Terumbu Karang di Pantai Tanjung Ular Mentok Kabupaten Bangka Barat

pengamatan kondisi terumbu karang, Melihat banyaknya bebatuan dipantai, airnya yang terlihat biru jernih dan substrat pasir pantainya tim menduga pantai ini akan menjadi kawasan ekosistem terumbu karang yang cukup baik. Apalagi melihat nelayan yang menggunakan alat tangkap jenis bubu (seperti di daerah Pulau Semujur) semakin menguatkan indikasi kami bahwa ada potensi terumbu karang di pantai ini. Maklum, hasil pengamatan terhadap kondisi terumbu karang di Daerah Tungau Kecamatan Simpang Teritip ternyata kurang baik. Karenanya, hingga artikel ini dibuat belum ada daerah di Kabupaten Bangka Barat yang kondisi karangnya tergolong bagus atau sangat baik (tutupan karang hidup > 75%).

Pantai Tanjung Ular merupakan kawasan pantai yang cukup terkenal dikawasan Mentok Kabupaten Bangka Barat. Pantai terlihat jelas saat kita melewati jalan yang memanjang sepanjang kawasan ini. Posisi pantai ini berjarak sekitar 12 km dari kota Mentok melewati beberapa perkampungan melayu dan chinese. Sepanjang perjalanan menuju pantai dari mentok, kita akan disajikan pemandangan yang indah menghijau bukit menumbing. Bukit ini merupakan bukit yang sangat terkenal di Provinsi Bangka Belitung karena dipuncaknya merupakan tempat presiden pertama indonesia Ir Soekarno pernah diasingkan oleh Belanda. Mulai dari awal perjalanan pun kita telah disajikan pemandangan laut yang luas membiru. Jalan menuju pantai ini baru diaspal sehingga perjalanan menjadi terasa nyaman.

Daerah Pantai Tanjung Ular Mentok kabarnya akan dijadikan sebagai kawasan chemical tin yang merupakan kawasan industri untuk peleburan timah di Pulau Bangka. Namun pembangunan ini mendapat kendala karena masalah pembebasan lahan dan krisis listrik yang masih melanda daerah ini. Tak hanya itu, kabarnya chemical tin merupakan industri yang tidak hanya melebur timah tetapi merupakan industri yang dapat menghasilkan produk olahan dari timah. Masyarakat Bangka Belitung telah lama menantikan indutri ini mengingat daerah ini merupkan lumbung timah dunia yang telah ditambang dari zaman sebelum VOC. Kerusakan alam yang diakibatkan oleh penambangan timah dari zaman ke zaman pun semakin tampak di provinsi ini terutama saat penambangan timah inkonvensional (TI) mulai diperbolehkan pada tahun 1999.

Pantai Tanjung Ular merupakan pantai yang banyak dikunjungi oleh masyarakat kota Mentok saat akhir pekan selain Pantai Tanjung Kalian. Sama dengan Pantai Tanjung Kalian yang terdapat mercusuar, di Pantai Tanjung Ular pun terdapat mercusuar. Namun mercusuar di pantai ini lebih kecil dan terbuat dari rangka besi sama dengan mercusuar mini yang terdapat di Pantai Tanjung Berikat Kecamatan Lubuk Besar Kabupaten Bangka Tengah dan Pulau Lampu Pantai Penyusuk Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka. Disampingnya terdapat pangkalan nelayan merapatkan perahunya. Nelayan di pantai ini sebagian besar merupakan nelayan pancing, bubu dan jaring tergantung musim. Jika perairan tenang, nelayan di daerah ini banyak yang memasang bubu. Namun ketika ombak cukup besar berganti menjadi nelayan pancing atau jaring. Nelayan di daerah ini sebagian besar merupakan nelayan dari chinese.

Pantai Tanjung Ular seperti pantai khas yang terdapat di daerah Bangka Barat adalah dengan warna pasirnya yang tampak sedikit kuning jika dibanding pantai yang terdapat di daerah lain. Pantai ini berpasir putih kekuning-kuningan dengan batu-batu berwarna merah bervariasi yang licin dan artistk. Berbeda dengan pantai yang terdapat di daerah lain yang merupakan batu granit. Kawasan Pantai Tanjung Ular sangat panjang dan pantainya cukup landai. Saat melakukan pengamatan kondisi pantai, tim eksplorasi terumbu karang UBB bertemu dengan ibu-ibu yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula sp.). Wak-wak biasanya dijual dalam bentuk kering dan sangat disukai orang chinese sebagai masakan. 

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Pantai Tanjung Ular Kecamatan Mentok Kabupaten Bangka Barat

Sebelum melakukan pengamatan kondisi terumbu karang, Melihat banyaknya bebatuan dipantai, airnya yang terlihat biru jernih dan substrat pasir pantainya tim menduga pantai ini akan menjadi kawasan ekosistem terumbu karang yang cukup baik. Apalagi melihat nelayan yang menggunakan alat tangkap jenis bubu (seperti di daerah Pulau Semujur) semakin menguatkan indikasi kami bahwa ada potensi terumbu karang di pantai ini. Maklum, hasil pengamatan terhadap kondisi terumbu karang di Daerah Tungau Kecamatan Simpang Teritip ternyata kurang baik. Karenanya, hingga artikel ini dibuat belum ada daerah di Kabupaten Bangka Barat yang kondisi karangnya tergolong bagus atau sangat baik (tutupan karang hidup > 75%).

Namun setelah melakukan pengamatan hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terumbu karang di kawasan ini kondisinya buruk (tutupan karang hidup <25%). Terumbu karang dipantai ini tampak merana dan banyak yang mati tertutup substrat halus. Saat melakukan pengamatan air laut pun kurang jernih akibat substrat-substrat halus yang banyak beterbangan di perairan. Hal ini menyebabkan kondisi karang kurang optimal dan karang yang tidak sanggup terhadap tekanan kondisi ini banyak yang mati. Tampak karang-karang massive yang mati dan tertutup sedimen dihampir seluruh permukaannya. Selain itu tampak pula substrat-substrat yang menempel pada karang Acropora digitate dan karang foliose. Selain itu ditemukan pula banyak bulu babi hitam (Diadema sp.) di ekosistem terumbu karang. 

Namun masih tetap ada ditemukan karang yang kondisinya masih baik. Hal ini diestimasikan karena karang berada pada perairan yang arusnya cukup kuat sehingga mampu menyapu sedimen-sedimen halus yang menempel pada karang tersebut. Karena karang yang kondisinya lebih baik tersebu berada pada perairan yang lebih dalam dengan arus yang lebih kuat. Banyaknya sedimen halus besar kemungkinan diakibatkan oleh arus perairan yang membawa subsrtat-substrat tersebut. Selain itu aktivitas peambangan timah inkonvensional apung (TI Apung_red) yang masih marak di sekitar pantai tersebut. Sedimen-sedimen halus tersebut terbawa arus dan akhirnya menutup polip-polip karang yang ukurannya lebih kecil sehingga lama kelamaan akan menyebabkan kematian karang.

Jenis ikan yang ditemui di ekosistem terumbu karang di daerah ini pun rendah. Tak banyak jenis ikan yang ditemukan dan ukurannya relatif kecil. Inilah yang terjadi ketika ekosistem terumbu karang telah rusak. Perikanan akan menurun karena rumah, tempat tumbuh dan tempat mencari makan telah rusak. Selain itu potensi pariwisata pun akan sulit berkembang karena turis asing yang sebagian besar berasal dari daerah subtropis bukan hanya menyukai keindahan pantai yang tampak luar namun menyukai wisata underwater dengan snorkling dan diving di ekosistem terumbu karang tropis yang memiliki keanekaragaman yang jauh lebih tinggi daripada ditempat asal mereka. Karenanya, ketika pemerintah daerah ini serius ingin membangun sektor pariwisata bahari, seharusnya serius pula menjaga kelestarian terumbu karang kita. Sayangnya, kenyataan yang terlihat banyak terumbu karang yang kondisinya merana bahkan rusak permanen akibat kebebasan penambangan timah yang kebablasan.

 



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Pantai Tanjung Ular yang cantik



Ibu-ibu nelayan yang sedang mencari wak-wak (Spicuncula Sp.) di Pantai Tanjung Ular



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 1



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 2



Foto Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular 3



Terumbu Karang di Pantai tanjung Ular yang kondisinya kurang baik karena banyak tertutup sedimen halus dan banyak terdapat bulu babi hitam (Diadema sp)


Pengamatan dilakukan pada Mei 2009
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 7,1 MP.
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih S.Pi, Rahmat Kurnia.

 

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.