Terumbu Karang di Sungai Samak Kecamatan Badau kabupaten Belitung

Pulau Belitung memang kaya dengan sebaran terumbu karang. Hal ini karena Pulau belitong yang sekarang lebih di kenal dengan sebutan negeri laskar pelangi ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil yang kaya dengan potensi wisata bahari. Pantai-pantai di pulau Belitung terkenal dengan pasirnya yang putih, airnya yang biru jernih tenang dan pemandangan alamnya yang indah.
Karakteristik pesisir di pulau Belitung ini membuat daerah tersebut sangat potensi menjadi daerah yang kaya akan ekosistem terumbu karang. Pada bulan februari 2009 kemarin, tim ekspedisi berkesempatan untuk melakukan eksplorasi terumbu karang di pulau Belitung. Tempat yang menjadi target adalah pantai di desa sungai samak kecamatan badau kabupaten Belitung. 

Pada bulan februari, perairan di pulau Belitung saat itu sedang memasuki musim utara sehingga kawasan sepanjang pantai tanjung kelayang dan tanjung tinggi bergelombang tinggi dengan perairan yang kurang baik untuk melakukan foto underwater. Padahal pantai ini biasanya terkenal dengan panorama yang indah dan perairan yang tenang. Namun karena memang arah angin yang berakibat kepada arah arus permukaan air laut tepat mengarah ke kawasan tersebut membuat gelombang perairan di pantai itu cukup besar. Tapi tim eksplorasi terumbu karang universitas Negeri Bangka Belitung tidak kehilangan akal, pencarian lokasi dialihkan ke lokasi yang cukup terlindung saat musim utara akhirnya tim memutuskan ke lokasi di desa sungai samak kecamatan badau kabupaten Belitung. Menurut sumber dari Belitung Dalam Angka, 2006, kecamatan badau memiliki luas 413,992 Km2 atau 19.95% dari luas total kabupaten Belitung. Sejak tahun 2003, pulau Belitung memang telah dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu kabupaten Belitung dan kabupaten Belitung timur. Desa sungai samak kemungkinan besar diawali dengan “sungai” karena ada aliran sungai yang terdapat di desa ini. Pulau Belitung memang banyak terdapat aliran sungai.

Di sepanjang jalan desa kita akan melihat pantai yang panjang dan luas. Saat surut terendah di sore hari, disepanjang pantai akan kita jumpai banyak ibu dan anak-anak yang mencari biota laut untuk konsumsi sendiri atau dijual seperti kepiting, kerang, lokan dll. Ini adalah bukti bahwa Laut memang menyediakan pangan yang kaya protein kepada manusia selama kita bisa menjaga laut dengan baik dan bijaksana. Sebenarnya lokasi terumbu karang di kawasan pantai desa sungai samak dapat dicapai cukup dengan berjalan kaki. Namun karena perairan mulai pasang, tim memutuskan menyewa perahu menuju lokasi terumbu karang terdekat dari pantai. Dengan guide dari nelayan setempat, tim dibawa menuju pantai. 

Kesan pertama saat melihat pantainya adalah hamparan pasir putih yang luas dengan perairan biru jernih terbentang. Tak jauh dihadapan kami terdapat dua pulau yang sebenarnya ketika dilihat saling menyatu. Pulau tersebut adalah pulau bayan yang sangat eksotis dengan hamparan pasir putihnya dan menyembul batu-batu berwarna kemerahan (bukan batu granit seperti pada umumnya) diantara pepohonan tropis yang masih asri. Pulau bayan sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki bila air laut surut. Menurut nelayan setempat, terumbu karang berada tepat di hadapan pulau bayan. Saat berjalan dipantai yang landai ini, banyak terdapat makroalga jenis rumput laut Euchema. Ini mengindikasikan bahwa lokasi ini sebenarnya dapat dikembangkan sebagai daerah budidaya rumput laut dimasa yang akan datang.

Kondisi Terumbu karang di Pantai Desa Sungai Samak

Terumbu karang yang terdapat di Sungai samak bukanlah jenis terumbu karang yang memanjang secara merata. Terumbu karang terpisah-pisah dengan luasan yang relative kecil. Dapat dikatan bahwa ekosistem terumbu karang hanya ditemui pada komplek-koplek tertentu. Setiap komplek terumbu karang dipisahkan oleh pasir dengan jarak bervariasi antara 300 – 700 meter.
Ketika melakukan penyelaman dan pengambilan foto underwater, tim eksplorasi terumbu karang UBB menyimpulkan bahwa kondisi terumbu karang di kawasan ini cukup baik. Keanekaragaman jenis karang cukup tinggi dan biota laut khas ekosistem terumbu karang pun cukup banyak ditemui. Karang jenis branching, foliose, massif, softcoral dan tabulate dijumpai di ekosistem terumbu karang ini. Jenis ikan yang dijumpai pun cukup banyak seperti jenis ikan amphiprion, angle fish, carsio cuning, butterflyfish, dasn banyak lagi jenis lainnya. Namun ada satu hal yang menjadi kekhawatiran ketika melihat kondisi terumbu karang di kawasan ini.

Saat melakukan eksplorasi tak dijumpai bulu babi (Diadema Sp.) sebagaimana yang biasa tim temui di lokasi ekosistem terumbu karang sebelumnya. Bulu babi merupakan biota herbivore diekosistem terumbu karang yang memliki peranan dalam menjaga keseimbangan pertumbuhan alga di ekosistem ini. Namun, jika jumlahnya terlalu banyak (lebih dari 100 ekor per 1 km2) akan menyebabkan kerugian bagi terumbu karang karena dapat memakan zooxanthella pada karang. Namun yang menjadi kekhawatiran utama terhadap kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan ini adalah tutupan alga yang cukup tinggi pada ekosistem terumbu karang. Banyak ditemui karang yang mati akibat tutupan mikroalga (Dead Coral with Alga, DCA). Menurut kami, berdasarkan kondisi lingkungan, besar kemungkinan hal ini diakibatkan oleh peningkatan unsur hara di perairan (eutrofikasi). Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk desa yang rumahnya berdekatan dengan pantai membuang sampah dan limbah organic rumah tangga di perairan pantai. Selain itu, adanya sungai menjadikan kandungan unsur hara dari daerah daratan terbawa ke laut dan terus terakumulasi setiap waktu. 

Walaupun unsur hara (nutrient) sangat penting dalam suatu ekosistem terutama sebagai sumber penyusunan bahan organik oleh produsen primer, akan tetapi peningkatan unsur hara pada ekosistem terumbu karang dinilai justru dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan ekosistem ini. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa terumbu karang justru berkembang dengan baik pada daerah yang relatif jauh dari sumber unsur hara dan sebaliknya tidak berkembang pada daerah yang mendapat suplai unsur hara yang tinggi. Adanya sisklus nutrient yang efektif dalam ekosistem terumbu karang merupakan kunci utama tingginya produktifitas ekosistem ini walaupun jauh dari sumber nutrient. Menurut Lapointe (1997), salah satu penyebab utama terjadinya blooming alga makro pada ekosistem terumbu karang di Jamaika adalah meningkatnya unsur hara yang menyebabkan peningkatan laju pertumbuhan alga sampai pada kondisi dimana ketersediaan populasi hewan herbifora tidak sanggup lagi mengontrol kelimpahan alga ini yang pada gilirannya menyebabkan kematian karang akibat tertutup alga. Walaupun hipotesa ini mendapat kritikan dari Hughes dkk. (1999) serta Aronson dan Precht (2000), tapi dari banyak penelitian sebelumnya telah terbukti bahwa peningkatan unsur hara pada ekosistem terumbu karang baik cepat atau lambat akan menyebabkan perubahan keseimbangan (phase shift) menuju ke terumbu yang didominasi oleh alga.

Mekanisme lain yang mungkin terjadi dengan peningkatan unsur hara atau eutrofikasi pada ekosistem terumbu karang adalah semakin menurunnya populasi hewan-hewan herbifora akibat pengaruh langsung dari perubahan kualitas perairan. Dengan demikian, maka eutrofikasi ini berpeluang meningkatkan kelimpahan alga makro dari dua arah; yang pertama secara langsung meningkatkan pertumbuhan alga, dan yang kedua mengurangi konsumsi alga oleh hewan herbifora. Pengaruh eutrofikasi tidak hanya berpengaruh terhadap peningkatan kelimpahan alga makro sebagai pesaing utama hewan karang, akan tetapi juga secara langsung berpengaruh negatif terhadap fisiologi dan perkembangan hewan karang tersebut, misalnya terhadap perkembangan embrio dan planula karang (Tomascik dan Sander, 1987). Dampak lain yang juga bisa timbul adalah meningkatnya bioerosi akibat perubahan komunitas ekosistem terumbu karang (Hallock, 1988).

Dengan demikian, konsekwensi eutrofikasi sangat penting untuk diperhatikan dalam manajemen ekosistem terumbu karang, karena dampak yang ditimbulkan cukup serius baik jangka pendek lebih-lebih dalam jangka panjang. Apalagi jika hal ini ditinjau dari potensi lain ekosistem terumbu karang sebagai obyek wisata bahari, maka bisa dipastikan bahwa nilai estetika dari daerah yang terkena dampak eutrofikasi ini akan sangat berkurang atau malah mungkin dapat hilang sama sekali.

Karenanya, menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa menjaga keseimbangan unsure hara dan keseimbangan biota pada ekosistem terumbu karang merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di ekosistem terumbu karang yang sehat dan indah. Jika hal ini terus dibiarkan, bukan mustahil jika nanti sector wisata bahari akan sulit berkembang di daerah ini karena “innerbeauty” dari wisata baharinya tak elok lagi.

 

 



Terumbu karang jenis Acropora Formosa (Brown) yang ditemukan di ekosistem terumbu karang pantai desa sungai samak. Tampak sebagian karang ada yang mati karena tertutup alga (DCA)



Terumbu karang jenis Acropora Formosa (Brown) yang ditemukan di ekosistem terumbu karang pantai desa sungai samak. Tampak sebagian karang ada yang mati karena tertutup alga (DCA)



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Terumbu karang di pantai desa sungai samak Pulau Belitung - Belitong - BABEL



Foto Beberapa jenis ikan yang ditemui sedang bermain di antara terumbu karang saat pengambilan underwater foto



Foto terumbu karang yang tertutup oleh alga (Dead coral with alga)



Ibu-ibu dan anak-anak kecil yang mencari biota laut saat air laut surut. Bukti bahwa laut menyediakan pangan yang bergizi tinggi kepada manusia selama kita mampu menjaga laut kita dengan baik dan bijaksana.



Ibu-ibu dan anak-anak kecil yang mencari biota laut saat air laut surut. Bukti bahwa laut menyediakan pangan yang bergizi tinggi kepada manusia selama kita mampu menjaga laut kita dengan baik dan bijaksana.



Hasil tangkapan selama air surut. Kepiting, kerang, dan siput laut. 



Pantai di desa sungai samak kecamatan badau, Belitung - Belitong. Tampak pulau bayan dengan pantainya yang luas dan landai.


 

 

Pengamatan dilakukan pada Februari, 2009.
Menggunakan kamera canon powershot A710 IS 
Foto underwater menggunakan waterproof case WP-DC6
Ketua Tim : Indra Ambalika, S.Pi, Email : indra-ambalika[At]ubb.ac.id
Anggota : Dwi Septiawan.

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.