Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB Berhasil Lakukan Transplantasi Terumbu Karang untuk Tahun ke Dua

Pada bulan Mei 2009, Laboratorium Perikanan Universitas Bangka Belitung dengan diprakarsai oleh Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB telah berhasil melakukan kegiatan transplantasi terumbu karang untuk pertama kalinya di Pantai Teluk Limau Sungailiat Kabupaten Bangka. Lokasi ini di pilih karena akses yang mudah, termasuk jenis karang tepi (fringing reef) sehingga tak perlu menyebrang. Pengamatan hasil transplantasi pada bulan oktober menunjukkan hasil yang sangat mengagumkan dengan indeks keberhasilan > 75 %. Sayangnya, saat di cek pada bulan maret 2010 setelah diterpa oleh angin barat, kondisinya banyak yang mati tercabut dari substrat. Selain itu banyak pula yang tersangkut oleh sampah. Jenis karang yang digunakan adalah karang Acropora formosa yang diambil dari Karang Batu Putih tidak jauh dari Pantai Teluk Limau Sungailiat.

Karenanya, pada tahun kedua kegiatan transplantasi terumbu karang melakukan beberapa modivikasi yaitu menambah besar dimensi substrat, menggunkaan jenis karang lifeform Acropora Digitate (ACD) yang terdapat di sekitar Pantai Teluk Limau dan membuat tempat dudukan karang transplant sehingga lebih kokoh dan stabil. Penelitian kali ini dilakukan sebanyak 100 patahan karang transplant. Hingga akhir Oktober 2010, hasil pengamatan menunjukkan hasil keberhasilan > 95%. Sebuah hasil yang sangat mengagumkan meskipun saat terakhir pengamatan, kondisi ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian sangat menyedihkan.

Dibandingkan pengamatan kondisi terumbu karang pada tahun 2007 saat Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB pertama kali melakukan reef check di perairan pantai ini, kondisi terumbu karang masih cukup baik den jernih. Saat ini, ekosistem di lokasi mulai banyak tertutup sediment akibat pengaruh penambangan timah lepas pantai yang pernah terjadi di sekitar lokasi penelitian. Kondisi ini sangat menyedihkan, mengingat syarat untama untuk melakukan kegiatan rehabilitasi terumbu karang adalah tidak ada lagi"tekanan ekologis" di lokasi penelitian. Inilah yang menjadi kesulitan tim dalam melakukan penelitian ini mengingat tidak adanya lokasi perairan di pulau Bangka yang steril dari pengaruh den ancaman penambangan timah.


Sampel Tranplantasi Terumbu Karang di Pantai Teluk Limau Sungailiat Kabupaten Bangka


Timah itu antara madu dan racun. Madu yang sebenarnya menyehatkan dapat menjadi racun jika diminum terlalu banyak den tanpa aturan yang jelas. Karenanya harus ada yang mengimbangi kegiatan penambangan dengan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang laut kita. Langkah kecil yang kami lakukan ini adalah upaya untuk menjaga keseimbangan itu. Menjaga agar laut di pulau ini tak hanya diekploitasi sebanyak-banyaknya. Tapi ada pula yang menjaga kegiatan kelestariannya. Semoga tumbuh kepedulian yang lebih baik dari pemerintah daerah, PT Timah Tbk , masyarakat dan perusahaan timah yang melakukan penambangan timah di laut lainnya agar lebih arif dadn bijaksana memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Memanfaatkan namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan nasib generasi masa depan provinsi ini pasca timah. Saat dimana timah tak lagi ditambang, laut masih tetap menjadi berkah bagi kita. amiiiiiiin

 

 


Oleh : Indra Ambalika Syari, S.Pi
Dosen Perikanan dan Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang UBB

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.