Terumbu Karang Pulau Pemuja Perairan Penganak, Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat

Selasa, 11 Mei 2010 Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Pemuja Penganak Jebus Kabupaten Bangka Barat. Perairan penganak terkenal sebagai kawasan penambangan timah laut yang dilakukan dengan total mining. Bagaimana tidak, di perairan ini beroperasi sekitar 25 kapal isap yang tim hitung dengan mata telanjang. Selain itu beroperasi ratusan Tambang Inkonvensional Apung (TI Apung_red). Kawasan perairan ini memang terdapat wilayah usaha penambangan (WUP) PT Timah Tbk dan sejak AMDAL terpadu tahun 2009, banyak kapal isap milik mitra PT Timah Tbk datang berbondong-bondong dari Thailand.

Pulau Pemuja terlihat jelas dari Pelabuhan Penganak Jebus sebelah barat berjarak sekitar 3,5 km dari pangkalan perahu dari Pantai Ketapang yang merupakan pangkalan TI Apung milik masyarakat. Di pantai yang berpasir putih dan bebatuan granit ini banyak berdiri pemukiman semi permanen, warung-warung yang menjajakan makanan untuk pekerja TI Apung, tempat billiard, dll. Tim menyewa perahu milik nelayan yang perahunya digunakan untuk mengantar para pekerja TI Apung. Nelayan yang membawa kami berasal dari Palembang, perahu yang digunakan pun adalah perahu “ketek” yang biasa digunakan di sungai musi untuk jasa transportasi. Nelayan ini rela berpisah dengan keluarga di Palembang karena manisnya bisnis timah di Pulau Bangka. 

Menurut informasi yang kami dapat dari penduduk, Pulau Pemuja termasuk pulau "angker". Pengunjung yang masuk ke pulau itu tidak boleh merusak tanaman dan membunuh hewan atau mengambilnya untuk dibawa pulang. Tim sangat kagum dengan cerita ini, ini adalah salahsatu bentuk kearifan lokal (local wisdom) masyarakat dalam menjaga keaslian ekosistem yang terdapat di pulau ini.

Pulau Pemuja sangat eksotis. Pulau ini dikelilingi batu-batu granit yang putih dan menjulang tinggi dan besar. Disela-sela batu terdapat pantai berpasir yang tidak terlalu panjang namun sangat indah dengan hutan yang masih alami. Pulau ini tidak terlalu luas, kami tidak mengukur luasannya namun diperkirakan hanya sekitar 4–6 hektar. Kanopi tanaman masih rindang sehingga pada bagian bawah hutan ditumbuhi lumut. Jika menyeberang dari daratan Pulau Bangka, pulau ini sebenarnya sangat dekat. Hanya sekitar 350 meter dari daratan Pulau Bangka. Namun tidak terdapat akses jalan untuk menuju daratan terdekat menuju Pulau Pemuja kecuali melewati pasir pantai. Jarak antar pulau yang sempit menyebabkan arus antara Pulau Pemuja dan Pulau Bangka cukup kuat. 

Selain memiliki ekosistem daratan yang indah, Pulau Pemuja pun dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang. Karangnya termasuk jenis karang tepi dengan ketebalan lebar karang yang bervariasi. Karang yang cukup luas berada disebelah selatan, timur dan utara pulau. Tim eksplorasi terumbu karang melakukan pengecekan terumbu karang (reef check) di sebelah selatan dan barat pulau ini. Pengecekan tutupan terumbu karang menggunakn metode line intercept transect (LIT) sepanjang 70 meter. Pengambilan data dilakukan pada jarak sekitar satu meter dari tubir karang. Ini dilakukan untuk mendapatkan hasil yang paling baik dan stabil dari kondisi terumbu karang karena berada pada kolom air yang selalu terendam oleh air laut. Hasil pengecekan sungguh sangat mengecewakan, tutupan karang hidup di sebelah selatan pulau hanya 14,54 % dengan tutupan karang mati akibat ditutupi sediment 72,39 %. Sisanya adalah tutupan alga yang didominasi oleh jenis Padina, Coralit Alga, bulu babi (Diadema sp) dan karang bleaching akibat pengaruh kenaikan suhu beberapa hari terakhir saat ekspedisi. Kondisi di sekelilingnya tak jauh berbeda. 

Sebenarnya terumbu karang di seputaran pulau sangat indah dengan keanekaragaman jenis karang yang cukup tinggi. Bahkan kami menemui Tridacna squamosa yang merupakan jenis kerang raksasa dilindungi karena keberadaannya yang semakin sedikit.

Selain dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang yang cukup luas, Pulau Pemuja juga dikelilingi oleh kapal isap dan tambang inkonvensional (TI) apung. Disekitar pulau yang eksotis dengan kearifan lokal masyarakatnya ternyata hanya mampu menjaga ekosistem darat pulau ini. Ekosistem terumbu karang yang terdapat disekitarnya tak mampu diselamatkan karena di Pulau Bangka tren penambangan timah laut sedang naik daun. Tak kurang dari dua puluh lima kapal isap terdapat di seputaran Pulau Pemuja.

Semuanya berpacu mengaduk pasir di laut untuk mengumpulkan bijih timah sebanyak-banyaknya. Dampaknya, terumbu karang yang sebenarnya sangat cantik dan alami ini tertutup oleh sediment kemudian ditumbuhi alga. Bahkan ada karang terlihat tertimbun tanah akibat sedimentasi yang sangat parah.

Disekitar Pulau Pemuja pun banyak tedapat hamparan karang yang nasibnya lebih tragis. Terumbu karang telah ditutupi sediment dengan parah dan telah ditumbuhi oleh makroalga dan corallite alga (CA). Masa pemulihan terumbu karang yang rusak oleh sedimentasi tak dapat diprediksi. Berbeda dengan kerusakan karang oleh bom, karang dapat pulih antara 10–50 tahun tergantung kualitas kerusakan. Kerusakan akibat sedimentasi telah mengubah tipe substrat yang sebelumnya pasir dan batuan karang menjadi lumpur berdebu yang halus dan gampang melayang oleh arus. Substrat ini menutup karang yang akhirnya mati dan ditumbuhi makroalga. Pemulihan karang akan sulit terjadi karena laju pertumbuhan alga jauh lebih cepat daripada laju pertumbuhan karang.

Ekspedisi kedua pulau pemuja dilakukan pada 16 September 2010. Sayangnya, kondisi perairan tidak memungkinkan untuk melakukan pengambilan data. Apalagi kapal isap telah beroperasi hanya sekitar 200 meter saja dari pulau ini. Padahal, pada ekspedisi pertama, kapal isap masih beroperasi cukup jauh dari pulau pemuja. Buangan tailing kapal isap menghasilkan sedimentasi yang sangat tinggi dengan kapasitas rata-rata sekitar 500 m3/jam. Karenanya, air laut akan menjadi keruh dan lumpur terbawa arus hingga jauh ke perairan lain disekitarnya. Visibility yang sangat rendah menyebabkan pengambilan data tidak dilakukan. pengambilan data dilakukan pada perairan di Perairan Ketap sebagai tambahan data bagi tim eksplorasi terumbu karang. Spot pengambilan data berjarak sekitar 3 km dari pulau pemuja sebelah barat. Kondisi terumbu karangnya tak jauh berbeda dengan di Pulau Pemuja.

Pulau Pemuja adalah salah satu contoh nyata bahwa timah is number one di Pulau Bangka. Kesalahannya adalah mengapa terumbu karang tersebut hidup di kawasan yang juga terkandung timah didalamnya. Di sini, kepentingan timah adalah di atas segala-galanya. Meskipun disuatu daerah terdapat ekosistem terumbu karang yang indah dan luas, namun ternyata terkandung timah juga di kawasan tersebut, maka penambangan timah akan tetap dilakukan. Acuannya adalah ada tidaknya timah, bukan ada tidaknya ekosistem terumbu karang.

Ironis, dengan penambangan laut seperti ini sebenarnya penambangan timah di laut Pulau Bangka diprediksi potensial dilakukan hingga tahun 2025. Harusnya kita belajar dari kesalahan manajemen penambangan timah di darat. Sejak tahun 1999 penambangan timah rakyat dilegalkan, pada tahun 2008/2009 penambangan darat dirasakan mulai tidak potensial lagi dilakukan karena kesulitan lokasi baru, hasil yang didapat yang semakin sedikit dan biaya operasional yang semakin tinggi. Dampaknya, ekosistem di daratan rendah dan daerah aliran sungai di Pulau Bangka terkelupas berganti kulit menjadi lapisan pasir yang menganga dan sungai-sungai yang tercemar sedimentasi dan pendangkalan super tinggi. 

Kini, ekosistem di laut pulau ini pun sedang menyusul menuju kerusakan yang tidak jauh berbeda. Jumlah kapal isap dan TI Apung terus bertambah dan hampir tak terkendali. Penambangan laut tak mengenal daerah karang yang kondisinya masih bagus ataupun kawasan wisata bahari seperti yang terjadi di Pantai Penyusuk, Pantai Tanjung Pesona dan Pantai Rebo Kabupaten Bangka Induk. 

Anehnya, dua dari empat sektor unggulan pasca timah yang akan dikembangkan di daerah ini untuk menghidupi masyarakatnya jika penambangan timah tidak potensial lagi adalah perikanan dan pariwisata (wisata bahari). Tulang punggung kedua sektor ini sebenarnya satu, ”ekosistem terumbu karang”. Berdasarkan penelitian burke et al, 2002, dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun. Karena terumbu karang yang indah dan sehat pula yang menjadi daya tarik utama turis lokal dan mancanegara datang dari jauh ke Bunaken dan Bali. Ekosistem terumbu karang yang indah dan memiliki keanekaragaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan di daerah subtropis menjadi magnet para turis mancanegara mengunjungi spot-spot karang di Indonesia.

Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, dengan kerusakan ekosistem terumbu karang yang nyata-nyata terjadi di depan mata kita setiap harinya, timbul pertanyaan "sektor apakah yang sebenarnya ingin kita siapkan untuk generasi masa depan Pulau Bangka ini pasca timah nanti?". Kita tunggu skenario dari program pemerintah daerah dalam menyelamatkan ekosistem berharga ini. Menunggu dan terus menunggu kebijakan pemerintah daerah yang lebih bijak untuk sumber daya alam yang masih dianaktirikan ini.

Tim : 

  • ekspedisi Pertama : 11 Mei 2010 : Indra Ambalika, S.Pi, Robani Juhar, S.Pi, M.Si, Hanafi Ishariyanto, S.Pi, dan Hadi Sodikin, S.Pi
  • ekspedisi kedua : 16 September 2010 : Indra Ambalika S.Pi, Farid Firdaus, S.Pi, Sasa Jurana, dan Novri


Foto Kapal Isap 1

Foto Kapal Isap 2

Karang dipesisir pulau Pemuja

FOto Pulau Pemuja Babel

Foto Saat Pengambilan data LIT

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 1

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 2

Sediment akibat penambangan timah di laut pulau pemuja 3

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.