungan keperluan pembangunan dan kehidupan manusia semakin menurun. Pemanfaatan ekosistem terumbu karang yang merusak dapat mengakibatkan hilangnya komponen sumberdaya hayati lain yang terkandung di dalamnya. Sumberdaya penyusun ekosistem terumbu karang memiliki nilai ekonomi, sehingga aktivitas dan pemanfaatan ekosistem terumbu karang dapat berakibat hilangnya nilai ekonomi dari komponen sumberdaya lain yang terkandung di dalamnya. 

Tiga perempat perikanan dunia telah mengalami tangkap lebih atau sudah mengalami penurunan tangkapan (FAO Fisheries Departement, 2002). Sebagian besar perairan Indonesia telah mengalami tangkap lebih. Hampir separuh Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia mengalami tangkap lebih yang sangat parah untuk ikan karang dan lobster, sementara lebih dari separuh WPP Indonesia telah mengalami tangkap lebih untuk udang penaeid (PRPT-BRKP dan PPPO-LIPI, 2002). Usaha untuk mengatasi overfishing adalah dengan melakukan pendekatan pengelolaan berbasis ekosistem, dimana daerah perlindungan laut (DPL) memainkan peranan penting untuk mendukung kelestariannya.

Menjadikan kawasan karang kucek sebagai daerah perlindungan laut berbasis masyarakt (DPL-BM) dimana masyarakat (nelayan) sebagai pelaku utama dalam menjaga dan mengawasi DPL merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam turut andil menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang yang merupakan pilar utama sektor perikanan dan wisata bahari di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dinas kelautan dan perikanan kabupaten bangka selatan rencananya akan membuat kawasan koservasi laut daerah (KKLD) di beberapa spot terumbu karang yang lokasinya masih bagus.

Mudah-mudahan rencana ini berjalan dengan baik dengan menerapkan masyarakat sebagai pelaku utama dari kegiatan ini. Bukan hanya sekedar proyek yang menghabiskan anggaran tinggi namun hanya untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Inilah yang menyebabkan sektor kelautan dan perikanan di daerah kita sulit berkembang padahal memiliki potensi yang sangat besar jika dikelola dengan benar dan bijaksana oleh seluruh sektor terkait yang peduli dengan nasib terumbu karang, peduli akan masa depan generasi Bangka Belitung pasca timah.

 

 



Nelayan Desa Tanjung Labu yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula Sp.) menggunakan potongan rotan yang digunakan untuk umpan memancing



Foto kima (Tridacna squamosa), hydra bulu ayam (Aglaophenia) dan bulu babi (Diadema) di ekosistem terumbu karang Pantai Desa Tanjung Labu



karang jenis acropora yang terhampar dengan ikan-ikan damselfishes yang beraneka jenis di karang kucek pantai desa Tanjung Labu



hamparan karang lunak Sarcophyton dan Stychodactyla atau yang lebih dikenal dalam bahasa local dengan “karang handuk” pada karang kucek yang dangkal



Keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek yang terancam pemutihan karang (coral bleaching). Tampak beberapa spot karang yang kondisinya memutih (bleaching)



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



keindahan ekosistem terumbu karang di karang kucek. Dengan keanekaragaman jenis karang dan ikan yang tinggi.



Desa Tanjung Labu, tampak pecahan karang di depan rumah yang biasanya digunakan sebagai pondasi rumah



Pantai di desa Tanjung Labu



Pantai di desa Tanjung Labu



Pulau Lepar (yang paling besar). Terlihat bekas penambangan timah inkonvensional dengan Pulau-pulau kecil disekitarnya.


Pengamatan dilakukan pada April 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih S.Pi, Eko Chandra.

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.