UBB dan BIG Naikkan Babel Geopark Tingkat Global

TEKEN MOU -- Foto ‘bareng’ usai teken MoU di Tanjungpandan Minggu kemarin.Tampak dalam gambar Wakil Rektor II UBB Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (kedua dari kanan), Bupati Belitung H Sahani Saleh S.Sos (tengah), Dyah Erowati, General Manager BIG (ketiga dari kiri), Dr Eng Santi Dwi Pratiwi ST MRSc (dosen ITB, paling kiri) dan wakil dari kelompok masyarakat Gunung Meramu, Belitung (paling kanan).

MERAWANG, UBB --   Universitas Bangka Belitung (UBB) bersama Belitung Island Geopark  (BIG) Minggu kemarin menandatangani Nota Kesepahaman (MoU). Kedua lembaga ini bergandeng-tangan untuk mempreservasi dan memasarkan   semua keunikan sumberdaya alam  -- termasuk  flora-fauna --  yang  ada  di Kepulauan Bangka Belitung  ketaraf  internasional mengikuti  standar Unesco.

“Betul, target kita (BIG dan UBB-red)  memang mengangkat seluruh keunikan sumberdaya alam  yang terdapat di Bangka Belitung ke tingkat  yang lebih luas: internasional atau global, sesuai dengan standar Unesco. Boleh dibilang ini lompatan milenial!” ujar Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc, Wakil Rektor II UBB, Senin (31/07/2017) pagi.

MoU antara BIG dan UBB ditandatangani  di Tanjungpandan, Belitung,  Minggu (23/07/2017) lalu.  Masing-masing oleh Dyah Erowati (General Manager BIG) dan Agus Hartoko (Warek II UBB).  Penandatanganan MoU disaksikan Bupati Belitung H Sahani Saleh S.Sos,  Dr Eng Santi Dwi Pratiwi ST MRSc (dosen ITB) dan  wakil dari kelompok masyarakat Gunung Meramu, Belitung.

Penandatanganan MoU ini sekaligus memperluas perspektif kerja BIG dan UBB, dari semula upaya dan langkah  preservasi hanya  terfokus pada  Belitung, kini mencakup ke seluruh  wilayah di Kepulauan Bangka Belitung. 

Geosite batu granit sebagai satu contoh.  Baik yang ada di Pulau Bangka maupun di Belitung, sudah  berusia ratusan tahun dan terkategori tertua di dunia.  Selain bentuknya unik,  ternyata  di dalam batu granit tersebut  terkandung  mineral yang spesifik.

Di Bangka Selatan, tepatnya di Toboali,  ternyata  ditemukan geosite unit  dengan nama Batu Belimbing.  Kajian ilmiah Batu Belimbing ini telah dilakukan oleh seorang dosen UBB yang kini sedang menyelesaikan program doktoralnya.

“Peran UBB, dalam kerjasama ini sebagai pemasok data ilmiah.  Sebagai lembaga akademis, UBB  mampu melakukan itu.  UBB punya banyak dosen yang sekaligus peneliti,” ujar Agus Hartoko.

“Semua data itu, baik biologi, geologi, maupun spasial,  diperlukan untuk mendukung geopark Bangka Belitung naik ‘kelas’  ke taraf geopark internasional atau global!,” tambah Agus Hartoko.

Pakar perikanan dan kelautan ini mengemukakan, jauh hari sebelum MoU diteken dengan BIG,  UBB secara mandiri telah melakukan  penelitian mengenai flora dan fauna yang tumbuh di daerah ini. 

“Kita (UBB-red) sudah mendata 150  jenis anggrek. Itu semua  dilakukan bersama Komunitas Pecinta Anggrek Bangka.     Anggrek itu hidup di Desa Tuing, hutan kerangas dan lokasi eks tambang timah.    Satu di antaranya adalah anggrek Hoya: anggrek khas Bangka Belitung.  Begitu pula data hewan endemik, seperti tarsius, kancil dan napu,” ujar  Agus Hartoko.

Sebelumnya dalam pertemuan  khusus dengan UBB Rabu (07/06/2017) lalu,   Dyah Erowati menegaskan posisi strategis UBB dalam kerangka mewujudkan Belitong Geopark sebagai geopark nasional dan global.

“BIG menempatkan UBB sebagai strategic partners.  Sebab,  kehadiran geopark itu  selain berfungsi sebagai konservasi dengan  melibatkan peranserta masyarakat sekitar, pun harus ada unsur edukasi dan penelitian,” ujar Dyah Erowati, General Manager BIG,  dalam pertemuan antara  tim BIG  dengan  UBB yang dipimpin Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (Warek II UBB)  di Ruang Rapat Kecil Rektorat, Rabu pekan lalu.

Mengenai  geopark itu sendiri, Dyah yang mengutip definisi Unesco  menjelaskan adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka, termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya, dimana masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

“Latarbelakang dikembangkannya geopark adalah untuk melindungi keragaman geologi yang terancam dan menjadi permasalahan nasional.  Fenomena menunjukkan banyak sumberdaya geologi yang dieksplorasi  sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan kepada masyarakat lokal,” ujar Dyah.

Disebutkan, pengembangan geopark bertujuan agar masyarakat lokal dapat secara mandiri melakukan konservasi geologi, flora dan fauna, serta budaya lokal. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, maka masyarakat sebagai sumber daya utama harus dikembangkan sehingga dapat mengelolanya untuk kesejahteraan daerah secara berkelanjutan.

“Pulau Belitung memiliki kekayaan geologi berupa batuan granit, lava bantal dan batuan metasedimen. Belitung juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna seperti Hutan Kerangas, Hutan Tanaman Obat, hewan langka Tarsius dan berbagai flora dan fauna unik lainnya,” tukas Dyah.

 Di lain sisi,  kekayaan alam geologi di Pulau Belitung juga terancam dengan kegiatan pertambangan pasir dan timah.  Selain itu keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat Belitung yang selama ini bertumpu kepada aktivitas pertambangan juga terancam mengalami kemunduran ketika sumberdaya telah habis digali.

Tim Belitong Island Geopark belum lama ini telah mengunjungi Langkawi Geopark di utara Malaysia. Kunjungan ini untuk mempelajari sejumlah aspek yang berguna untuk  mendukung pencapaian geopark Belitong kepada taraf internasional.

“Langkawi Geopark sudah sepuluh tahun terakhir   bertaraf  global.  Kita optimistis bisa ke arah itu, sebab banyak hal yang ada di Belitong tapi tidak dipunyai Langkawi Geopark,” ujar Dyah  yang memaparkan bahwa  usia bebatuan di Langkawi lebih tua dibanding Belitong.

Belitong Island Geopark (BIG) mengajak UBB melakukan penelitian di bidang geologi, pertambangan, biologi, budaya dan pariwisata di sejumlah tempat di Pulau Belitong. BIG sendiri telah mendata sejumlah “titik” yang terkategori geodiversity, geotourism dan geosite. Antara lain  granit Tanjungpandan (geodiversity), Tanjung Tinggi Sea Zone (geotourism), Batu Pepaya, Batu Belah, Batu Lumba lumba, Air Terjun Beraye, Pantai Burung Mandi, Pulau Lengkuas dan Danau Mempayak (geosite).

Untuk memeroleh status geopark nasional tidak gampang.   Salah satu syarat,  menurut Dyah, setidaknya 20 geosite yang ada di Belitong harus memiliki fungsi pendidikan.  Dalam kaitan itu ia meminta kepada  UBB untuk mengarahkan mahasiswa dan  para dosennya --  yang mengikuti  jenjang stratum 1, 2 dan 3 --  melakukan penelitian mereka di   Belitong.

“Itu harus ada kalau (Belitong Island-red) mau lulus ke level lebih tinggi lagi. Banyak objek yang bisa diteliti di Belitong. Ada hutan kerangas, geosite Bukit Lumut yang punya lumut tebal dan unik. Atau flora dan fauna, serta tambang tua  bawah tanah,” ujar Dyah.

Diakui Dyah Belitong punya keunikan sendiri dalam hal keberagaman flora dan fauna.  Di pulau itu  di antaranya terdapat hutan kerangas, hutan bakau,  monyet ekor panjang, Mentilin, Elang Dada Putih, ikan arwana.

“Sesuai syarat yang ditentukan Unesco,  juga harus  melakukan konservasi budaya.  Kami sekarang ini   sedang meneliti  keberadaan Suku Sawang,” ujar Dyah, menambahkan narasi setiap geosite, geoturism dan geodiversity  yang ada sangat diperlukan untuk memerkokoh karakter geopark.

“Termasuk pula penelitian-penelitian ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal dan media internasional,” tukas Dyah.  

 BIG belum lama ini mengundang sejumlah tur operator Perancis untuk melihat keunikan Belitung.  Menurut Dyah umumnya mereka terkesan dengan Belitong dan suka-cita mempromosikan pulau itu kepada  wisatawan Perancis.

Gunung Meramu: Kaya Tanaman Obat

Wakil Rektor II UBB  Agus Hartoko menegaskan keyakinannya Bangka Belitong Geopark mampu mencapai taraf  geopark global.  Selain kaya flora dan fauna serta geosite unik, di Belitong menurut Agus ada gunung yang dipadati oleh tanaman obat-obatan.

“Namanya Gunung Meramu, di gunung ini banyak ditumbuhi tanaman obat-obatan.  Ini sesuatu yang unik dan langka!,” ujar  Agus Hartoko.

Dikemukakan, untuk mengembangkan potensi yang ada di Bangka Belitung UBB dan BIG akan memperbanyak destinasi ekowisata dan produk-produknya, serta  akomodasi berupa ‘homestay’ di sejumlah destinasi.

“Untuk mendukung itu semua  ke arah program keberlanjutannya, kita pun  akan membangun  museum bahari dan pendidikan strata D3 bidang wisata,” kata Agus Hartoko.   (Eddy Jajang Jaya Atmaja)  

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.