UBB Kembali Toreh Sejarah, 16 Item Alat PPIDS PTN Ini Tiba

TOREH SEJARAH --  Setelah dinanti-nanti, 16 item peralatan untuk  membuat peta geospasial PPIDS UBB tiba di Kampus Terpadu UBB, Balunijuk,  Merawang, Selasa (22/08/2017) siang.  Melalui peralatan ini UBB yang empunya moto “Unggul Membangun Peradaban”  menoreh sejarah baru karena terlibat aktif mewujudkan Kebijakan Satu Peta Indonesia (KSP). 

MERAWANG, UBB --   Selasa (22/08/2017) siang merupakan hari   bersejarah bagi Universitas Bangka Belitung (UBB) .  Pasalnya 16 item peralatan penting untuk mendukung  operasional PPIDS (Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial) UBB tiba di  Kampus Terpadu UBB, Balunijuk, Merawang.

Peralatan itu -- antara lain berupa  dua unit  server, AC dan  UPS,   dengan kapasitas data satelit 24.000  Giga byte (Gb) --  merupakan    bagian penting  dari  keseriusan  pemerintah dalam  membuat peta informasi geospasial tematik (IGT),  guna mendukung Kebijakan Satu Peta (KSP) Indonesia.

“Dengan tiba dan dipasangnya ke 16 item peralatan itu,  maka tahun ini  PPIDS (Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial) UBB, yang merupakan perpanjangan tangan BIG (Badan Informasi Geospasial),  sudah bisa menghasilkan data base spasial, data satelit dan vektor.  Ini merupakan lompatan milenial bagi UBB! ,” ujar Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc (Warek II UBB), Selasa siang.

Sebagaimana diberitakan,  Ketua BIG Prof Prof Dr Hasanuddin Z  Abidin ketika   memberikan kuliah umum bertema “Penguatan Sumberdaya Manusia Informasi Geospasial Berbasis Kompetensi” di Ruang Akustik UBB pekan lalu,  menegaskan peran strategis PPIDS dalam konteks pembangunan nasional.

“PPIDS UBB merupakan mitra strategis Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk membuat peta geospasial tematik. Misalnya Babel ingin mengembangan lada putih, gahru, pariwisata dan sebagainya, harus ada peta geospasialnya,” ujar Hasanuddin.

Peta geospasial itu menurut  Guru Besar  ITB itu sangat penting. Bahkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas), ia mencontohkan,   tidak akan menyetujui apapun usulan dari pemerintah daerah apabila tidak dilengkapi dengan  peta lokus spasial -- peta lokasi (spasial) atas proyek yang diusulkan tersebut.

Tibanya 16 item peralatan PPIDS UBB di ruang tamu Rektorat UBB itu dikawal langsung oleh Pengawas Pembangunan PPIDS BIG Teguh Mulyadi. Bersama enam personel BIG lainnya, ia memeriksa satu demi satu peralatan seharga Rp 600 juta tersebut.

“Semuanya ada 16 item, antara lain dua unit server, UPS dan lain-lain.  Tapi mengenai aplikasi Palapa versi 3-nya akan dipasang unit BIG lainnya, dalam waktu dekat ini,” ujar Teguh Mulyadi seraya memberikan salinan (copy) daftar peralatan BIG untuk PPIDS UBB.

Seluruh peralatan BIG itu dikirim melalui kapal laut dan telah tiba di Pelabuhan Pangkalbalam, Senin.  Namun karena air laut masih  surut,   baru bisa dibongkar dari kapal  dan dibawa ke UBB Selasa siang.

PPIDS, menurut Teguh merupakan ‘simpul’ penting BIG di daerah. PPIDS  berada dan dikelola universitas negeri di Indonesia. 

“Tahun lalu, 2016, BIG sudah mengirim peralatan ke 15 dari 19 PPIDS di seluruh Indonesia.  Tahun ini, 2017, dari empat PPIDS,  UBB  yang pertama  menerima peralatan dari BIG,” jelas Teguh.

Di luar UBB, tiga PPDS di universitas negeri lainnya adalah Universitas Patimura (Maluku), Universitas Sriwijaya (Palembang, Sumsel) dan Universitas Sumatera Utara (Medan).

“Ketiganya akan kita kirim peralatannya dalam waktu dekat ini juga,” terang Teguh.

 Ke 16 peralatan PPIDS UBB dipasang oleh tim BIG di ruang UPT Teknologi, Informasi dan Komunikasi UBB.

“Setelah dipasang, kita akan melakukan pelatihan-pelatihan di sini (UBB),”  ujar Teguh, menambahkan semua peralatan itu  digaransi selama tiga tahun.

“Ke 16 item peralatan PPIDS itu  produksi teknologi termutahir,” ujar Teguh.

Diperoleh informasi, Koordinator PPIDS UBB  adalah  Mardiah ST MT (dosen Prodi Teknik Pertambangan).

Lompatan  Milenial

Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali meraih prestasi.  Meskipun terkategori sebagai perguruan tinggi negeri baru atau PTNB,  pemerintah telah memberi   kepercayaan penuh kepada universitas ini  untuk mengoperasikan alat-alat geospasial  sekaligus  membuat peta geospasial di Bangka Belitung.  

Kepercayaan  pemerintah  itu ditandai dengan Wakil  Rektor II Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc,  selaku Ketua PPIDS (Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial), Selasa (25/07/2017) siang  meneken  kesediaan menerima aset pemerintah --  berupa  seperangkat server dan data  basis geospasial --  di Ruang Akustik UBB.

Penandatanganan dokumen pemerintah itu disaksikan Ketua Badan Informasi Geospasial (BIG) Prof Dr Hasanuddin Z  Abidin,  sebelum ia memberikan kuliah umum bertema “Penguatan Sumberdaya Manusia Informasi Geospasial Berbasis Kompetensi”, pejabat BIG dan unsur pimpinan UBB serta perwakilan mahasiswa dari lima fakultas di UBB.

“Mewakili UBB, saya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada UBB,  meskipun usia UBB masih sangat muda.  Bagi UBB, kepercayaan ini boleh ditamsilkan sebagai lompatan milenial.  Sebab, kini dan  di masa  depan, utamanya,   kehadiran peta geospasial itu  sangat  penting dan strategis,” ujar Agus Hartoko.

BIG merupakan lembaga non kementerian,  namun berada di bawah pengawasan  langsung Presiden RI, memberi kepercayaan kepada UBB untuk membuat peta informasi geospasial tematik (IGT) guna mendukung Kebijakan Satu Peta (KSP) Indonesia.

Menurut Agus Hartoko, peta data geospasial itu mesti ada sebelum membuat atau menyusun rencana pembangunan.  Setelah peta geospasial  hadir maka rencana pembangunan akan mudah terintegrasi satu sama lainnya.

“Dalam waktu dekat ini PPIDS UBB yang bekerjasama dengan instansi lain akan membuat peta geospasial tanaman lada. Juga bisa peta geospasial terhadap  unsur-unsur pendukung  geopark Bangka Belitung dan pariwisata dan sebagainya,” tukas Agus Hartoko.  

Terhadap peta geospasial di Bangka Belitung, Hasanuddin mengemukakan pihaknya sebelum ke UBB telah bertemu dengan Pemrov Babel.  Dalam pertemuan itu ia menyarankan melalui peta geospasial tematik maka akan dapat di ‘zoom’ lokasi tanaman lada, pariwisata, pulau-pulau kecil dan distribusi kemiskinan.  

“Untuk tingkat kemiskinan misalnya, kita bisa tahu di mana lokasi warga yang dikategorikan miskin itu. Bukan cukup tahu angka atau persentasenya saja,” jelas Hasanuddin.

PPIDS UBB  lanjut Ketua BIG merupakan perpanjangan tangan BIG di daerah. PPIDS adanya di perguruan tinggi, dan sejauh ini sudah terbentuk 18 dari 35 target PPIDS di seluruh Indonesia.

Pada bagian lain kuliah umumnya, Hasanuddin mengemukakan jumlah pulau di Bangka Belitung yang telah dibakukan BIG hingga tahun 2012 sebanyak 468 pulau. Lalu, lima tahun kemudian (2017), BIG telah melakukan survei validasi dan verifikasi pulau.

“Sehingga jumlah pulau di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bertambah sebanyak 87 pulau,” ujar Hasanuddin, yang menambahkan Indonesia  menargetkan 85 peta tematik dalam konteks Kebijakan Satu Peta (KSP) yang berakhir tahun 2019.

Hasanuddin juga mengundang alumni UBB untuk bergabung menjadi karyawan BIG.  Sebab sejauh ini hanya ada satu orang  saja asal Bangka Belitung yang tercatat sebagai karyawan BIG.

Ia juga mendorong UBB untuk membuat program studi atau strata D1 dan D3 yang mencetak alumni berprofesi sebagai surveyor geospasial.

“Perlu dicatat, profesi surveyor adalah salah satu profesi yang bebas mencari kerja di semua negara ASEAN, atau Komunitas Ekonomi ASEAN.  Jangan sampai karena keterbatasan  tersedia tenaga surveyor,  untuk Bangka Belitung dan daerah lainnya di Indonesia,  surveyornya berasal dari negara jiran,” ujar Hasanuddin (Eddy Jajang Jaya Atmaja).

 

 
Universitas Bangka Belitung
Dikembangkan oleh BAPSI| Universitas Bangka Belitung.