Tinjau Pulau Seliu, Rektor dan Rombongan Disambut ‘Unjuk Perasaan’

HANGAT – Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi, Warek II Prof Dr Ir Agus Hartoko dan rombongan berfose  bersama Kades, pemdes, pramuka dan mahasiswa KKN UBB, di pintu gerbang masuk Pulau Seliu, Minggu (13/08/2017) pagi. Sebelum diterima dengan hangat, rombongan disambut dengan sejumlah kejutan.  Tampak dalam gambar, Kades Seliu Sofran menggalungkan untaian bunga ke leher rektor.

PULAUSELIU, UBB --  Bangga, gembira dan haru,  bercampur-aduk,  menyelimuti kedatangan Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi dan rombongan ketika meninjau KKN UBB Angkatan ke 12 di  Pulau Seliu, Belitung,  Minggu (13/08/2017) pagi.

Pasalnya, puluhan siswa mengenakan seragam Pramuka sudah ‘menghadang’ rombongan tatkala   hendak  tiba  di  pintu  gerbang masuk pulau terselatan di Pulau Belitung itu. Mereka  ‘unjuk perasaan’   dengan membawa sejumlah kartun yang isinya sengaja disembunyikan.

 Sekitar empat meter menjelang pintu gerbang,  mereka kompak mebalikkan kartun warna merah itu  ke arah rektor dan rombongan.  Plas, terpampang susunan kata yang terangkai menjadi kalimat: “Selamat Datang Pak Rektor UBB dan Rombongan”.

Belum lagi lenyap  dari terkesima oleh kejutan itu, puluhan siswa --  belakangan diketahui berasal daria SD Negeri 28 Pulau Seliu --  meneriakkan yel-yel secara koor (bersama): “Selamat datang Pak Rektor dan rombongan... terimalah salam dari kami yang ingin maju!”, berkali-kali.

Kejutan demi kejutan  mereka bikin. Belumlah  pupus perasaan campur aduk lewat ‘unjuk perasaan’ di luar dugaan itu, tiba-tiba Kades Seliu Sofran, Ketua KKN UBB Eldy, Ketua Koperasi Bahktiar dan Ketua BPD Sumiar secara beruntun mengalungkan untaian bunga, masing-masing ke leher  Rektor UBB Muh Yusuf,  Warek II Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc, Dosen Pembimbingan Lapangan Kurniawan dan Eddy Jajang J Atmaja (Kepala UBB Press).

Merespon kejutan itu, rektor  yang  menyalami hangat tangan Kades Seliu Sofran, lantas  berkata: “Terimakasih Pak , ini awal kerjasama yang berkelanjutan antara UBB dengan pemdes dan warga Pulau Seliu yang ramah-tamah ini!”

Mendengar langsung ucapan rektor itu,  kades kemudian maju lebih dekat dan   menggenggam tangan Muh Yusuf dengan kedua tangannya erat-erat. Raut wajah kades tampak sendu,  gembira, campur haru. Ia pun lantas berkata: “Terimakasih Pak!”

Informasi tersebar di media bahwa warga Pulau Seliu ramah-tamah, dan hangat kala menerima  kunjungan tamu dari luar pulau mereka, bukan isapan jempol.  Terbukti kala rektor dan rombongan meninjau kerja mahasiswa KKN UBB di pulau itu.

“Kami selalu menerima dan menyambut tamu sebaik mungkin. Itu salah satu budaya kami,” terang Sofran di Balai Desa Pulau Seliu.

Kepada rombongan rektor, Sofran menerangkan Pulau Seliu dengan luas 1.530 hektar, dihuni 1.200 jiwa dari 367 kepala keluarga (KK). Mereka mendiami dua dusun yang memiliki delapan rukun tetangga.  Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup sebagai nelayan.

“Sumber penghidupan penduduk berasal dari sumberdaya laut.  Tapi tiap tahun  kami menghadapi masa paceklik selama tiga bulan. Terhitung sejak bulan Nopember, Desember dan Januari! Pada masa penceklik, nelayan memperbaiki jaring dan berkebun,” terang Sofran.

Rektor UBB Muh Yusuf memuji keindahan Pulau Seliu yang diberkahi pantai, laut dan hasil laut yang melimpah. Laut Pulau Seliu selain  menjadi kawasan tangkap ikan (fishing ground),  juga sekaligus  tempat labuh kapal penangkap ikan.

“Sumberdaya laut di sini luar biasa kayanya.  Baru saja saya menapakkan kaki di jetty, saya melihat dengan mata kepala sendiri di jaring  kepiting nelayan tersangkut bintang laut. Ini salah satu indikator kekayaan laut Seliu,” ujar Muh Yusuf.

Sementara itu  Agus Hartoko menilai keramahtamahan yang dipraktikkan warga Pulau Seliu  dalam menyambut setiap tamunya,  itu  merupakan modal yang sangat berharga dalam memperkuat posisi sebagai destinasi wisata nasional.

“Sambutan yang diberikan warga di sini  sungguh diluar dugaan kami.  Ini (keramahtamahan-red) salah satu modal berharga sebagai destinasi wisata,” tukas Agus Hartoko.

Menjawab keluhan Kades Sofran kalau mereka tiap tahun mengalami masa paceklik selama tiga bulan, Agus Hartoko menegaskan, disamping mengandalkan dari destinasi dan produk wisata, warga dianjurkan untuk mengembangkan budaya ikan.

“Budidaya ikan baronang dan  teripang misalnya sangat membantu ekonomi warga ketika musim paceklik maupun di luar musim itu.  Kondisi laut di sini kaya planton  baik untuk budidaya  baronang dan teripang,” jelas Agus, guru besar perikanan dan kelautan ini.

Teripang mengandung kondroitin bernilai ekonomi tinggi.  Teripang mengandung zat pelumas antartulang, menurut Agus menjadi makanan nomor satu di Singapura, Hongkong dan Malaysia.

“Begitu pula ikan Baronang, selain harganya yang tinggi, proses budidayanya pun tak rumit. Bila kita memelihara rumput laut, otomatis ikan Baronang akan datang.  Di Batam harga Ikan Baronang cukup tinggi,” ujar Agus Hartoko.

Keramahtamahan warga Seliu kembali dibuktikan dengan suguhan Tari Kimpang kepada rektor dan rombongan. Kala dijamu di Balai Desa Seliu, lima penari -- yang adalah siswa SMP Seliu --  menarikan tari penangkap ikan Kimpang itu.

Sambil menyaksikan tayangan video kerja-kerja mahasiswa KKN UBB di Pulau Seliu, rektor dan rombongan menikmati kelapa muda yang airnya dicampur gula enau (aren) dan irisan  buah Mangga.

“Rasanya enak, sedap. Pokoknya top markotop la,” terang Agus Hartoko.

Pulau Seliu selain dikenal dengan pantainya yang indah, pun  populer sebagai penghasil buah marngga dan asam kandis.    

Suatu paket lengkap: ekowisata, kuliner dan modal sosial keramahtamahan. Maka tak heran bila ada di antara rombongan mengimpresikan  Pulau Seliudengan bait lagu ‘Terlalu Manis’ karya Grup Slank:  “... Terlalu manis untuk dilupakan...”  (Eddy Jajang Jaya Atmaja)

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.